Translate

Total Tayangan Halaman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Senin, 08 Juni 2020

Review Film Fantasy Island




Review film ini memang terlambat karena saya baru menontonnya semalam secara gratis di YouTube. Sebelumnya saya sempat menonton beberapa ulasan yang mengkritik film ini karena plotnya yang dinilai tidak masuk akal dan membingungkan. Saat itu saya curiga bukan filmnya yang buruk, cuma interpretasi penontonnya yang buruk. Setelah menonton, saya mengerti mengapa sebagian besar penonton menganggap film ini membingungkan. Sebenarnya kesalahan mereka cuma satu. Mereka menginterpretasikannya secara harafiah, sementara keseluruhan film ini adalah sebuah metafora.

Di film ini ada beberapa karakter utama, sementara karakter-karakter lainnya adalah pelengkap. Dikisahkan beberapa orang memenangkan semacam sayembara dan bisa berlibur di Fantasy Island (Pulau Fantasi) milik pasangan Tuan Roarke (Michael Peña) dan istrinya, Julia (Parisa Hitz-Henley). Mereka adalah Melanie Cole (Lucy Hale), Gwen Olsen (Maggie Q.), Patrick Sullivan (Austin Stowell), J. D. Weaver (Ryan Hansen),  dan saudara tirinya, Brax Weaver/ Tattoo (Jimmy O. Yang). 

Kelima orang ini memiliki fantasinya masing-masing. Melanie memiliki fantasi untuk membalas dendam pada Sloane Madison (Portia Doubleday), teman sekolahnya yang telah merisaknya dengan menyiramkan air dari toilet saat dia masih remaja. Hal itu adalah yang paling membekas dalam ingatan Melanie dari setiap perisakan yang diterimanya setiap hari di sekolah. Gwen memiliki fantasi untuk kembali pada saat pacarnya, Allen Chambers (Robbie Jones) melamarnya. Saat itu Gwen menolak dan menyesal. Fantasi Gwen adalah menerima lamaran Robbie dan memiliki seorang anak perempuan bernama Lila (Jeriya Benn) dari pernikahan mereka. Setelah Gwen mendapatkan fantasinya, dia memutuskan bahwa ternyata bukan Robbie dan anak perempuan mereka yang menjadi fantasinya, tapi menyelamatkan tetangga apartemennya yang meninggal karena kesalahan Gwen saat membuat teh dan lupa mengawasi sehingga kompleks apartemen mereka terbakar. Patrick memiliki  fantasi untuk  menyelamatkan ayahnya yang meninggal sebagai pahlawan perang dan menjadi tentara ketimbang polisi. Di penghujung cerita baru diketahui bahwa Gwen meminta tolong pada Patrick yang bertugas saat kebakaran di apartemennya terjadi. Patrick menolak masuk karena dia takut mati. Bagaimana pun Patrick hanya polisi, bukan petugas pemadam kebakaran. J.D. dan Tattoo sepertinya memiliki fantasi yang paling sederhana. Mereka hanya ingin berpesta dan bersenang-senang. J.D. ingin hidup dikelilingi wanita cantik dan mendapatkan pasangan seorang model. Tattoo memiliki fantasi terpendam mendapatkan pria-pria seksi. Dari sini penonton diberitahu bahwa Tattoo bahkan tak menyadari sebelumnya bahwa orientasi seksualnya berkebalikan dari J.D. Hubungan persaudaraan Tattoo-J.D. merupakan hal yang penting bagi keduanya. 

Saat mendapatkan fantasinya masing-masing, kelima orang tersebut harus berhadapan dengan kenyataan bahwa apa yang mereka impikan ternyata tidak bisa membuat mereka bahagia, bahkan mengancam nyawa mereka. Contohnya, Melanie tadinya menikmati menyiksa Sloane karena mengira hal itu hanya hologram. Saat menyadari bahwa Sloane asli yang disiksa oleh Dr. Torture (Ian Roberts), Melanie justru balik melawan dan menyelamatkan Sloane sebelum dibedah oleh Dr. Torture. 

Di Pulau Fantasi, orang-orang yang tadinya sudah terbunuh bisa hidup kembali. Meskipun Melanie mengatakan bahwa Pulau Fantasi adalah sebuah skenario besar pembalasan dendamnya karena orang yang meninggal di apartemen Gwen adalah Nick Taylor (Evan Evagora), kekasih Melanie; sebenarnya Pulau Fantasi adalah skenario "what if" (bagaimana jika). Bagaimana jika Melanie berhasil membalaskan dendamnya pada Sloane, perisaknya? Bagaimana jika Gwen tidak lalai saat membuat teh dan apartemennya tidak terbakar? Bagaimana jika ayah Patrick tidak meninggal dan bisa mendidiknya untuk berani menempuh resiko demi menjadi pahlawan sehingga Nick tidak meninggal? Bagaimana jika J.D. mendapatkan model sebagai pasangannya dan bagaimana jika Tattoo dengan terang-terangan mengungkapkan identitas seksualnya? 

Petunjuk paling gamblang yang mengungkap rasa sakit setiap pemenang sayembara di Pulau Fantasi ini adalah saat Gwen akan memasuki restoran, di langit-langit yang dilewatinya mengucur darah. Darah di sini adalah simbolisasi dari penderitaan dan rasa sakit akibat penyesalan. Di akhir film, Sloane dan Gwen berhasil berada di dalam pesawat yang membawa mereka meninggalkan Pulau Fantasi. Mengapa mereka berdua dengan Tuan Roarke sebagai pilot dan J.D. sebagai co pilot berhasil meninggalkan pulau, sementara  yang lain tidak? Sloane menyatakan penyesalan atas perbuatannya merisak Melanie dan bahkan mengkhianati suaminya sendiri. Dia memutuskan untuk berhenti menjadi Sloane yang kejam dan berniat memperbaiki hubungannya dengan suaminya. Gwen akhirnya memaafkan dirinya sendiri karena sudah menyebabkan kebakaran yang menewaskan Nick. Meski dia kembali ke peristiwa kebakaran dan berusaha menyelamatkan Nick, takdir memang menggariskan Nick untuk meninggal. Tattoo memutuskan untuk tinggal di Pulau Fantasi  demi J.D. yang terbunuh bisa hidup kembali. Jelas bahwa Tattoo lebih  mementingkan persahabatannya dengan J.D. ketimbang dirinya sendiri. J.D. berhasil meninggalkan Pulau Fantasi sebagai copilot setelah berdamai dengan kenyataan bahwa  kalaupun ada model yang mau menjadi pasangannya, hal itu lebih mungkin karena kekayaannya, bukan karena cinta, sebab saat para penjahat yang dikomandoi oleh Devil Face (Kim Coates) ingin menyerang mereka, Chastity (Charlotte McKinney), pacar modelnya dan teman-temannya memilih meninggalkan J.D. dan sama sekali tidak  mencemaskan nyawanya. Mereka memilih untuk menyelamatkan nyawa mereka sendiri. Jadi, terbunuhnya setiap karakter di film ini sebenarnya ingin mengungkapkan kondisi "die inside" (ada yang mati/hilang di dalam jiwa). Mereka yang bertahan hidup atau hidup kembali adalah mereka yang sudah menyesali kesalahannya, berdamai dengan diri sendiri, dan memaafkan diri mereka. Misalnya saja Gwen yang menolak lamaran kekasihnya karena merasa tidak pantas menjadi isteri dan ibu karena tidak cukup bertanggungjawab sehingga menyebabkan kebakaran dan terbunuhnya Nick akibat kelalaiannya saat menyeduh teh. Pesan moral yang ingin disampaikan dalam Fantasi Island adalah berdamai dengan diri sendiri. Tanpa menyesali kesalahan mereka, berniat mengubah diri sendiri menjadi pribadi baru yang lebih baik, memaafkan diri sendiri atas semua yang terjadi di masa lalu, mereka selamanya akan berada di Pulau Fantasi seperti Tattoo, Tuan Roarke, dan karakter-karakter lain yang masih berada di pulau itu. Mereka masih menghibur diri dalam skenario "bagaimana jika" atau tetap terpuruk dalam kondisi depresi yang disimbolisasikan dengan terbunuhnya karakter Patrick atau Melanie.  

Sepanjang film setiap adegan diiringi dengan musik, di bagian akhirnya suara musiknya begitu dominan sampai dialog kunci antara pemainnya nyaris tak terdengar. Mengingat saya hanya menonton gratis dan tanpa teks, ada beberapa dialog yang tak dapat saya tangkap seluruhnya. Secara keseluruhan, film ini memiliki plot yang lebih sederhana ketimbang The Turning yang kondisi psikologis para karakternya lebih kompleks dari karakter-karakter di film ini. Bagian yang menurut saya jenius adalah penggambaran bagaimana Tuan Roarke menjadi pilot yang membawa dua tamunya keluar dari Pulau Fantasi, tapi pada saat yang bersamaan dia tetap berada di pulau bersama Tattoo.  Menurut penafsiran saya, Tuan Roarke adalah seorang yang tetap menderita kehilangan setelah kematian Julia, tapi pada saat yang sama dia membantu para tamunya untuk berdamai dengan masa lalu mereka, sehingga dapat diasumsikan bahwa Tuan Roarke sudah berdamai dengan kenyataan bahwa istrinya sudah meninggal dan dia melanjutkan hidup dengan menolong para tamunya. Asumsi saya, resort yang dimiliki oleh Tuan Roarke mungkin semacam klinik psikologis yang memberikan terapi. Julia juga digambarkan menolong Gwen dari kebakaran di apartemennya, mungkin adalah sebuah simbolisasi bahwa meskipun Julia memiliki masalah akibat penyakit yang dideritanya (tidak jelas apa penyakit Julia, tapi dalam beberapa adegan Julia digambarkan batuk darah), tapi Julia sebelum meninggal tetap berusaha menolong Gwen. Akting para pemainnya cukup mewakili karakter masing-masing. Buat saya pribadi sebagai penggemar serial Pretty Little Liars, penampilan Lucy Hale sebagai Melanie menjadi daya tarik tersendiri.

Tidak ada komentar: