Translate

Total Tayangan Halaman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Selasa, 19 Februari 2019

Resensi Film Isabelle

Film garapan sutradara Rob Heydon dari naskah yang ditulis oleh Donald Martin ini berkisah tentang pasangan Kane, Matt (Adam Brody) dan Larissa (Amanda Crew) yang baru saja pindah ke rumah baru mereka yang indah. Mereka bertetangga dengan Ann Pelway (Sheila McCarthy) dengan anak gadisnya yang bisu dan lumpuh, Isabelle (Zoe Belkin). 

Kebahagiaan Matt-Larissa menjelang kelahiran anak pertama mereka pun terenggut saat Larissa mengalami pendarahan dan bayinya tak berhasil diselamatkan. Kesedihan Larissa berujung pada menyalahkan Matt. Apalagi pasca kematian bayinya Larissa mulai mendengar tangis bayi dan berdelusi melihat bayinya menangis di boks tempatnya terbaring. Pada kenyataannya, Larissa menimang boneka beruang yang disiapkan untuk menghias kamar bayinya. 

Mencemaskan kondisi istrinya, Matt membawa Larissa berobat kepada terapis. Sayangnya kondisi kejiwaan Larissa semakin memburuk karena Isabelle terus mengawasi gerak-gerik Larissa dari jendela kamarnya sepanjang hari. Bahkan Larissa juga merasa ada seseorang menyelinap masuk ke dalam rumahnya. Belakangan Larissa menyadari Isabelle yang memasuki rumahnya, bahkan berbaring di ranjang di samping Matt. Matt tentu tak percaya karena Isabelle lumpuh dan dia selalu duduk di jendela di loteng kamarnya. Apalagi hanya Larissa yang mendengar suara tangis bayi dan mencium bau busuk. Matt sama sekali tidak mendengar, melihat, atau mencium semua yang dikatakan Larissa. Matt berusaha bersabar menghadapi Larissa. 

Sadar pertolongan medis tak kunjung membuat kondisi Larissa membaik, Matt mulai memikirkan pertolongan spiritual dari Romo Lopez (Dayo Ade) yang meyakinkan Matt bahwa Larissa kerasukan sebab Larissa sempat meninggal selama semenit akibat eklampsia (serangan berupa kejang atau koma pada wanita hamil) dan mengaku melihat suatu makhluk menariknya ke dalam api saat dia meninggal. 

Matt yang sebelumnya meminta bantuan Romo Lopez kemudian berubah pikiran dan memilih menghubungi iparnya, Jessica (Krista Bridges) yang membawa Larissa menemui Pedro (Michael Miranda), penasihat spiritual yang membantu Larissa merelakan kematian bayinya. Larissa juga diperingatkan oleh Pedro bahwa ada arwah yang ingin merasuki dirinya karena saat Larissa meninggal dia telah melewati pintu gerbang kematian, sehingga menarik arwah untuk mengincar Larissa. Meski merasa lebih baik, kesedihan akibat kehilangan bayinya membuat Larissa tidak memiliki semangat hidup. Situasinya semakin parah saat Isabelle muncul di dalam kamarnya dan membuat Larissa sangat ketakutan. Isabelle bisa mendadak menghilang. Puncaknya Larissa memergoki Isabelle mengenakan gaun pengantin Larissa saat dulu menikahi Matt. Saat Larissa yang ketakutan menembak Isabelle, yang tersisa hanya gaun pengantinnya, tapi Isabelle lenyap begitu saja.

Saat Matt pulang dan menemukan Larissa dalam keadaan terguncang, dia terpaksa menemui Ann untuk memperingatkan Isabelle  agar tidak mengintai Larissa sehingga membuatnya ketakutan. Tak mendapat jawaban saat mengetuk pintu rumah, Matt memutuskan untuk menerobos masuk. Sambil terus memanggil Ann, Matt naik ke loteng. Matt segera mencium bau busuk, tapi terus masuk ke kamar Isabelle. Di dalam kamar, Matt terkejut menemukan jasad Isabelle. Matt pun segera menghubungi polisi. Matt lalu kembali ke rumahnya dan sama sekali tak menyadari bahwa arwah Isabelle telah mengambilalih tubuh Larissa, sementara  Larissa yang asli menggantikan Isabelle duduk di kursi rodanya di dekat jendela. 

Tak lama, Matt melihat Ann pulang dan segera menelepon polisi yang memang sedang dicari karena jasad Isabelle yang ditemukan dalam posisi tergantung. Isabelle jelas dibunuh, bukan meninggal secara wajar. Matt sangat terkejut saat polisi memberitahunya bahwa Matt pasti salah lihat karena jasad Ann baru saja ditemukan di mobilnya. Pada saat itu Matt baru sadar bahwa yang bersama dengannya bukan Larissa, tapi arwah Isabelle yang lalu berusaha menyerang Matt. Sementara itu arwah Ann yang sengaja bunuh diri untuk menemani Isabelle mengira putrinya masih menghantui kamar. Baik arwah Ann maupun Larissa sama-sama terkejut. Ann pun minta maaf pada Larissa karena Isabelle sudah menyabotase raganya.

Sebelumnya, Isabelle diketahui meninggal karena dikorbankan di dalam ritual kepada setan. Saat kematian Isabelle bersamaan dengan hari kepindahan Matt-Larissa dan bayi mereka juga meninggal karena Isabelle. Ann yang menyesal hanya dapat menghukum dirinya dengan melukai kedua telapak tangannya, sadar bahwa doa-doanya tidak bisa mengubah keadaan. Isabelle sudah telanjur berubah menjadi arwah penasaran.

Matt berhasil meloloskan diri dari arwah Isabelle dan menemukan Larissa di kursi roda. Teringat perkataan Pedro yang sempat ditemui Matt tanpa kehadiran Larissa, Matt terpaksa mencekik Larissa untuk mengembalikan Larissa ke pintu gerbang kematian. Dia terus meminta Larissa untuk memilih hidup dan tidak menyusul bayi mereka yang sudah meninggal. Aksi Matt dihalangi oleh polisi yang sudah menyerbu masuk ke kamar Isabelle. Adegan lalu berganti ke Larissa yang mengalami eklampsia di ruang bersalin. Dokter memberitahu Matt bahwa Larissa sempat meninggal selama semenit. Adegan berikutnya memperlihatkan Matt dan Larissa membawa pulang bayi mereka. Saat akan memasuki rumah, Larissa sempat melihat ke arwah Isabelle yang mengintai mereka dari jendela kamarnya.

Film ini sukses membangun suasana mencekam sejak di menit pertama. Nyanyian yang membuat merinding disertai dengan suara napas mengerikan, layar yang gelap, kenop pintu di kamar yang setengah terbuka cukup memberitahu penonton bahwa film ini bergenre horor; namun untuk kategori horor, film ini jelas film horor yang depresif. Penonton dibawa memasuki depresi yang dirasakan Larissa saat kehilangan bayinya dan terus mendengar tangis anaknya dan melihatnya berada di boks. Penonton semakin dibuat depresi dengan suara musik yang mencekam dan mengagetkan. Penataan musik jelas memberikan andil besar untuk membangun suasana mencekam di film ini. Akhir film ini sendiri seperti menawarkan dua opsi: 1) Larissa dan Matt lalu melanjutkan hidup dan berhasil memiliki anak kedua mereka 2) Larissa kembali ke pintu gerbang kematian dan berhasil membalikkan keadaan sehingga baik dia maupun bayinya selamat. 

Secara keseluruhan, film ini cukup menjengkelkan. Saya sendiri sedikit bersimpati dengan karakter Isabelle yang naas. Terlahir bisu dan lumpuh, orang tuanya tidak memberinya pertolongan yang dia butuhkan, justru menempatkannya di kamarnya seumur hidupnya. Tidak ada informasi yang jelas apakah Isabelle pernah bersekolah, bisa membaca dan menulis atau tidak, dan apakah sejak lahir dia sudah disekap di lotengnya sampai hari dia dibunuh dalam ritual sesat yang dilakukan oleh orang tuanya sendiri. Karakter Ann sendiri sangat membingungkan. Ann bisa mengendarai mobil, tapi gaya berpakaiannya seperti perempuan di zaman Victoria, dan dia juga mendandani Isabelle dengan gaun putih panjang yang terlihat kuno. Ann membaca kitab suci dan berdoa, tapi dia juga mengorbankan Isabelle dalam ritual. Entah karena Ann begitu primitif atau begitu bodoh, dia tidak membawa Isabelle ke sekolah khusus, tapi menyekapnya di loteng kamarnya. Alih-alih memberi pendidikan kepada Isabelle agar dia bisa eksis sekalipun bisu dan lumpuh, Ann justru membunuhnya dalam ritual? 

Helen Keller bisu, buta, sekaligus tuli, dan sekalipun saat kecil juga sangat pemarah karena frustasi dengan kondisinya, tapi dengan pendidikan dari guru-gurunya, dia menjadi salah satu perempuan paling inspiratif yang pernah hidup di dunia ini. Isabelle hanya bisu dan lumpuh. Dia tidak buta dan tuli. Mengapa Ann tidak memberinya buku-buku bagus yang menyemangatinya ketimbang seharian mengintai orang dari jendela kamarnya? Mengapa Ann tidak memberinya radio atau piringan hitam supaya Isabelle terhibur? Kalau pun Isabelle tidak bisa berdansa karena lumpuh, setidaknya dia bisa bertepuk tangan atau menggoyangkan kepala. Mengapa pula Ann menempatkan Isabelle di loteng? Kenapa tidak membawanya berjemur di halaman rumah dan menghirup aroma bunga? Tak cukup menyekapnya selama lebih dari dua puluh tahun, dia harus membunuh Isabelle juga di dalam ritual sesat? Tak heran Isabelle begitu marah. 

Meski begitu, kalau mau merasuki tubuh manusia, ketimbang Larissa, seharusnya Isabelle merasuki ibunya saja. Toh ibunya memang berhutang padanya karena sudah membunuhnya. Ketimbang menakutkan, film ini sebenarnya menjengkelkan. Satu-satunya yang membuat penonton merinding adalah penataan musiknya.

 Jadi, apakah Isabelle jahat? Menurut saya, Ann jauh lebih jahat. Entah jahatnya karena terbelakang cara berpikirnya atau karena dungu, tetap saja dia karakter paling menjengkelkan di film ini. Untunglah kejengkelan ini sedikit teredam dengan akting Adam Brody. Bagi yang familiar dengan serial The OC pasti sudah tidak awam dengan akting Brody sebagai Seth Cohen. Di film ini terlihat transformasi Brody dari karakter remaja di The OC menjadi pria dewasa sebagai Matt Kane.

Tidak ada komentar: