Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Selasa, 08 Agustus 2017

Kompetitif, Namun Sportif

Saya tidak pernah benar-benar menyadari sebelumnya: saya ini ternyata seorang yang lumayan kompetitif. Saya ingin menang, bosan menjadi pecundang. Namun, saya tidak ingin menjadi orang yang dangkal. Jika saya berlomba dalam suatu hal, dan orang lain yang menang, saya tidak mau usil berkomentar bahwa orang itu tidak layak menang. Saya memilih bersikap pintar. Mempelajari kelebihan apa yang membuatnya menang. Dan dengan tulus belajar mengucapkan selamat tanpa perasaan dengki atau iri.

Mengutip dialog dalam film Midnight in Paris, para penulis itu kompetitif :

Hemingway: Writers are competitive. 
Gil: I’m not gonna be competitive with you. 
Hemingway: You’re too self-effacing. It’s not manly. If you’re a writer, declare yourself the best writer. 

Dan meski saya tidak tahu, apakah dialog film di atas hanya rekaan atau mungkin pernah diucapkan sungguhan oleh Ernest Hemingway semasa hidupnya dan lalu dikutip di film ini; tapi saya setuju bahwa sebagai penulis, mentalitas kita harus memastikan diri sebagai penulis terbaik. Dan maksud saya, bukan ngawur saja menganggap tulisan sendiri sangat bagus, tapi kita membentuk diri sendiri menjadi begitu. Tentu, siapa yang benar-benar tahu bagaimana caranya? Bukankah W. Somerset Maugham berkata, "There are three rules for writing a novel. Unfortunately, no one knows what they are." ? Ya, saya tahu penulis bukan melulu penulis novel saja. Tapi, yang saya maksudkan, siapa yang benar-benar tahu cara menulis yang paling tepat? Itu maksud saya dengan meminjam perkataan Maugham. 

Salah satu tips menulis yang saya dapat adalah dengan banyak membaca. Dengan membandingkan tulisan sendiri dengan tulisan orang lain, menurut saya memiliki dua dampak, karena tergantung dengan tulisan siapa kita akan membandingkannya. Jika saya membandingkan tulisan "amatir" saya dengan yang setara, mungkin saya bisa sombong dan merasa tulisan saya lebih baik; atau merasa heran tulisan yang sepertinya tidak lebih bagus dari saya, mengapa ternyata bisa terpilih atau menang ini dan itu? Itu sebabnya, sikap sportif harus terjaga. Jangan apriori dalam membandingkan tulisan sendiri! Lalu, jika saya membandingkan tulisan dengan penulis yang memang sudah terbukti bermutu tinggi, seperti para sastrawan atau penulis ternama, akibatnya saya mungkin bisa kecil hati karena merasa tidak sanggup bersaing dengan mereka.

Lagi-lagi mengutip dialog dalam film Midnight in Paris :

Ernest Hemingway: If it's bad, I'll hate it because I hate bad writing, and if it's good, I'll be envious and hate all the more. You don't want the opinion of another writer.

Ya, seorang penulis entah cuma setitik debu atau sebongkah batu, tentu memiliki egonya masing-masing. Siapa yang betul-betul suka kritik? Siapa pula yang benar-benar peduli pendapat penulis lain? Dan saran atau tips menulis yang cocok untuk penulis A belum tentu cocok diberlakukan untuk penulis B. Pada akhirnya, ini bukan soal benar atau salah, tapi lebih ke soal selera. Dan pada akhirnya, saya setuju dengan Maugham. Kita harus mengambil cara yang paling sesuai dengan kita.

Di antara episode-episode kebingungan saya, saya menemukan : ketimbang membaca puisi-puisi yang biasa-biasa saja dan tidak terlalu menginspirasi saya, saya memutuskan untuk menolong diri sendiri dengan mulai membaca 500 puisi teratas yang saya temukan di www.poemhunter.com dan mungkin mulai membaca kumpulan puisi dari para penyair yang namanya tertera dalam daftar 500 puisi teratas itu. Sejauh ini, karena masih kesulitan mengatur waktu, saya baru sempat membaca sebuah puisi yang ditulis oleh Maya Angelou yang berjudul Phenomenal Woman yang rimanya sangat catchy, juga isinya menawan hati. Hari ini saya juga menyempatkan diri membaca beberapa cerita pendek yang ditulis oleh Guy de Maupassant dari buku kumpulan cerpen berjudul Mademoiselle Fifi.

Kesimpulan saya : kompetitif boleh saja, namun sportivitas harus tetap terjaga.

Tidak ada komentar: