Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Sabtu, 01 Juli 2017

Mencari Tuhan di Luar Kolam

Kita semestinya diajar tidak menunggu inspirasi untuk mulai melakukan sesuatu. Tindakan senantiasa menghasilkan inspirasi. Sedangkan inspirasi jarang menghasilkan tindakan. - Frank Tibolt

Ini hari pertama di bulan Juli 2017. Hari Sabtu yang kulewatkan dengan melewatkan sebuah kebaktian yang tidak ingin kuhadiri. Lama-kelamaan menjenuhkan. Hanya segelintir yang masih bersedia menghadiri. Dan datang lebih karena kewajiban, ketimbang kesukaan. Aku lelah mendengarkan teori tentang bagaimana harus menjadi rohani. Aku bukan pecinta teori; aku suka yang serba pasti. Aku tak suka jika manusia hanya pandai bicara, tapi pandir dalam bertindak. Aku tak suka tipe perencana, tapi alpa dalam menjadi pelaksana.

Jadi, aku sembunyi di dalam kamarku, sarangku, seperti laba-laba menenun jaring-jaringnya. Setelah sarapan pagi yang kesiangan, aku membaca. Usai membaca, kini aku menuliskan pikiran-pikiran tergelapku, yang jika kukabarkan kepada seorang saja dari para pembicara dan perencana itu, yang selalu lupa dan alpa, bagaimana bertindak dan menjadi pelaksana, maka aku pasti dicekoki dengan ribuan petuah dan tatap mata yang menghunjam. Mungkin, jika di dalam film horor, aku sudah disembur dengan air suci dan salib akan mulai diacung-acungkan padaku.

Aku tidak pernah menyalahkan Tuhan, mengapa membiarkan orang-orang yang bagai duplikasi segerombolan Farisi dan ahli Taurat dibiarkan nyaman berkoar-koar tentang menjadi rohani. Bagiku, segala sesuatu yang salah pasti oknumnya, bukan wadahnya. Aku merasa seperti orang buta yang terlahir buta sejak lahirnya, yang bertemu Tuhan bukan di sinagoga. Mendapatkan kesembuhan, lalu dijejali pertanyaan. Aku merasa hidup di zaman Zakheus, di mana para pemungut cukai dianggap tidak layak berada di Bait Allah. Seolah hanya orang suci yang berhak mendapatkan Tuhan.

Bukankah orang sakit yang memerlukan Tabib? Tidakkah orang-orang berdosa berhak disembuhkan dari penyakit dosa yang menggerogoti? Bukankah banyak domba hilang, mirip dengan orang di tepi kolam Betesda, yang sudah 38 tahun sakit dan memerlukan seseorang memapahnya segera masuk kolam begitu guncangan pertama reda, supaya bisa disembuhkan dari penyakitnya? Dan di manakah orang yang memapahnya? Bukankah tidak ada? Kesembuhan tidak didapat dari nyemplung ke kolam. Dia bertemu Tuhan dan beroleh kesembuhan di luar kolam.

Aku berada di luar kolam. Dan semoga aku bertemu Tuhan. Aku di luar kolam, dan semoga aku dan sesama pesakitan, bisa sama-sama mendapatkan kesembuhan, dan Tuhan, tanpa harus nyemplung ke kolam yang begitu didewa-dewakan. Yang mencapainya harus berebutan, dan ditunggu seharian, tanpa kepastian kapan lagi akan diguncangkan, tanpa jadwal yang sudah lebih dulu ditetapkan. Dan nyemplungnya pun harus duluan.

Ingatkan aku, jika aku sembuh nanti, berikan aku tenaga, juga hati, menceburkan siapapun lebih dulu ke dalam kolam itu, begitu selesai diguncangkan. Tapi jika tak keburu, mari kita sama-sama mencari Tuhan, di luar kolam. 

Tidak ada komentar: