Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Senin, 24 Juli 2017

Balada Nasi Goreng


Menjadi seseorang yang tidak menyukai aktivitas memasak, hal itu sungguh sebuah pergulatan untuk memerangi semua perasaan antipati di dalam diri. Seperti hari ini. Saya sedang ingin makan nasi goreng untuk makan malam. Dan di lemari masih tersisa dua bungkus bumbu nasi goreng siap saji. Maka saya mencoba memasak sendiri ketimbang merepotkan ibu saya yang tidak selalu sudi direpotkan. Sebab ibu saya adalah ibu yang nyata, bukan ibu sempurna seperti dalam film drama keluarga. Lagi pula, ibu saya belum kembali dari bepergian, dan menunggunya juga hanya membuat saya kelaparan. Ditambah, nasi goreng belum tentu dibuatkan.

Setelah mencari letak mentega dan menyendokkan secukupnya di atas kuali, saya lalu mengambil sebutir telur dan meletakkannya di sebelah kompor. Sementara saya mengosongkan sisa nasi yang tinggal sedikit (ke piring) dari rice cooker yang stekernya sudah saya cabut, menggunting kemasan supaya bumbunya lebih mudah dikeluarkan, kini saya bersiap menyalakan kompor untuk melelehkan mentega. Eh, tapi di mana telurnya? Astaga, saya tidak menyadari sebelumnya, ternyata sebutir telur yang saya letakkan di sebelah kompor dengan sukses menggelinding dan memecahkan dirinya di lantai dapur. Saya jadi punya pekerjaan tambahan memunguti kulitnya dan membuangnya ke tempat sampah. 

Saya terpaksa mengambil sebutir telur lagi dari kulkas. Setelah melelehkan mentega dan memasukkan bumbu, memecahkan telur dan mengaduknya jadi satu, masih harus mengecilkan api di kompor. Berhubung jarang memasak (belum tentu terjadi dalam satu purnama), saya malah salah mematikan kompornya, dihidupkan lagi, mencemplungkan nasi ke wajan, mengaduk-aduknya dengan tangan agak kepanasan, mengecilkan api di kompor. Kali ini berhasil tanpa membuat kompor mati sama sekali. Dan setelah mengaduk berkali-kali sambil menahan panasnya api, akhirnya nasi goreng matang juga dan siap dimakan. Ditemani dua buah bakwan udang sisa lauk tadi pagi; jadi juga saya menyantap nasi goreng sesuai keinginan. Dalam hati membatin, masih enak nasi goreng buatan mas pedagang yang kerap nongkrong di pinggir jalan. 

Tidak ada komentar: