Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Rabu, 05 Juli 2017

Antara Rencana dan Realita

Tadinya saya berencana, setelah Juni usai, saya akan meneruskan menulis setiap hari. Nyatanya, saya hanya menulis di hari pertama. Keesokannya hingga hari keempat, saya sibuk memindahkan koleksi puisi saya yang saya tulis saat remaja dulu hingga kira-kira usia saya 20-an awal ke platform yang saya ikuti. Tentu saja, saya juga menyadari, sampai kini pun puisi saya belum lagi sehebat buatan para penyair yang saya kagumi. Bedanya, tentu jelas sekali. Jika konon, Chairil bisa memikirkan sebuah kata saja sampai berhari-hari, saya menulis puisi tidak sampai setengah hari. Mengenai kualitas, ya jangan dibandingkan.

Setelah sibuk dengan puisi, saya lalu terobsesi memindahkan tulisan saya berupa prosa (novel pendek dan cerpen), lagi-lagi ke platform. Tulisan yang tidak seberapa saya banggakan. Saya menulisnya bertahun-tahun yang lalu, saat saya menulis hanya sekadar kesukaan, dikerjakan sekadar cepat selesai, supaya bisa lekas dikirim, baik ke penerbit atau majalah yang dilombakan. Sebenarnya, sebagian besar (kalau tidak semuanya) adalah rejected writings. Tulisan yang memang sudah ditolak oleh penerbit dan tidak memenangkan lomba.

Kadang, saya merasa ambigu, antara idealisme dan selera pasar. Sejak dulu, cerita percintaan yang banyak diburu. Dan, mau tak mau, ya harus menulis yang sejenis itu. Masalahnya, mimpi saya adalah menerbitkan antologi puisi, bukan sejenis novel kacangan yang banyak diminati.

Saya memang serba salah. Tidak suka menulis yang manis-manis. Dibuat manis pun, ternyata tidak cukup manis juga untuk disesuaikan dengan selera pasar. Sejujurnya, meski penyuka happy ending, sampai sekarang saya masih tidak tahu bagaimana menulis dengan akhir memuaskan, tanpa membuat kisahnya jadi terkesan picisan. Konon (ini menurut opini sahabat saya), sebuah kisah cinta semakin tragis dan miris, justru semakin dianggap romantis dan (agak berbobot). Ya, saya pun mencoba mengikuti sarannya. Jika dulu, saya menulis dengan ending bahagia yang mungkin agak dipaksa, sekarang saya cenderung membuat cerita tentang perempuan nelangsa yang kurang beruntung dalam percintaan, dan tak tahu kapan menjelang bahagia (saya mendadak teringat novel Waiting to Exhale); dan sangat bergantung kepada rima, sambil pura-pura menguasai sastra, sambil berdelusi saya bisa menulis sesadis Shakespeare membunuhi Romeo dan Juliet sekaligus, atau ... Ya, saya tidak kelingan (ingat) mana lagi yang endingnya tragis. O ya, Wuthering Heights tragis juga. Ya, saya penyuka happy ending. Sesadis-sadisnya saya, tokoh utamanya tidak pernah saya bunuh. Maafkanlah kepengecutan saya, duhai Shakespeare, meski sudah engkau beri contoh, paling maksimal satu-dua saja karakter yang saya bantai. Kalau karakter antagonis mungkin tidak masalah mati sebanyak-banyaknya, tapi yang protagonis cukup satu saja, dan pastinya bukan tokoh utamanya.

Jalan masih panjang, bagai tak ada ujung (Duh, kenapa ingat Iwan Simatupang?). Perjalanan masih jauh untuk menelurkan masterpiece; jangan mimpi langsung bestsellers. Lupakan royalti, follower saja susah dikumpulkan. Pada akhirnya, makin lama makin ambigu, makin lama makin dungu. Saya makin kehilangan arah. Tidak tahu bagaimana harus fokus. Pada akhirnya, saya tetap saja lebih suka (sok) sastra. Lebih suka menulis apa adanya. Antara imajinasi dan reality, saya ternyata paling lancar menulis yang kedua. Dan paling merasa nyaman menyatakan opini saya.

Ketimbang (sok) menulis chicklit, saya ternyata lebih suka (sok) menulis sastra. Dan saya bertanya-tanya, di platform itu, mengapa tidak ada genre sastra???

Tidak ada komentar: