Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Minggu, 04 Juni 2017

Review Novel "Twenties Girl"

Novel berjudul asli "Twenties Girl" dan diterbitkan di Indonesia dengan judul "Gadis Charleston" ini ditulis oleh Sophie Kinsella. Menceritakan tentang Lara Lington yang keluar dari pekerjaan sebelumnya dan menghabiskan tabungannya untuk membuka usaha headhunter dengan temannya, Natalie yang ternyata bukan seorang teman yang baik; meninggalkan pekerjaannya begitu saja untuk berlibur ke Goa dengan kekasih barunya, sementara Lara baru saja putus dari pacarnya, Josh. 

Hidup di bawah bayang-bayang pamannya, William "Bill" Lington, pemilik kedai kopi Lington (Starbuck-nya Inggris), pembicara yang terkenal dengan filosofi bisnisnya, Two Little Coins (konon dengan bekal 2 koin recehan, Bill berhasil membangun bisnis besarnya), ayah dari Diamante, putri remajanya yang memiliki label pakaian pribadi sebagai bisnisnya, Lara dan keluarganya tentu bukan siapa-siapa dibandingkan dengan mereka. 

Tapi, mereka semua terpaksa duduk bersama dalam satu ruangan ketika bibi ayahnya, Sadie Lancaster yang berusia 105 tahun meninggal dunia. Tak seorang pun dari mereka yang mengetahui atau pun cukup peduli dengan keberadaan Sadie, yang semasa hidupya tinggal di panti jompo Fairside Nursing Home. Dengan hanya ala kadarnya, mereka bermaksud mengkremasi jenazah Sadie, sampai hantu Sadie yang berwujud gadis berusia 23 tahun menghantui Lara saat proses kremasi. Hantu Sadie menuntut Lara membantu mencarikan kalung kesayangannya, sebuah kalung indah dengan liontin capung dengan manik-manik yang terbuat dari berlian imitasi. 

Karena desakan Sadie yang berteriak-teriak terus, Lara, satu-satunya yang dapat melihat dan mendengar Sadie berteriak menghentikan proses kremasi. Dia menyerukan bahwa Sadie mati dibunuh, dan meminta penundaan kremasi agar polisi bisa memiliki kesempatan melakukan investigasi.

Tentu saja, Lara terlibat dengan banyak kebohongan, karena sebenarnya Sadie meninggal oleh sebab alami. Sementara itu, semua anggota keluarganya menganggap Lara gila. Orang tuanya sendiri berpikir dia stress setelah putus dengan Josh dan mengarang cerita tentang dibunuhnya Sadie.

Sadie yang penggila dansa Charleston terus menghantui Lara, mulai dari memaksanya mencarikan kalungnya yang hilang, sampai memaksanya mengenakan gaun flapper dan berdandan seperti di era tahun 20-an. Bahkan, Sadie dengan teriakan-teriakan hantunya memaksa Lara untuk berkencan dengan Ed, pria asing yang ditemukan Sadie karena mengingatkannya pada Malory, kekasihnya dulu semasa hidupnya. Dengan teriakan-teriakan hantunya pula, Sadie mempengaruhi pikiran Ed untuk menerima ajakan kencan Ed. Keduanya pun terpaksa mengikuti kemauan Sadie yang menginginkan mereka semua berdansa Charleston. 

Sementara itu, Lara masih berusaha mendapatkan Josh kembali. Dengan bantuan Sadie yang "diperas" oleh Lara untuk mempengaruhi pikiran Josh sehingga kembali rujuk padanya, Lara pun mendapatkan kekasihnya kembali. Sadie yang sebal berusaha membuktikan pada Lara bahwa Josh tidak lebih dari takdir yang mengerikan. Dia pun mempengaruhi pikiran Josh untuk mengatakan hal-hal yang konyol seperti keinginannya untuk menjadi penemu dan membuka kebun binatang untuk menyadarkan Lara bahwa Josh tidak mencintainya, dan bahwa Josh rujuk dengannya itu karena pengaruh Sadie dan bukan dari keinginan Josh sendiri.

Setelah dengan susah payah berusaha menata perasaannya, Lara pun masih harus berjuang dengan kekacauan yang ditinggalkan Natalie. Setelah upayanya membuahkan hasil hanya untuk mendapati Natalie yang tiba-tiba kembali dan mengklaim semua upaya Lara sebagai hasil pekerjaan Natalie, tanpa menyebutkan nama Lara sama sekali terhadap klien mereka. Lara pun memilih memutuskan rekanan usahanya dengan Natalie tanpa mendapatkan komisi yang menjadi haknya.

Setelah nyaris berhasil mendapatkan kalungnya, serta pertengkaran Lara dengan Sadie yang cemburu saat melihat Ed dan Lara berciuman (setelah keduanya pada akhirnya saling jatuh cinta); Sadie yang marah memilih menghilang. Menghilangnya Sadie membuat Lara sangat menyesal. Berhari-hari ia mencari Sadie. Pencariannya membawa Lara ke penemuan baru yang mengejutkan. Lukisan Sadie semasa mudanya ternyata adalah salah satu benda seni, bahkan menjadi koleksi favorit di London Portrait Gallery. Lukisan yang dikira sudah ikut musnah saat kebakaran ternyata dijual oleh paman Bill. Dari penjualan lukisan itu, paman Bill berhasil meraup keuntungan yang menjadi modal usahanya mendirikan Lington Coffee dan filosofi Two Little Coin yang selalu dibicarakan paman Bill dalam seminar-seminar yang dibawakannya ternyata tidak lebih dari omong kosong.

Lara dan Sadie akhirnya berbaikan. Sadie menyadari bahwa dia hantu dan tak mungkin memiliki Ed, sementara Lara memberitahukan Sadie bahwa dia sebenarnya terkenal. Lara pun berbicara pada pers tentang kenyataan yang sesungguhnya. Dan misteri gadis dalam lukisan berukuran raksasa yang dilukis oleh Cecil Malory akhirnya terungkap. Sementara pamor paman Bill akhirnya redup, Sadie pun berubah dari wanita tua berusia 105 tahun yang tak dikenal siapa-siapa, kini memiliki identitas baru sebagai ikon seni. Kalung Sadie pun akhirnya berhasil didapatkan kembali.

Namun, itu juga berarti Sadie tidak lagi bisa menghantui Lara dan tinggal lebih lama di bumi. Baik Lara maupun Sadie pun diliputi kesedihan; sadar keduanya selama ini telah berteman dan saling menyayangi, sekali pun sering bertengkar. Keduanya juga saling membantu membuat hidup masing-masing menjadi lebih bermakna, sekali pun Sadie sebenarnya sudah tidak hidup. 

Setelah memakaikan kalung Sadie ke jenazahnya, Sadie pun sudah berpindah alam. Lara tidak pernah melihatnya lagi. Ia menghadiri prosesi kremasi jenazah Sadie hanya ditemani staf dari panti jompo, orang-orang yang benar-benar mengenal Sadie. Lara pun menyelenggarakan kebaktian untuk Sadie dengan dress code pakaian tahun 20-an, lengkap dengan pesta koktail seperti yang disukai Sadie, dengan musik Charleston, meski pun pendeta berkali-kali mengatakan bahwa hal itu tidak lazim dalam upacara kematian. Lara juga berhasil "menodong" paman Bill untuk menyumbangkan sepuluh juta pound kepada Sadie Lancaster Foundation. Kebaktian untuk mengenang Sadie penuh bunga dan orang, sebagian besar adalah para pecinta seni yang penasaran dengan Sadie, wanita misterius dalam lukisan Malory. Sekalipun Sadie tidak dapat melihatnya, jika tahu, Lara meyakini bahwa Sadie pasti akan sangat gembira karena semuanya persis seperti yang Sadie sukai.

Novel ini menyebabkan kecanduan. Saya membacanya di Jumat malam hingga Sabtu pagi. Saya pergi tidur pada 02:59. Lalu saya melanjutkan membaca sisanya pada Sabtu malam hingga Minggu pagi. Saya pergi tidur persis pada pukul 05:00 pagi. Saya menyelesaikan sisanya pada Minggu sore hingga malam setelah cukup tidur. 

Novel yang sangat lucu dan menghibur; juga menyentuh di beberapa bagian, sehingga membuat saya menangis terisak-isak dua kali. Kali pertama adalah saat Kinsella menggambarkan betapa sepinya hidup Sadie tanpa pernah ada yang mengunjunginya di panti jompo, karena keluarganya sendiri juga tidak mengetahui keberadaannya sampai saat ia meninggal. Kali kedua adalah saat Lara dan Sadie saling mengucapkan salam perpisahan.

Berikut beberapa kutipan yang menarik :

"Hidup membawa kita ke arah yang berbeda-beda." (hlm 513)

"Memang mudah mengecilkan arti keluarga. Mudah menganggap mereka sebagai sesuatu yang memang sudah sepantasnya. Tapi keluarga adalah sejarah Anda. Keluarga Anda adalah bagian dari diri Anda." (hlm 556)

Tidak ada komentar: