Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Jumat, 23 Juni 2017

Dear Facebook #23

Dear Facebook,

Supaya bisa menulis, maka saya perlu banyak membaca untuk mengumpulkan inspirasi. Tapi, bacaan pun perlu bervariasi. Untuk menghindari kejenuhan, bacaan perlu beragam. Ada keseimbangan antara fiksi dan non fiksi. Meskipun, saya lebih suka membaca fiksi. Kalau yang non fiksi paling banter hanya sejenis chicken soup for the soul, buku biografi, artikel psikologi, dan buku kesehatan. Selebihnya, saya lebih suka membaca novel. Tapi, novel pun tak semuanya gampang dibaca. 

Buat saya, novel sastra mau tak mau harus dibaca, sebab saya suka yang serba puitis; dan saya tak harus mendapatkannya melulu dari buku kumpulan puisi. Masalahnya, tak semua buku sastra gampang dibaca. Bisa karena plotnya menurut selera saya terlalu lambat, temanya terlalu muram dan membuat depresi, nalar saya memang tidak sampai dengan pemikiran penulisnya, dan seabrek alasan lain sering membuat membaca jadi menekan, ketimbang menyenangkan. Misalnya, saat saya membaca The Sound and The Fury-nya William Faulkner; Lelaki Tua dan Laut-nya Ernest Hemingway, Therese Raquin-nya Emile Zola; atau yang sekarang dengan setengah mati saya coba selesaikan : Jiwa-jiwa Mati-nya Nikolai Gogol. Saya tidak bilang semua novel sastra klasik itu memusingkan; karena saya menikmati membaca Haji Murad-nya  Leo Tolstoy, Wuthering Heights-nya Emily Bronte, dan The Secret Garden-nya Frances Hodgson Burnett.

Dan tidak semua novel yang non-sastra dan novel dari penulis modern juga gampang dibaca. Mulai dari plotnya yang membosankan (menurut selera saya), bahasa terlalu berbunga-bunga, deskripsi berlebihan sehingga melelahkan membacanya, saya benci karakter-karakternya atau temanya, dan lain sebagainya, sering membuat saya setengah mati berusaha menyelesaikan membacanya. Bagi saya, jika buku itu sudah telanjur saya beli, tentu saya memiliki kewajiban moral (terhadap diri sendiri) untuk menyelesaikan membacanya. Sebenarnya, saya berharap bisa membuat resensi dari semua buku yang saya baca. Termasuk yang jelek juga. Mungkin terutama yang jelek, untuk memperingatkan calon pembaca atau calon pembeli buku berikutnya, untuk tidak mengulangi kesalahan seperti saya, membeli dan membaca buku jelek, atau meminjam dan membaca buku jelek. Tapi, nyatanya, tidak semua buku saya tuliskan resensinya. Sebagian, karena sudah terlalu lelah mencoba menghabiskan membaca buku yang sulit dibaca itu. Jika saya tidak menikmati membacanya, bagaimana saya bisa menuliskan resensinya?

Tapi, jika dipikir-pikir lagi, bukankah selera setiap orang tidak sama? Apa yang saya anggap menarik mungkin bagi orang lain biasa saja. Apa yang saya anggap membuat depresi dan terlalu muram, mungkin bagi orang lain malah menggairahkan. Jadi, pada akhirnya, ya saya hanya perlu membaca saja. Entah saya menikmatinya dari halaman pertama, atau harus mengerahkan tenaga dulu untuk belajar menyukainya, pokoknya saya sudah membaca. Dan memaksakan diri untuk menyelesaikannya. Syukur-syukur, masih memiliki energy untuk menulis resensi. Syukur-syukur masih bisa menjaring inspirasi. Jika tidak, siklus awal pun dimulai lagi. Begitu terus, sampai ada yang ditulis lagi.

Tidak ada komentar: