Translate

Total Tayangan Halaman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Kamis, 08 Juni 2017

Dear Facebook #8

Dear Facebook,

Kadang-kadang saya suka berandai-andai; apa jadinya hidup saya jika saya tidak segigih ini mengejar apa yang (hanya) saya cita-citakan. Misalnya saja, saat saya masih di bangku Taman Kanak-kanak, saya punya ibu guru yang baik hati dan sabar. Saat saya malas makan, dia menyuapi saya untuk memastikan saya menghabiskan makan siang saya. Terinspirasi oleh kebaikan Bu Maria (sekarang saya sudah lupa bagaimana wajahnya), saya pun bercita-cita menjadi guru. Meskipun cita-cita saya berubah-ubah terus, pada akhirnya saya hanya mengikuti apa yang sungguh-sungguh saya cita-citakan, meski disesuaikan dengan kondisi saya. 

Dulu, saya tidak bisa bangun pagi, dan sejak dulu saya tidak suka memakai rok. Saya lebih nyaman dengan celana jeans. Jadi, ketimbang memakai seragam batik dan rok, saya tidak melamar pekerjaan sebagai guru di sekolah; sebaliknya saya hanya menjadi guru di sebuah bimbel dekat rumah; sekalipun dengan gaji mengenaskan dan jam kerja yang panjang. Dan saya mengerjakannya, karena memang itu yang saya cita-citakan. Lalu, setelah mencoba membuka bimbel sendiri yang tidak berkembang dan akhirnya pailit, saya akhirnya memilih mengajar secara privat, sampai pada suatu waktu, saya merasa tidak bisa tidak, saya harus mengejar cita-cita saya yang lainnya untuk menjadi penulis.

Tentu, pada awalnya orang menganggap saya sinting. 

O ya, saya lupa bercerita dari awal. Dulu, saya sempat beberapa kali mencoba menjadi pegawai kantoran. Sebelum sempat dipecat (biasanya paling lama hanya sebulan), saya sudah keburu mengundurkan diri. Khawatir akan mati bosan, saya berinisiatif untuk berhenti. Saya pun akhirnya menyadari, saya adalah jenis orang yang hanya bisa mengikuti kata hati. 

Jadi, dari gaji yang agak mendingan, saya mengikuti cita-cita saya untuk gaji yang memprihatinkan. Dan lalu, dari gaji tetap setiap bulan, saya beralih ke profesi yang tanpa jaminan. Dan ya, pada dasarnya orang beranggapan mencoba menjadi penulis (yang karyanya belum lagi diterbitkan) adalah sama dengan pengangguran. 

Jika saya bukan orang yang sungguh-sungguh mengikuti kata hati, sejak dulu saya sudah berhenti. Dan tentu, cibiran bukan barang sekali atau dua kali dilontarkan, baik yang tersamar, maupun terang-terangan. 

Suatu waktu, saya membeli buku berjudul "Harga Sebuah Impian" (Chicken Soup for the Writer’s Soul), eh ternyata saya tidak sendirian. Ada seseorang bernama Clive Cussler yang bahkan lebih "sinting" daripada saya. Clive tadinya adalah direktur kreatif sebuah agen iklan. Dia berhenti dari pekerjaannya, beralih profesi sebagai pegawai di toko menyelam, sebab dia ingin menulis tokoh pahlawan di bawah air. 

Jadi, jika seorang Clive Cussler yang karirnya lebih cemerlang dari saya bersedia menukarnya karena mengejar mimpi menjadi penulis, mengapa saya harus membiarkan orang-orang mengecilkan saya karena pilihan yang sudah saya buat? Pada akhirnya, jawabannya adalah seperti yang dikatakan Steve Maraboli, "People who lack the clarity, courage, or determination to follow their own dreams will often find ways to discourage yours." Jadi, saya akan mengikuti saran Steve Maraboli, "Live your truth and don't EVER stop!" Jadi, kecuali seseorang mengebor tempurung kepala saya dan melakukan prosedur lobotomy, saya tidak akan berhenti mengejar mimpi saya untuk menjadi penulis.

Tidak ada komentar: