Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Rabu, 07 Juni 2017

Dear Facebook #7

Dear Facebook,

Satu hal yang baru saya sadari belakangan ini adalah betapa perlunya manusia menguasai seni menertawakan diri sendiri. Mulai dari yang slapstick, misalnya ketika jatuh saat mengenakan sandal yang licin, sampai menikmati mengolok-olok diri sendiri dengan membiarkan diri sendiri menjadi sasaran lelucon. Seperti apa? Ya, misalnya saat seorang teman bersikeras bahwa saya harus belajar memasak. Dia menugaskan saya untuk mengupas kentang. Dan hasilnya adalah potatoes massacre. Kulit kentangnya terkupas, begitu pun sebagian besar kentangnya. Teman saya yang lain tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan raut wajah teman saya yang shock berat saat kentang berukuran besar itu berkurang banyak massa dan beratnya. Sejujurnya, saya tidak tersinggung dan ikut tertawa. 

Saya tidak bilang bahwa saya orang yang luar biasa; bisa menertawakan semua kejadian buruk dengan santai saja. Tidak! Saya tidak sebijaksana itu! Misalnya, saat sedang terburu-buru, saya pernah salah mengklik sebuah file yang saya simpan di flash disk yang seharusnya ditempatkan di folder baru, tapi malah tanpa sengaja terhapus. Pada saat itu saya tidak bisa tertawa, terlalu jengkel karena harus mengetik ulang dari halaman pertama. 

Tapi, bagaimana pun dalam hidup, semua orang rasanya harus belajar seni menertawakan diri sendiri. Menertawakan kebodohan diri sendiri, menertawakan kecerobohan, kenaifan, atau apa pun yang berpotensi membuat kita menjadi sinis dan pahit. 

Mungkin itu sebabnya saya suka dark humor. Bahkan saya lebih suka dark humor daripada dark chocolate yang pahit. Mungkin karena pada dasarnya saya memang sarkastis. Itu pula sebabnya saya suka karakter Max Black di 2 Broke Girls melebihi Caroline Channing yang juga luar biasa. Saya suka antusiasme Caroline, tapi saya lebih suka sarkasme Max. 

Betapa mudahnya orang menjadi sinis dan pahit. Terlalu banyak kesukaran, senyum bisa pupus, dan suara tawa pun menjadi langka, bahkan bisa punah, seperti nasib harimau Sumatera. Ketika harapan musnah, orang tidak berani lagi bermimpi. Bahkan mendadak benci dengan orang yang berujar, "Keajaiban masih mungkin terjadi." Saya sendiri bukan orang yang tergila-gila dengan keajaiban. Jika hal yang sulit untuk diwujudkan akhirnya terjadi, paling saya akan berujar dengan senyum lebar, "Wow, miracle do happen." Setengah gembira, tapi juga setengah mengejek. Semakin dewasa, orang semakin tidak percaya keajaiban. 

Jadi, pada akhirnya, kita harus menciptakan keajaiban kita sendiri. Keajaiban yang lebih rasional dan membumi. Sesuatu yang bisa kita usahakan. Bukan sesuatu yang serta-merta diterima. Bukan seperti kejatuhan bintang; tapi seperti naik pesawat untuk melihat awan dari ketinggian tertentu.

Di antara keajaiban "normal" yang harus kita usahakan, cobalah selingi dengan menertawakan diri sendiri; sehingga di saat usaha menciptakan keajaiban itu gagal, tidak lantas membuat kita menjadi sinis dan pahit. Tentu saja ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Memerlukan kecerdasan emosional dan keikhlasan. Sangat berkebalikan dengan lirik lagu yang dinyanyikan Bee Gees, "I started to cry which started the whole world laughing. Oh If I'd only seen that the joke was on me." Sempurna itu membosankan. Mengapa harus terobsesi dengan kesempurnaan? Mari cintai semua "cacat" kita, menerimanya, menertawakannya. Karena yang sempurna belum tentu indah. Dan yang indah bisa saja rendah.

2 komentar:

AB.SatriaTataka mengatakan...

Hey, aku lama ngga ngeblog euy 😭 Vakum abis hahaha

Selvia Lusman mengatakan...

Haha ... keasyikan naik sepeda terus sih. Jadi ngga sempat blogging 😛