Translate

Total Tayangan Halaman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Selasa, 06 Juni 2017

Dear Facebook #6

Dear Facebook,

Beberapa jam yang lalu saya melintasi sebuah lahan parkir. Mata saya tanpa sengaja tertumbuk pada sehelai daun kering berwarna cokelat yang tergeletak begitu saja di lantai semen berwarna kelabu. Tiba-tiba saja beberapa kalimat bermunculan di benak saya, beberapa kalimat pertama untuk sebait puisi. Sayangnya, karena tengah tergesa-gesa, saya tidak sempat berlama-lama mengamati daun itu. Dan kini, di saat saya ingin menuliskan sebuah prosa (dan bukannya puisi), ide justru tidak dapat mengalir.

Writer's block - fenomena yang ditakuti, sekaligus dikutuki oleh para penulis. Frase ampuh yang membuat para penulis menjadi tidak berkutik. Kabar baiknya, hai para penulis, kita tidak sendirian! Bahkan penulis-penulis sekaliber Ernest Hemingway atau Leo Tolstoy pun juga pernah mengalaminya. Dan jika mereka mampu melewatinya, maka kita pun seharusnya juga bisa!

Tentunya tiap penulis mengatasinya dengan cara yang berbeda-beda. Konon, untuk mengatasi writer's block, Agatha Christie akan makan apel sambil mandi. Saya tidak tahu bagaimana dengan kalian, tapi untuk diri saya, ide menulis rasanya tidak akan mengalir keluar dengan mengunyah apel sambil berendam di bath tub. Selain saya tidak punya bath tub, saya juga tidak lagi merasa aman untuk makan apel. Konon, apel kini dilapisi lilin untuk membuatnya terlihat segar. Juga sebelumnya ada berita mengenai apel yang terkontaminasi bakteri Listeria Monocytogenes. Daripada saya keburu mati karena apel beracun, lebih baik saya menyingkirkan writer's block dengan cara lain.

Setelah browsing ke sana-sini, dan membaca berbagai artikel tentang mengatasi writer's block, yang maaf saja, sebagian besar terlalu utopis dan cenderung bersifat omong kosong, maka berikut yang menurut saya masih bisa diterapkan (saya tidak bilang ini manjur, tapi setidaknya cukup saya sukai) :

  • Pergi berjalan-jalan
Menurut saya, berjalan-jalan di sekitar rumah juga tidak apa-apa. Tidak harus pergi ke kota-kota besar dunia. Mungkin di saat berjalan di sekitar rumah, Anda menemukan seekor cicak di dinding, capung atau kumbang yang hinggap di bunga, tikus yang mengintip di selokan, bangkai kucing di aspal (korban tabrak lari), lalat yang mengincar makanan, atau mungkin juga tumpukan piring kotor di dapur, tumpukan baju kotor yang belum sempat dicuci di ember atau di sebelah mesin cuci. Tulis saja apa yang Anda temukan. Setidaknya, ada yang bisa dijadikan tulisan. Atau seperti saran Charles Bukowski, tuliskan saja perasaan Anda tentang mengalami writer's block, "Writing about a writer’s block is better than not writing at all."

  • Menyeduh kopi
Sejujurnya, dalam pengalaman saya, menulis sebelum minum secangkir kopi tidak lebih dari upaya berjalan di dalam kabut tebal tanpa membawa senter besar dengan cahaya benderang. Gelap dan tak terarah. 

  • Membaca buku bergenre komedi
Tekanan untuk terus produktif kadang membuat otak lelah dan penat. Tertawa akan membuat kita lebih rileks. Lalu, selesai membaca, setidaknya kita bisa menuliskan resensi buku yang sudah dibaca.

  • Menonton film dengan dialog yang bagus
Terkadang saya merasa terjebak saat menonton film. Sinopsis atau poster filmnya mungkin terlihat menarik, tapi setelah ditonton selama sepuluh sampai lima belas menit pertama ternyata sangat membosankan atau tidak memenuhi ekspektasi; tapi kalau beruntung, bahkan dalam film yang jelek pun, masih ada kemungkinan terselip sebuah dialog bagus, yang mungkin bisa menjadi inspirasi dadakan untuk menulis.

Ya, writer's block memang menyusahkan. Saat di mana muse memilih sembunyi dan ide mendadak macet seperti kran air ketika PAM mati. Tapi, mari kita berjuang untuk mempecundanginya!

Tidak ada komentar: