Translate

Total Tayangan Halaman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Senin, 05 Juni 2017

Dear Facebook #5

Dear Facebook,

Selesai membaca "Twenties Girl"-nya Sophie Kinsella, saya malah teringat kutipan di novel "Bound" yang ditulis oleh Okky Madasari, "Every relationship had its expiry date. That was why the people who were once special in our lives became less so over time." Dan tidak! Ini tidak melulu mengacu kepada hubungan yang kandas seperti saat Kimi Räikkönen bercerai dari Jenni Dahlman (konon Jenni berselingkuh dengan pelatih berkudanya), lalu Kimi akhirnya menikah lagi dengan Minttu Virtanen dan dikaruniai dua orang anak, Robin Ace Matias Räikkönen dan Rianna Angelia Milana Räikkönen. Bukan! Bukan melulu seperti itu "expiry date" yang saya maksudkan.

Bisa saja "expiry date" itu adalah seperti yang diceritakan seorang nenek kepada saya (bukan nenek saya), bahwa dulu dia dan mertua perempuannya, dengan ipar-ipar perempuannya menikmati hubungan kekerabatan yang erat, dan dia masih merasa kehilangan ketika satu persatu dari mereka menjadi tua dan meninggal. Sekalipun hubungan mereka terasa manis, tapi tidak berkelanjutan, karena "expiry date" dalam hal ini adalah berwujud kematian.

Terkadang, jarak dan waktu juga dapat menjadi "expiry date" seperti yang saya alami dengan seorang teman. Dulu, saya sering meminjamkan novel-novel saya kepadanya. Apa yang saya baca adalah juga yang dia baca. Saya juga sering patungan uang saku kami untuk menyewa VCD film di rental (dulu belum ada DVD), dan menontonnya bersama di rumah saya. Dengannya, saya berbagi uang saku terakhir kami untuk memenuhi selera nonton kami yang gila-gilaan. Namun, setelah dia berimigrasi, kini kami tak lebih dari orang yang pernah saling mengenal. Saya pun bertanya-tanya sendiri, mengapa dari teman, kami berubah menjadi seperti orang asing yang kebetulan berada di perahu yang sama di atas laut bernama kehidupan.

Dan bisa pula, "expiry date" itu berwujud kontrak kerja, seperti Fergie yang meninggalkan Black Eyed Peas, dan posisinya akan digantikan oleh Nicole Scherzinger. 

Saya tidak terpikir "expiry date" yang lainnya. Namun, bukan melulu "expiry date" itu yang mengganggu benak saya. Tentu, seiring waktu segala sesuatu bisa berubah. Manusia tidak mungkin hidup abadi; bahkan perasaan, kedekatan, prioritas, cara berpikir juga bisa ikut berubah. Tidak abadi.

Tetapi, di antara yang tidak abadi itu, sebagian orang tetap menghargai kenangan. Sebagian orang ada yang berpikir bahwa tiap individu memiliki kekhasan dan keunikannya sendiri, dan posisinya tidak dapat tergantikan dengan individu yang lainnya. Saya sendiri sekalipun cenderung future oriented, pada akhirnya harus belajar tentang hal ini dari seorang nenek (bukan nenek saya); dari seorang yang tadinya saya sangka adalah orang yang hanya tinggal di masa lalu, tidak praktis, dan cenderung rumit. 

Mungkin, pemikirannya sebenarnya sederhana saja. Pada akhirnya, saya dapat mengerti bahwa sepasang sepatu  usang yang harusnya tinggal dibuang, masih juga ia jahit kembali, karena ia ingin menghargai kenangan. Entah kenangan akan perasaan nyaman ketika mengenakannya atau kenangan akan orang yang memberikannya. Pada dasarnya, ia seolah mau berkata, sekalipun manusia memang bukan puzzle; sekalipun ada beberapa keping dengan bentuk yang sama, memerlukan gambar yang tepat untuk diletakkan pada tempat yang tepat pula untuk bisa membingkai sebuah gambar besar yang indah.

Pemikiran bahwa individu tertentu bisa digantikan dengan individu lainnya, seperti mentega yang bisa disubstitusi dengan margarine; baginya hal itu bukan saja tidak masuk akal, tapi juga dingin. Manusia memang bukan mentega atau margarine. Tapi, pada saat yang sama, saya juga harus berkata; tidak semua manusia menghargai kenangan dan manusia lainnya melebihi eksistensinya sendiri. Jika dia harus menjual kenangan demi kenyamanan, mungkin dia akan melakukannya. Jika dia harus mengganti posisi seseorang di masa lalu seperti mengganti merk susu, mungkin dia akan merasa itu wajar saja dan tidak ada yang keliru. 

Setiap orang memiliki pilihan, dan berhak memutuskan sesuai pilihannya. Dan tidak semua orang demikian spesial, sehingga harus dikenang seperti pahlawan. Sebagian besar orang senang bersikap praktis, tidak merasa ada gunanya terus melongok ke masa lalu. Namun, sebagian kecil lainnya, mereka mencintai kenangan, menilai tinggi sejarah, memahami siapa yang sudah telanjur berakar di dalam hati dan ingatan, tetap tidak akan tergantikan.

Tidak ada komentar: