Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Jumat, 30 Juni 2017

Dear Facebook #30 (epilog)

Dear Facebook,

Saya tahu saya ini keras kepala. Jika saya bersikukuh Kimi Raikkonen itu inspiratif, biarpun sahabat saya bilang Michael Schumacher lebih inspiratif, karena dia mengumpulkan tujuh kali juara dunia, sementara Kimi baru satu saja; saya akan dengan sepenuh keyakinan berkata, Kimi langsung mendapat poin di grandprix pertamanya, Michael tidak (ya Michael saja, sebab nanti jadi rancu dengan adiknya, Ralf yang nama belakangnya kan Schumacher juga)!

Jika kebanyakan tulisan didominasi dengan anjuran untuk tidak mencurahkan uneg-uneg (asal jangan bikin eneg) di media sosial, saya selama 30 hari ini menulis status di Facebook seolah tengah menulis buku harian. Dan tidak! Saya bukannya sok nyentrik; saya cuma mau bilang, jangan hidup seperti robot yang diprogram! Manusia dikaruniai akal budi; seyogianya bisa menyortir sendiri, memfilter sana-sini. Semua hal tidak harus diterima mentah-mentah, berhati-hatilah dengan getah!

Jika orang senang mengunggah foto makanan atau foto bayi atau anak-anaknya sampai beberapa album, atau foto di tempat-tempat wisata yang dikunjungi, ya biar saja. Mengapa harus iri? Apalagi sampai keki! Selama tidak menyalahi UU ITE dengan menyebarkan hoax (apakah ini sejenis fiksi?), konten vulgar, dan berbau pornografi, mengapa harus berapi-api? Kalau pusing, tinggal unfollow saja. Juga hanya dengan sederhana menghapus tag, jika dilimpahi video hewan (ibu saya pelakunya), yang saking banyaknya bisa membuat mblenger luar biasa.

Seperti judul buku yang ditulis Richard Carlson, Don't Sweat the Small Stuff ... and it's all small stuff: Simple Ways to Keep the Little Things from Taking Over Your Life - jangan meributkan hal-hal kecil! Tidak perlu memaksa semua orang setuju dengan pemikiran kita - hanya tiran yang melakukannya - itu penjajahan namanya! Jika tidak krusial, silakan bertoleransi. Jika sifatnya prinsipil, jangan berkompromi!

Sebenarnya, saya tidak melulu ingin bicara tentang saya dan saya. Saya sekali lagi cuma ingin berkata, perbedaan itu wajar saja, selama tidak dibumbui dengan friksi, apalagi fiksi buatan sendiri. Saya tidak ingin merevisi cara berpikir saya. Kalau suatu ketika saya ingin meralatnya, saya harus mengerjakannya dengan sukarela, bukan karena dipaksa.

Pada akhirnya, saya cuma ingin berkata, saya punya penilaian dan pendapat sendiri tentang dunia, orang-orang di sekeliling saya, dan lain sebagainya; terkadang saya menyatakannya terang-terangan, apa adanya, spontan saja. Saya bukannya senang membuat pernyataan di mana-mana dan kapan saja. Saya hanya menjawab, karena memang ada yang bertanya. Atau merasa perlu merespon. Atau menjelaskan. Meski, saya merasa tidak memiliki kewajiban untuk selalu merespon ataupun menjelaskan.

Tulisan ini sebenarnya tentang apa? Ringkas saja : Don't sweat the small stuff  - jangan meributkan hal-hal kecil! Jadi, kecuali ada gempa bumi, dan bangunan runtuh, dan kamu bisa tertimbun hingga mati; atau pantai tiba-tiba diterjang tsunami, please, don't sweat the small stuff!

Tidak ada komentar: