Translate

Total Tayangan Halaman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Selasa, 27 Juni 2017

Dear Facebook #27

Dear Facebook,

Beberapa waktu belakangan ini, saya teringat pepatah "No rest for the weary" - tidak ada istirahat untuk yang lelah. Ya, tanpa bermaksud menjadi seorang workaholic, terkadang saat lelah pun tidak tersedia cukup waktu untuk beristirahat. Terkadang, tidur siang yang berkualitas saja pun bisa menjadi sejenis kemewahan. Tentu, lelah itu sendiri bisa menyangkut banyak hal. Bisa karena lelah fisik seperti kurang tidur: bisa karena insomnia, harus bangun sangat pagi, tapi terpaksa tidur larut malam, atau sedang sakit atau dirubung nyamuk karena lupa membeli obat anti serangga; sehingga tidak bisa istirahat dengan leluasa. Atau bisa pula, lelah dengan kesulitan hidup - lelah secara mental dan psikologis. Apa pun jenis lelahnya, tentu seperti halnya sebuah kelelahan, manusia memerlukan istirahat - jeda yang mungkin hanya sejenak, tapi diharapkan bisa membuat diri sendiri lebih segar dan bersemangat untuk menghadapi tantangan.

Namun, terkadang, selelah apa pun, tak tersisa cukup waktu dan cukup jeda untuk beristirahat. Seperti juga hari ini, saya malas untuk memulai hari. Saya ingin menulis. Karenanya, saya perlu membaca. Saya ingin mendapat inspirasi, saya ingin menonton film klasik di Iflix lagi. Nyatanya, tumpukan wajan dan panci kotor lagi, tumpukan peralatan makan kotor lagi, membersihkan kotoran hewan lagi. Dan saat sudah lelah dengan urusan membersihkan rumah (karena pembantu saya yang mudik belum juga kembali), saya cuma dapat membaca sebuah kata pengantar dan sebuah cerita pendek karya Guy de Maupassant. Mendapati Maupasant ternyata semasa hidupnya sempat mengalami gangguan jiwa, dan sampai meninggal tidak pernah sembuh.

Saya jadi terpikir, mengapa penulis-penulis jenius, akhir hidupnya sedramatis tulisan-tulisan mereka? Guy de Maupasant meninggal dalam kondisi gila, Virginia Woolf menenggelamkan dirinya di sungai, Ernest Hemingway menembak kepalanya, Zelda Fitzgerald menderita skizofrenia dan meninggal saat rumah sakit jiwa tempat dia dirawat terbakar. Suaminya, F. Scott Fitzgerald meninggal karena serangan jantung di apartemen selingkuhannya. Mereka hanyalah segelintir saja dari penulis terkenal yang hidupnya berakhir tragis. They finally rest, but without peace.

Hari ini, kami - sahabat saya dan saya, yang sempat saling mengeluh lelah, belum juga menulis sampai sesiangan tadi, setengah bercanda tentang mati. Dia bilang, jika sedang depresi, terkadang ingin tidur terus, tanpa bangun lagi. Dan saya dengan bercanda membalas; bahwa dia sebaiknya jangan mati jika belum melewati 30 Juni. Ya, saya tidak tahu kapan kami akan mati. Manusia bisa mati kapan saja; tapi saya sendiri berharap, kami tidak akan mati sebelum 1 Juli. Saya pribadi masih ingin menyelesaikan tantangan menulis setiap hari selama bulan Juni. Saya berharap sore ini, sahabat saya bangun lagi (dari tidurnya), dan menulis lagi hari ini. Jika sebelum 1 Juli, kami tidak lagi menulis dan memposting link tulisan kami, asumsikan saja kami sudah mati. Atau setidaknya, mati suri. Really, no rest for the weary.

Tidak ada komentar: