Translate

Total Tayangan Halaman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Senin, 26 Juni 2017

Dear Facebook #26

Dear Facebook,

Terhadap ungkapan "Rumahku, Istanaku", saya bukan saja menyetujui ungkapan itu, bahkan akan menambahkan dengan ungkapan versi saya, "Kamarku, takhtaku". Entah mengapa, sejak dulu, saya tidak begitu antusias bepergian keluar rumah (kecuali pergi ke pameran buku). Saya benci perjalanan jarak jauh yang menghamburkan waktu. Apalagi jika harus menginap. Belum lagi berangkat, dan pada saat packing saja pun, saya sudah merasa homesick. Ya, meskipun rumah saya bukan istana betulan, saya merasa nyaman berada di dalam rumah; terutama di dalam kamar saya yang tidak terlalu besar. Saya senang menghabiskan waktu dengan membaca buku, mendengarkan lagu, atau sekadar mengelap debu.

Dari lusa kemarin pun, saat ibu dan adik perempuan saya memilih menghabiskan waktu dengan sepupu laki-laki saya, berkeliaran entah ke mana. Biasanya mereka menonton film di bioskop atau berbelanja, saya masih malas bergerak, dan hanya menghabiskan waktu di rumah saja. Mencoba membaca dan membantu membersihkan rumah sebisanya. 

Berhubung pembantu saya sudah mudik dari minggu lalu, maka tugas mencuci alat-alat makan yang kotor dan membersihkan kotoran hewan peliharaan dan mengepel lantai, kini menjadi tugas bersama yang dikerjakan oleh saya dan ibu. Adik perempuan saya tidak akan pernah mau membantu membersihkan jika sudah menyangkut kotoran hewan. Lagi pula, dia merasa sudah menyibukkan diri dengan pakaian kotornya sendiri. 

Segera yang saya sadari adalah kebiasaan saya browsing sana-sini langsung berkurang drastis. 

Berhubung sejak dulu, saya senang jika segala sesuatu serba sistematis, maka mencuci peralatan makan pun harus taktis; dipilah lebih dulu, tumpukan panci, tumpukan piring, tumpukan mangkuk, sendok-garpu-pisau, gelas dan cangkir. Sambil membilas, masih memilah sesuai warna dan bentuknya. Yang tidak serupa, tidak diletakkan bersama.

Dari rutinitas yang sederhana ini, saya jadi terpikir, hidup pun seharusnya disikapi dengan sistematis dan taktis; tidak melulu mengharapkan solusi paling praktis. Di antara tumpukan persoalan, perlu dipilah dulu sesuai jenisnya, juga harus ditentukan, yang mana yang urgent, yang harus segera dicarikan solusinya. Terkadang, cara menyelesaikan paling baik dimulai dari membuat daftar lebih dulu. Dari situ, bisa dilanjutkan dengan strategi. Setelah semuanya dibereskan dengan terperinci, hidup pun bisa lebih rapi.

1 komentar:

Dwi Fikriyah mengatakan...

Kayaknya akan lebih menarik kalo disertai gambar kamar