Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Minggu, 25 Juni 2017

Dear Facebook #25

Dear Facebook,

Di dunia yang lebih sering mendewakan persamaan, seringkali perbedaan menjadi kerikil dalam sebuah hubungan. Terkadang saya berpikir, betapa bodohnya manusia yang menginginkan segala sesuatunya serba seragam. Cara pandang, opini, kesukaan, dan lain sebagainya diharapkan sama. Jika berbeda, seolah kebingungan sendiri dengan proses adaptasi. Jika ditilik lagi, segala sesuatu yang serba serupa justru dapat menciptakan kebosanan lebih cepat. Misalnya saja, saya dan ibu saya sama-sama menyukai hewan, dan senang melihat tingkah laku binatang yang lucu dan menggemaskan; tapi jika setiap kali yang dilihat oleh kami hanya serangkaian video tingkah laku hewan, kami tentu bisa mati bosan. Begitu pun, saya dengan seorang kawan yang sama-sama memiliki hewan peliharaan. Jika setiap kali yang dibicarakan oleh kami berdua hanya seputar hewan-hewan yang kami miliki, tentu pembicaraan itu akan berubah menjadi sangat monoton.

Hal-hal di atas hanyalah contoh sepele. Dalam skala yang lebih serius, jika kita hanya bisa berteman dan merasa cocok hanya dengan orang-orang yang mirip dengan kita, tentu kita juga akan berubah menjadi orang yang membosankan pula. Jika kita tidak bisa menghargai perbedaan dan bersikap antipati dengan orang-orang yang kita anggap berbeda dari standar normal yang kita tetapkan, betapa kita akan berubah menjadi orang-orang yang dangkal, tanpa variasi yang berarti dalam perkembangan kepribadian kita. Tentunya, kita tanpa sadar juga bisa menjadi orang-orang yang menyebalkan dan dihindari banyak orang.

Misal, dulu saya pernah berteman dengan seseorang yang selalu menganggap dirinya setengah sempurna. Ia menganggap dirinya pandai berhemat, lumayan cakap mengurus rumah tangganya, dan merasa tidak ketinggalan zaman, karena aktif di sebuah media sosial. Nyatanya, saya dan seorang sahabat saya, kini mati-matian menghindari orang itu. Kami sama-sama jenuh mendengar orang itu mengagung-agungkan diri sendiri bahwa dia ke pasar tradisional dengan berjalan kaki (dia mengklaim semua perempuan yang tidak berbelanja di pasar tradisional sebagai perempuan yang boros, dan jika menggunakan kendaraan berarti manja);  dia mengurus rumahnya tanpa bantuan pembantu rumah tangga (dia mengklaim semua perempuan yang menggunakan jasa pembantu rumah tangga, seolah tidak becus mengurus keluarga dan pemalas); dia menganggap dirinya ibu yang baik (dia notabene menganggap ibu yang bekerja sebagai perempuan egois yang lebih mementingkan karir daripada anak). Sebenarnya, setiap kalimat pujian yang dia lontarkan terhadap dirinya, hampir selalu dibarengi dengan kalimat hujatan terhadap orang-orang di sekelilingnya. Sejujurnya, orang ini mengingatkan saya akan lintah, menempel di kulit untuk menghisap darah. Mendekat hanya untuk membual dan menyebarkan pemikiran-pemikirannya (yang buat saya) sangat memprihatinkan. Apa namanya kalau tidak memprihatinkan, jika dia harus menjelek-jelekkan orang terlebih dulu supaya dirinya terlihat hebat?

Tentu, orang sejenis ini bukan hanya dia saja. Ada orang yang menganggap, bahwa semua perempuan harus bisa memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga (jika tidak, berarti menyalahi kodrat). Ada pula yang beranggapan, bahwa setiap kali liburan tiba, harus dilewatkan dengan beranjangsana keluar Indonesia (jika tidak, berarti masih hidup di bawah garis kemiskinan). Ada pula yang beranggapan, bahwa seseorang seharusnya hanya mendengarkan lagu-lagu religius saja (jika tidak, berarti pendosa dan cinta dunia). Dan seabrek contoh lain yang tak semuanya perlu saya utarakan dari orang-orang yang tidak memahami, bahwa perbedaan pemikiran bukanlah kejahatan. 

Sungguh, mereka mengingatkan saya akan lintah, penghisap darah.

Tidak ada komentar: