Translate

Total Tayangan Halaman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Sabtu, 24 Juni 2017

Dear Facebook #24

Dear Facebook,

Tidak dapat dipungkiri, tema yang paling sering dibahas dan paling laris-manis dalam dunia kepenulisan (fiksi) adalah tema percintaan. Tak heran, ada beragam genre dan jenis, dari mulai Harlequin, Chicklit, Teenlit, Metropop, Amore, dan apa pun namanya, yang saya sendiri tidak begitu jelas perbedaannya. Saya hanya tahu, umumnya novel-novel bergenre "romance" di atas paling laku dan paling banyak diburu oleh para pembaca yang kebanyakan kaum wanita dan remaja (putri). Saya sendiri, sejujurnya tidak begitu menyukai genre "romance"; meskipun saya juga menyukai novel-novel lucu dan manis ala Sophie Kinsella, Meg Cabot, dan Cecelia Ahern. Untuk penulis Indonesia, saya suka karangan Maria A. Sardjono. Tapi, rasanya tulisan para penulis kesukaan saya itu mungkin lebih cocok dikategorikan sebagai Young Adult ketimbang Harlequin. Sekali lagi, saya sungguh samar-samar mengenai perbedaannya.

Sejak saya remaja, jenis novel kesukaan saya adalah suspense dan spionase. Itu sebabnya saya suka tulisan Sidney Sheldon yang dramatis, juga tulisan dari Frederick Forsyth, Alistair McClean, dan Jack Higgins yang menyoal mengenai politik, perang, mata-mata, konspirasi, dan sejenisnya. Setelah itu, selera baca saya diperluas dengan novel-novel sastra, imbas dari pelajaran Bahasa Indonesia dulu yang mengharuskan murid-murid untuk membaca roman-roman Balai Pustaka sebagai bacaan wajib. Setalah roman-roman Balai Pustaka, saya beralih ke novel-novel sastra yang direferensikan guru saya seperti N.H. Dini dan Ahmad Tohari. Lalu, saya mulai memilih sendiri bacaan sastra saya dan berkenalan dengan tulisan Y.B. Mangunwijaya dan Umar Kayam yang ngetop dengan Mangan Ora Mangan Kumpul.

Lucunya, saya terkadang tidak menjadikan sastra sebagai bacaan wajib yang harus diprioritaskan. Dulu, saya malah sibuk mengoleksi tulisan R.L. Stine yang terkenal dengan serial Goosebumps dan Fear Street. Setelah fase itu lewat, pilihan bacaan saya cenderung random dan tidak memiliki pola. Saya membaca apa saja yang menarik perhatian saya. Tapi, tetap saja, saya tidak pernah membaca Harlequin, Amore, dan sejenisnya. Entah kenapa, selera saya tidak sampai ke sana. Padahal, setahu saya, rata-rata akhir ceritanya pasti bahagia. Happy ending! Rasanya, membuat sad ending untuk novel bergenre romance adalah sejenis kejahatan. Setidaknya, begitulah hipotesa saya.

Dan, saya suka happy ending. Tapi, belakangan, saya tidak terlalu mengagung-agungkan happy ending, karena tidak realistis. Dalam hidup, tidak semua orang bisa mendapatkan happy ending. Mungkin itu sebabnya genre romance tidak pernah benar-benar menjadi kesukaan saya. Tapi, pada akhirnya, saya tiba pada satu kesimpulan, seperti yang ditulis oleh Cindy Bonner, "And I don't believe in such a thing as "happily ever after". There's only happily every now and then. I find the hardest trick is to recognize the now-and-thens, and to bask in them when they come."  Jadi, jika hidup tidak memberikan happy ending, untunglah masih ada novel bergenre romance yang hampir senantiasa menawarkannya. Sampai happy ending berikutnya, tetaplah membaca, tak peduli apa pun genre-nya.

Tidak ada komentar: