Translate

Total Tayangan Halaman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Kamis, 22 Juni 2017

Dear Facebook #22

Dear Facebook,

Sejak dulu saya selalu suka dengan kata lari. Hampir semua lagu kesukaan saya selalu menyertakan kata lari, tak peduli apa pun genre musiknya. Dari mulai pop manis seperti The Corrs dengan Runaway-nya, No Doubt dengan Running, Simple Plan dengan Don't Wanna Think About You dengan liriknya antara lain, "Run away. Run away. Running as fast as I can." dan di video klipnya juga ada sepotongan adegan saat seluruh anggota band berlari bersama-sama, juga menerobos keluar dari pagar berjeruji sambil dikejar anjing. Lalu, yang agak hingar-bingar seperti Runaway-nya Linkin Park dengan lirik kesukaan saya, "I wanna run away. Never say goodbye. I wanna know the truth. Instead of wondering why. I wanna know the answers. No more lies. I wanna shut the door. And open up my mind."  Tentu, jika mau dicari, masih ada lagu lain yang menyertakan kata lari pada liriknya.

Namun, saya bukan semata-mata ingin membicarakan lagu dengan kata lari di antara liriknya. Kesadaraan akan perlunya lari saya pelajari saat saya masih duduk di kelas empat atau lima Sekolah Dasar. Sekolah tempat saya belajar dulu adalah sebuah sekolah kecil yang sederhana, dengan jumlah pengajar yang terbatas, dan jumlah muridnya dalam kelas pun kurang dari lima belas orang. Berhubung sekolah itu juga minim fasilitas dan tidak memiliki lapangan olahraga, maka pelajaran olah raga dilakukan di jalan dan di taman kota. Biasanya pemanasan dilakukan dengan mengelilingi jalan-jalan yang terdiri atas gang-gang, dilanjutkan dengan SKJ (Senam Kesegaran Jasmani) di taman kota.

Suatu hari, selesai pelajaran olah raga, entah kenapa ada seorang laki-laki yang terganggu jiwanya mengejar kami (saya dan teman-teman), maka pada saat itulah kesadaran akan perlunya lari dimulai. Saya dan teman-teman pun berlari menghindari kejaran pria tidak waras itu dari taman kota, hingga kami kembali ke sekolah yang terletak di seberang taman.

Kali berikutnya saya merasakan perlunya berlari adalah saat di sekolah diadakan imunisasi gratis. Berhubung saya sangat takut jarum suntik, saya ingat saya dan teman-teman sekelas saya lari dari sekolah (saya satu-satunya murid perempuan yang ikut kabur dari sekolah), menyusup keluar saat adik-adik kelas kami sedang menerima entah vaksin apa. Berhubung tenaga guru di sekolah kami memang terbatas, pada awalnya tak seorang pun yang menyadari bahwa kami telah pergi meninggalkan sekolah. Satu-satunya yang menyebabkan pelarian kami terungkap adalah saat bendahara dan ketua kelas melapor pada guru.

Saya ingat, betapa guru saya yang juga masih harus mengajar murid-murid di kelas lainnya (selain kelas saya) tidak dapat meninggalkan kelasnya untuk mengejar kami yang lari dari sekolah. Jadilah sisa murid yang lain yang diminta mencari ke mana kami minggat dan menyuruh kami balik ke sekolah, dengan jaminan kami tak perlu diimunisasi jika tidak bersedia. Yang saya ingat, sebelum saya dan teman-teman kembali ke sekolah, kami masih sempat mendaki semacam gundukan tanah yang berakhir di jalan layang.

Saat saya beranjak remaja, saya menderita anemia, sehingga saya tidak pernah bisa menyelesaikan pelajaran olah raga. Ketika pemanasan, baru berlari beberapa putaran, mata saya sudah keburu berkunang-kunang, dan  karenanya, lari tidak pernah menjadi kegiatan kesukaan saya.

Meski begitu, saat saya kuliah dulu, saat terdesak, saya lari juga. Misalnya, saat dosen saya yang sok killer membuat aturan melarang mahasiswanya mengikuti mata kuliahnya jika terlambat masuk kelas; maka mau atau pun tidak, saya pernah suatu kali berlari dari lantai dasar hingga ke ruangan kuliah yang terletak beberapa lantai di atasnya; mengundang cemooh dari para mahasiswa senior yang menganggap saya terlalu heboh.

Juga, saat saya harus memastikan bisa segera tiba di rumah setelah mengikuti ibadah; memastikan saya tidak tertinggal untuk menyaksikan lap pertama balapan Formula One kesukaan saya di televisi lokal, saya pun dengan serta-merta berlari, tanpa menghiraukan tatapan heran dari orang-orang di jalan yang saya lewati.

Sekarang pun, jika saya sudah sangat terlambat menghadiri suatu event, saya kadang masih berlari-lari kecil. Meskipun lari tidak pernah menjadi olah raga kesukaan saya; saya terkadang masih terpaksa berlari juga.

Dan saya berlari kecil juga, saat bercanda dengan anjing-anjing saya, mengejar mereka di lorong sempit rumah saya.

Untunglah, meski saya agak terobsesi dengan kata lari, saya tidak pernah terpikir untuk lari dari kenyataan😛 Dan semoga tak seorang pun dari kita lari dari kewajiban menjalani hidup kita dengan sebaik-baiknya😊

Tidak ada komentar: