Translate

Total Tayangan Halaman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Selasa, 20 Juni 2017

Dear Facebook #20

Dear Facebook,

Hidup adalah sejumput kegelisahan. Apa yang hanya sejumput itu, perlu ditebarkan. Sebab, jika yang cuma sejumput itu dikumpulkan, awalnya memang sejumput, tapi lama-kelamaan berubah menjadi lumut. Ya, hijau memang lumut itu, tapi jangan tertipu dengan hijaunya! Jangan kau biarkan lumut itu membatu!

Kutebarkan sejumput kegelisahan itu. Di antara baris-baris puisiku, di antara kalimat-kalimat yang menghuni kalbuku, di antara pemikiran-pemikiran tergelapku, di antara pertanyaan dan pencarian, di antara pemahaman dan kesadaran, di antara bertahan dan berjuang, di antara melupakan dan mengenang, di antara naif dan kekanakan, di antara lugu dan lucu. Bahkan, saat harapan terasa wagu. 

Sejumput itu kutebarkan, saat ku tahu sahabatku mencoba bertahan, di antara ketidakpastian akan masa depan, dan kecemasan yang sesekali masih mencengkeram. Dahulu, di lingkaran waktu yang purba, kutebarkan sejumput kesedihan, saat orang-orang tercintaku, akarku, rumpunku menghilang. Kini, waktuku menebarkan sejumput lagi ketidakberdayaan, karena aku tak kuasa memupuskan gurat kekhawatiran yang diukirkan hidup, yang mengambil bentuk berupa pemikiran tergelapnya, yang menyusup masuk di benak sahabat-sahabatku. 

Kutebarkan sejumput lagi keresahan, karena tak dapat kukumpulkan mereka yang tak tahu caranya bertahan, mereka yang tak memahami bahwa kadang, bahkan nyaris selalu, berjuang itu harus mati-matian. Jika belum lagi mati-matian, engkau sudah lelah dan menyerah kalah, bagaimana engkau akan memaknai kehidupan? 

Kutebarkan sejumput rasa sakit, sebab ku tak dapat mengajari, tak peduli orang mencoba mengerti atau menolak memahami, saat kalimat-kalimatku menjelma menjadi bahasa baru yang tak dapat dimengerti, terkadang diam dan bisuku semakin sulit dipahami. Mungkin saat itu adalah saatmu mempelajari, betapa hidup sudah mengguratkan kekecewaan, saat pahlawan pun tidak ingin lagi berjuang, karena tidak ada lagi yang laik diperjuangkan.

Di antara keinginan-keinginanku yang menjelma menjadi bahasa purba, masih ada sejumput asa berusaha lari dari pemikiran-pemikiran tergelapku; dia mencoba lari dari menjadi tawanan. Saat dia berhasil nanti, dia akan menjelma menjadi bahasa baru yang belum lagi dipelajari. Tak akan dapat engkau kuasai, jika engkau belum mencoba berjuang sekali lagi, dengan sisa nafas terakhirmu.

Ya, hijau memang lumut itu; tapi jangan engkau menjadi pecundang, dan membiarkannya membatu! Ingat, yang sejumput itu, perlu kau tebarkan laksana abu!

Tidak ada komentar: