Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Senin, 19 Juni 2017

Dear Facebook #19

Dear Facebook,

Hari ini hari Senin. Karenanya, saya ingin bicara tentang hal-hal yang dibenci manusia, seperti : "I hate Monday" - ungkapan ini sering saya temukan di mana-mana. Di status bbm, di status media sosial, bahkan di display picture juga. Senin sering ditengarai sebagai hari terberat. Senin berarti bekerja kembali dan Jumat berarti hari terakhir bekerja - ya, TGIF di mana-mana. Tentunya kondisi ini tidak sama di semua tempat. Ada sebagian orang yang masih bekerja, bahkan pada hari Sabtu dan Minggu. Bahkan, tiada kesempatan berlibur sama sekali, dan dengan jam kerja yang berat pula. Terkadang, keharusan bekerja keras, membuat hidup terasa seperti perbudakan. Manusia diperbudak oleh keperluan mencari nafkah. Menjadi begitu rendah dan lelah. Menjadi begitu gelisah dan resah. Melihat tingkat kesejahteraan manusia yang satu, yang begitu berbeda dengan manusia yang lainnya, kadang membuat manusia menjadi gerah.

Begitu gerahnya, sehingga kemudian timbul yang namanya kecemburuan sosial, karena kesenjangan finansial antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya begitu berbeda; atau pun antara segolongan yang satu dengan segolongan yang lainnya. Tetapi, bukankah sifat manusia memang begitu? Gampang cemburu melihat keberuntungan manusia lainnya. 

Yang lucu, ada saja manusia  yang mengangkat dirinya seolah konsultan keuangan. Sibuk menasihati orang untuk berhemat, padahal tidak ada yang meminta nasihat keuangan darinya. Salah satu "financial planner" amatiran itu menasihati teman saya untuk berhemat; padahal teman saya ini, jelas-jelas tidak punya cukup banyak uang untuk dihamburkan, dan karenanya berfoya-foya tidak pernah masuk di dalam agendanya. Lebih lucu lagi, "financial planner" berikutnya, menasihatinya untuk lebih sering menabung dan membeli properti untuk investasi di hari tua, sementara teman saya yang notabene adalah tulang punggung keluarga, jelas-jelas menghabiskan sebagian besar pendapatannya untuk menyokong kebutuhan keluarganya.

Berhubung teman saya ini jenis orang yang sangat sopan, dia tidak membantah dan hanya diam saja. Dia hanya bercerita pada saya, tentang rasa kesalnya terhadap para "financial planner" gadungan yang sibuk menguliahinya, yang bagi teman saya, begitu enaknya mereka bicara. Bagaimana menabung dan berinvestasi dengan membeli properti jika tidak ada uangnya?

Saya sendiri, lumayan jarang mendapat nasihat keuangan dari "financial planner" gadungan. Mungkin, karena saya terlalu bias mengungkapkan, bahwa saya lebih suka buku daripada uang; walaupun membeli buku, ya tetap pakai uang.

Tidak ada komentar: