Translate

Total Tayangan Halaman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Minggu, 18 Juni 2017

Dear Facebook #18

Dear Facebook,

Hari ini, izinkanlah saya untuk menceritakan sebuah kisah :

Ini adalah kisah tentang seorang perempuan dengan api di matanya, api di dadanya, api di kaki dan tangannya. Dan bahkan, ada pula api di bibir, mulut, dan lidahnya. Saat ia bicara, api itu memercik ke dalam kata-katanya. Api itu menghangatkan mereka yang beku, yang nyaris mati oleh kedinginan. Tetapi, api itu juga menghanguskan, membakar.

Mulanya, orang-orang menyukai keberadaan perempuan dengan api itu. Di saat hawa dingin menelusup, api yang memercik dari perkataan perempuan itu, menciptakan bara di udara. Perlahan, udara menjadi lebih hangat. Tapi, udara tak selamanya dingin. Musim penghujan sudah lama berlalu. Kini kekeringan datang. Musim kemarau menyebabkan hutan meranggas. Pohon-pohon yang tadinya hijau kini tampak layu, menguning. Perempuan dengan api itu masih seperti biasa. Berbicara dengan memercikkan api ke mana-mana. Sayangnya, bara yang keluar dari mulutnya, terbawa angin ke arah tumpukan daun mati di tanah. Dengan cepat bara itu membakar dedaunan. Asap mengepul ke udara panas. Tak lama api semakin tinggi, dari tanah melenting ke pohon-pohon kering yang meranggas. Api pun bergulung naik, melalap hutan, menyambar juga hingga ke atap rumah. 

Rumah demi rumah terbakar hangus. Para penghuninya lari pontang-panting. Angin yang bertiup membuat api menyebar kian cepat ke pemukiman penduduk. Harta tak sempat diselamatkan dan dibawa lari keluar. Dengan cepat rumah dan isinya terlalap api. Untunglah para penghuni rumah semuanya berhasil selamat. Semuanya berhasil lari ke luar rumah.

Setelah api pada akhirnya berhasil dipadamkan, dengan air sungai yang belum sepenuhnya mengering; setelah segala daya upaya dikerahkan; setelah penduduk desa akhirnya bisa menarik nafas lega karena terlepas dari bahaya, mulailah mereka menyadari kerugian mereka, mulailah mereka menjadi murka. Gerutu dan keluhan dengan cepat berganti menjadi caci-maki dan angkara. Mereka pun sepakat pada satu kesimpulan: perempuan dengan api itu biang keladinya.

Mereka lalu berkumpul bersama di balairung yang kini hanya tinggal kerangka gosong kehitaman. Mereka pun memaksa dengan teriak mereka agar perempuan dengan api itu diberi hukuman. Masalahnya, mereka sebenarnya juga tahu, perempuan dengan api itu bukannya sengaja membuat mereka celaka. Beberapa orang yang berkawan dengan perempuan itu berusaha membela. Apa daya, mereka kalah suara. Hanya beberapa orang melawan seisi desa.

Meski perempuan dengan api itu tak bermaksud mencelakai mereka, penduduk desa tak bersedia memaafkan dia begitu saja. Putusan pun dijatuhkan. Hukuman mati bagi perempuan itu. Percuma kawan-kawannya mengiba, "Dia  bukan sengaja ingin mencelakakan kita." Penduduk desa bertambah marah mendengar pembelaan itu. "Tidak! Dia memang biang petaka!", demikian teriak mereka bersama-sama. Entah bagaimana mereka bisa satu suara, meneriakkan kalimat yang sama. 

Perempuan dengan api ditetapkan bersalah dan harus dijatuhi hukuman mati. Dia dianggap sudah berencana sejak lama, untuk meluluh-lantakkan desa dengan api di matanya, dengan api di dadanya, dengan api di kaki dan tangannya. Bahkan, membakar pula dengan api di bibir, mulut, dan lidahnya. Tak kepalang tanggung, dia membakar pula dengan api yang memercik dari kata-katanya. Beberapa orang bahkan bersaksi bahwa mereka mendengar sendiri, perempuan dengan api itu memang berencana membakar desa, juga membakar hutan pula, tempat penduduk desa mencari makan dengan mengumpulkan kayu bakar, damar, dan rotan.

Di balairung hangus itu, yang gosong kehitaman, perempuan dengan api itu dijatuhi hukuman mati. Penduduk desa menikamnya berkali-kali dengan belati kebohongan. Tak cukup dengan belati; mereka juga memukulinya dengan sanggurdi. Laksana kuda, dia dihela ke sana-sini. Perempuan dengan api itu pun mati.

Ruhnya belum ingin meninggalkan bumi. Arwahnya masih berkeliaran ke sana-sini. Bahkan, lama setelah penduduk desa menyelesaikan renovasi, dan musim telah berganti. Ruh perempuan dengan api masih menghantui. Sesekali suara lirihnya terdengar terbawa angin, bahkan gemanya terdengar pula hingga ke ngarai dan lembah. Terkadang, wujud perempuan itu juga nampak. Sekalipun, kini berwujud ruh, masih ada api di matanya, masih ada api di dadanya, masih ada api di kaki dan tangannya. Bahkan, masih ada api di bibir, mulut, dan lidahnya. Juga, masih ada bara api memercik dari lirih kata-katanya.

Sekian.

Tidak ada komentar: