Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Jumat, 16 Juni 2017

Dear Facebook #16

Dear Facebook,

Beberapa hari ini, entah kenapa, saya jadi teringat lagu-lagu yang dinyanyikan The Corrs, yang sudah bertahun-tahun tak pernah saya nyanyikan lagi. Mungkin, selera musik saya memang sudah berubah. Salah satu yang terus terngiang tanpa sengaja, dalam benak, adalah lirik lagu Would You Be Happier, terutama bagian yang ini, "Do you ever think you're someone else inside, when no one understands you are (you are)? And wanna disappear inside a dream but never wanna wake, wake uuuuuup? Then you stumble on tomorrow, and trip over today?"  Dan bagian yang ini, "Would you be happier if you were someone together? Would the sun shine brighter if you played a bigger part? Would you be wonderful if it wasn't for the weather?"

Bagian pertama yang saya sebutkan bicara tentang bagaimana tak seorangpun yang memahami kita. Bagian keduanya bicara tentang apakah kita akan lebih bahagia seandainya ... ini dan itu.

PEMAHAMAN dan PERAN. Keduanya menjadi kebutuhan manusia untuk terus bisa eksis. Ya, eksistensi manusia ternyata tidak luput dari kebutuhan akan pemahaman dan peran. Pemikiran maupun perasaan bahwa kita tidak dipahami bisa menyeret manusia ke arah depresi. Juga kelelahan mental akan peran yang harus kita lakoni, ataupun keperluan akan hal-hal yang menurut kita seharusnya kita miliki, terkadang membuat manusia jadi sering bersikap antipati; baik antipati terhadap orang lain, maupun terhadap diri sendiri.

Saya mengenal seorang perempuan setengah baya yang tadinya penuh dengan kemarahan dan rasa tidak puas. Dia bersikap seolah dunia berhutang sesuatu kepadanya dan mangkir dari kewajiban membayar padanya. Sejujurnya, mulanya saya ingin lari. Orang semacam ini membuat saya tak nyaman sendiri. Tapi, entah kenapa, saya mau tak mau, senantiasa, tanpa sengaja harus berurusan dengannya.

Seperti biasa, saya menceritakan apa adanya pada sahabat saya. Dia lalu memberi pandangan mengenai perempuan setengah baya itu. 'Mungkin dia hanya butuh didengar.', begitu tebakan sahabat saya. 'Mungkin sebelumnya, tak seorangpun yang bersedia mendengar.', 'Mungkin, dia tidak punya teman yang bisa menjadi tempat baginya untuk mencurahkan isi hati.'

Wah, saya tak menyangka, sahabat saya ternyata bijaksana sekali.

Jadi, saya mengikuti sarannya. Belajar menyediakan telinga. Mendengar keluh kesahnya, kemarahannya, perasaan dan pemikiran bahwa dia dicurangi, bahwa hidup penuh dengan ketidakadilan. Saya hanya menawarkan empati, bukan solusi. Dan, saya pada dasarnya menyadari, bahwa manusia lebih butuh dimengerti, bukan dijejali aneka solusi. Cuma perlu disodori empati, bukan disumpal dengan elegi.

Memangnya kenapa, jika ada yang lebih menderita dari kita? Penderitaan yang dialami orang lain (yang lebih berat dari penderitaan kita) tidak serta-merta membuat penderitaan kita menjadi lebih ringan untuk ditanggung!

Sejujurnya, dulu jika orang mengeluh tentang pekerjaan yang mereka benci, saya dalam hati akan membatin, 'Setidaknya kamu punya pekerjaan untuk dibenci. Ketimbang mereka yang masih mencari-cari pekerjaan, mereka yang dicap pemalas, terlalu pilih-pilih, dan lain sebagainya.' Dan dulu, jika ada orang yang berkata bahwa mereka lelah dengan kenakalan anak-anak mereka, saya dalam hati akan berujar, 'Setidaknya kamu memiliki anak-anak yang membuatmu lelah. Ketimbang perempuan lain yang masih berusaha memiliki anak dan diam-diam digunjingkan mandul.' Pendeknya, dulu saya tidak menyodori empati, hanya menyumpal dengan elegi. Saya "membunuh" empati, dengan dalih, 'Masih banyak manusia lain yang hidup dengan penderitaan tak terperi.', hingga empati itu tak sempat tumbuh, keburu mati; sehingga lagi-lagi, yang tersisa hanya elegi.

Uniknya, seiring saya belajar untuk mendengar dan berempati, perlahan perempuan setengah baya itu mulai reda amarahnya, meski sesekali masih gusar, tapi dengan cepat juga belajar melerai emosinya, bahkan juga, belajar menertawakan kemalangan diri sendiri. Dari sibuk memerangi musuh yang tak terlihat, dia belajar berdamai dengan diri sendiri dan keadaan. Bahkan, yang paling menakjubkan, dia kemudian juga mulai berperan untuk mulai mengindahkan keperluan dan kemalangan orang lain. Belajar menolong; tentu saja sesuai dengan kemampuannya. Tidak serta-merta menjadi Bunda Teresa.

Tapi, ada perbedaan besar, antara orang yang dirundung duka dan kesulitan, hingga menjadi getir, pahit, dan penuh amarah; dengan orang yang memang hanya ingin kenyamanan dan kemewahan di dalam hidup, enggan berjuang, dan hanya bisa iri hati, jika melihat orang lain yang dianggapnya lebih beruntung, dan menyombongkan diri, jika melihat mereka yang harus berjuang mati-matian untuk mempertahankan diri dari keterpurukan. Keduanya jelas berbeda.

Tidak ada komentar: