Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Kamis, 15 Juni 2017

Dear Facebook #15

Dear Facebook,

Bagi saya, segala sesuatu yang berkaitan dengan waktu itu agak menyebalkan. Saya benci membuat janji, mencocokkan waktu. Benci pula jika diminta menyanggupi, untuk datang pada suatu waktu yang sudah ditentukan lebih dulu. Masalahnya, saya benci menunggu, juga benci ditunggu.

Segala sesuatu tentang waktu membuat saya selalu agak sebal. Menunggu bisa sangat membosankan. Ditunggu juga melelahkan. Membuat orang jadi tegang, terburu-buru, dan cenderung membuat banyak kesalahan.

Dua hari berturut-turut saya harus pergi ke bank. Seperti biasa mengambil nomor antrian. Memelototi angka di papan. Nomor antrian dan nomor counter bersebelahan. 

Itu menunggu yang kecil saja. Menunggu yang lebih besar lebih menjengkelkan dan lebih mengganggu. Seperti menunggu waktu untuk menyingkapkan takdirmu. 

Seperti dulu, ketika mendiang nenek tiba-tiba divonis dokter dengan penyakit langka, yang bahkan tak saya ketahui namanya. Jumlah sel darah merah dan sel darah putihnya berubah-ubah, membuat seisi keluarga juga kehilangan arah. Menunggu keajaiban, nenek bisa disembuhkan; tapi tidak pernah terjadi. 

Lalu, menunggu lagi. Menunggu keajaiban, ayah saya bisa disembuhkan ketika divonis dokter dengan kanker paru-paru. Nyatanya, keajaiban tidak terjadi. Seperti abu mendiang ayah yang sebagian hanyut di laut, juga ada yang diterbangkan angin; keajaiban juga hanyut, keajaiban juga terbang; meski tidak hanyut di laut, meski tidak diterbangkan angin.

Lalu, menunggu lagi. Menunggu luka itu sembuh. Menunggu hingga menyadari, bahwa luka itu ternyata nyeri. Menunggu memahami bahwa luka memang tak apa terasa nyeri. Menunggu mengerti bekas luka itu tak apa sekalipun tak sirna. Menunggu terbiasa dengan bekas luka yang ada. Menunggu keajaiban lain terjadi (apakah akan terjadi?), bahwa luka tak selamanya akan nyeri.

Saya benci menunggu. Saya benci ditunggu. Saya benci segala sesuatu yang berhubungan dengan waktu ...

Tidak ada komentar: