Translate

Total Tayangan Halaman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Rabu, 14 Juni 2017

Dear Facebook #14

Dear Facebook,

Kali ini saya ingin bercerita tentang kantuk, mimpi, dan inspirasi. Sejujurnya, beberapa waktu yang lalu saya sangat mengantuk. Setelah menikmati gelas kopi kedua hari ini, saya siap menulis lagi. Ya, mungkin cuma sugesti. Namun; rasa pahit kopi bercampur gurihnya susu cair yang terasa di lidah, entah bagaimana bisa membuat saya bersemangat untuk menulis kembali.

Pada dasarnya, menulis memerlukan inspirasi. Untuk menemukan inspirasi, saya bisa membaca hingga berganti hari,  dari malam sampai pagi. Akibatnya, kantuk tanpa henti. Bangun kesiangan lagi. Diakali dengan kopi lagi. Memastikan pikiran cukup jernih untuk menulis lagi.

Di antara membaca, saya selingi dengan menonton juga.

Tadinya, saya suka berganti-ganti merk kopi, mencoba juga berbagai rasa. Meski, konon kopi tanpa gula lebih berkhasiat ketimbang yang aneka rasa, yang dijejalkan bersama-sama. Ada krim, ada cokelat, ada gula, ada moka. Bahkan ada pula matcha, hingga vanilla. Aneka rasa saya coba semua. Lalu bosan sendiri. Tidak yakin mana yang benar-benar saya sukai.

Suatu hari, saya secara random memilih menonton serial Pretty Little Liars untuk mencari inspirasi. Akhirnya kecanduan sendiri. Menonton dari pagi ke pagi. Dan tidak terinspirasi untuk menulis sama sekali. Hanya kecanduan saja. 

Yang saya amati, justru kebiasaan minum kopi karakter-karakternya. Spencer suka strong coffee, meski rasanya tidak enak sama sekali. Saya suka karakter Hanna dan ibunya, Ashley. Mereka suka membawa termos berisi kopi. Kopi hitam dituang ke dalam termos, lalu mengambil susu cair dari dalam kulkas dan dituang juga ke dalam termos. Ashley sekarang siap berangkat ke kantor dan Hanna berangkat ke sekolah.

Karakter yang lain rata-rata juga suka minum kopi. Ezra membuka toko buku, sekaligus toko kopi. Emily yang menjadi baristanya. Saya jadi "bermimpi", kelak ingin punya toko buku sekaligus toko kopi juga. Mungkin kelak belajar jadi barista pula. Meski rasanya, saya lebih baik tidak mempelajari art latte; karena bakat menggambar saya di bawah rata-rata. 

Ezra dan Aria, selain suka kopi, juga suka puisi. Saya pun "bermimpi" lagi. Toko kopi saya akan ada di lantai teratas sebuah gedung, dilengkapi dengan ruangan kedap suara. Akan ada open mike juga. Semua bebas membaca puisi. Meneriakkan sajak keras-keras pada pukul lima pagi. Supaya seniman-seniman sinting yang insomnia, yang kecanduan kopi seperti saya, bebas membacakan kemarahan mereka. Semua berawal pada pukul lima pagi. Entah mengapa, bagi saya, ada sesuatu yang puitis pada pukul lima. 

Bukankah jari tangan kita ada sepuluh? Lima di kanan, dan lima di kiri. Bagi saya, lima adalah setengah tangan. Pukul lima seolah setengah perjalanan. Setengah sudah dijalani, setengahnya lagi, belum lagi dimulai.

Jadi, bermula akan pencarian akan inspirasi, saya harus berjuang di antara kantuk. Jika sudah telanjur terlelap, kadang-kadang bisa mendapat inspirasi dari mimpi juga. Meski ketika bangun tidak sepenuhnya ingat. Saya tidak bisa menuliskannya hanya dengan mengandalkan sepotong ingatan yang tidak begitu jelas. Di antara gelas-gelas kopi, saya terjaga, tapi juga "bermimpi". Dan karena karakter Hanna dan Ashley, saya kini hanya minum kopi tanpa gula, dicampur dengan susu cair tanpa rasa. Sudah, itu saja.

Tidak ada komentar: