Translate

Total Tayangan Halaman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Senin, 12 Juni 2017

Dear Facebook #12

Dear Facebook,

Sejak tahun 2000 atau 2001, saya sudah mulai menjadi penggemar Formula One. Tadinya karena tanpa sengaja menonton tayangan live sebuah grandprix. Saya cuma merasa lucu melihat mobil-mobil balap memutari trek lap demi lap. Mengingatkan saya akan mainan tamiya. Itu pun menontonnya tanpa sengaja setelah mengganti-ganti channel televisi tanpa ada acara yang cocok di hati. Lalu, saya membaca sebuah artikel tentang Jacques Villeneuve di Majalah Kawanku (majalah ini baru saja punah, bertransformasi menjadi majalah online, dengan nama baru). Mulanya, saya kagum dengan JV karena menurut saya dia itu pemberani. Ayah JV, Gilles Villeneuve meninggal dalam sebuah insiden balap. Namun, JV tetap berniat mengikuti jejak ayahnya untuk menjadi pebalap. Meski, konon ayah JV jauh lebih hebat dari anaknya, tapi JV berhasil lepas dari bayang-bayang nama besar ayahnya dan berhasil menjadi juara dunia Formula One, gelar yang tidak sempat diraih oleh mendiang ayahnya. Saya mengagumi JV karena keberaniannya menempuh resiko dengan menjadi pebalap. Selain itu, saya juga mengagumi JV karena dia berani mengungkapkan pendapat dengan apa adanya, ceplas-ceplas tanpa memusingkan apakah orang akan tersinggung atau tidak. Jujur sejujur-jujurnya. 

Ketika saya mulai mengikuti tayangan Formula One di televisi, karir JV juga mulai surut. Hingga akhirnya JV pensiun dari Formula One, dia tidak pernah meraih gelar juara dunianya yang kedua. 

Lalu, tanpa sengaja saya membaca tentang calon rookie bernama Kimi Raikkonen di Harian Kompas. Saat melihat fotonya, yang pertama saya pikirkan adalah deskripsi Sidney Sheldon di salah satu novelnya (saya lupa yang mana) yang menggambarkan "sorot mata yang memancarkan kecerdasan"; bagi saya, sorot mata itulah yang terpancar dari tatapan mata seorang Kimi Raikkonen. Saat itu Kimi tengah berjuang mendapatkan super licence untuk bisa membalap di Formula One. Dan pada balapan pertamanya di Formula One, Kimi langsung mencetak poin. 

Seperti JV, Kimi juga saya kagumi karena caranya bicara. Dia juga selalu terus terang saat bicara (meskipun bisa diplomatis juga, seturut arahan humas team-nya). Bedanya dengan JV, Kimi tidak suka banyak bicara. Tapi sekali bicara, perkataannya menjadi legenda dan dikutip di mana-mana. O ya, saya lupa menyebutkan, baik JV maupun Kimi, keduanya sama-sama sarkastis; sebab itu, keduanya saya puja. 

Penggemar Kimi pasti tahu kalimat apa saja yang demikian populernya, sampai ada yang dicetak di kaus sebagai merchandise. Di antaranya adalah "Leave me alone. I know what I'm doing."; kalimat yang dilontarkan Kimi karena sebal dicereweti (mungkin Kimi merasa konsentrasinya membalap jadi terganggu, sehingga melontarkan kata-kata itu). Dan yang sering diucapkan Kimi saat diwawancarai adalah "Bwoah" sampai Kimi dijuluki Mr Bwoah. Ya, Kimi Raikkonen memang seunik itu 😍

Tentu, banyak kualitas lainnya dari seorang Kimi Raikkonen. Saya tidak bisa menceritakan semuanya. Tapi, jika di antara pembaca tulisan ini ada yang sungguh-sungguh ingin tahu, silakan kunjungi blog saya. Bacalah tulisan saya yang berjudul "Formula One Bagi Saya - Oleh: Selvia Lusman" atau "Belajar tentang Hidup dari Formula One" (bisa ditemukan di label Formula One, di postingan lama). Kimi memang seinspiratif itu 😗😘

Tidak ada komentar: