Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Minggu, 11 Juni 2017

Dear Facebook #11

Dear Facebook,

Dulu, saya pernah membaca sebuah artikel (saya lupa siapa yang menulisnya) berjudul "Sastra Tak Harus Politis" Saya juga tidak seberapa ingat isinya. Rasanya saya harus membuka-buka lagi lembaran kliping sastra yang saya kumpulkan saat remaja dulu. Dan bukan! Kliping sastra itu saya buat bukan karena itu bagian dari pekerjaan rumah dalam pelajaran bahasa Indonesia, tapi memang karena hobi saja. 

Jika saya yang disuruh menulis artikel tentang sastra, mungkin judulnya lebih kurang akan sama, tapi tentu kualitas tulisannya mungkin akan jauh berbeda. Lebih kurang judulnya akan berbunyi, "Puisi Tidak Harus Njelimet (rumit)" 

Karena saya bersikeras bahwa puisi tidak harus njelimet, itu sebabnya penyair kesukaan saya tentu penyair yang puisi-puisinya tidak njelimet. Bahasa sederhana, lugas, tepat sasaran, ora neko-neko (tidak macam-macam), tapi tetap puitis dan pastinya sarat makna. Saya menyukai puisi-puisi Chairil Anwar, Khalil Gibran, dan M. Aan Mansyur. Tentu, semua orang yang mengaku menyukai puisi pasti juga menyukai puisi-puisi karya Sapardi Djoko Damono. Selain itu, saya juga menyukai puisi-puisi yang ditulis Arswendo Atmowiloto yang ditulisnya saat menginap di hotel prodeo, dibukukan dengan judul Sebutir Mangga di Halaman Gereja. Berhubung saya membelinya early bird, saya juga mendapatkan tanda tangan dari penyairnya yang keliru membubuhkan nama saya. 

Jadi, saya juga berharap, suatu hari saya akan menerbitkan buku kumpulan puisi saya sendiri. Dan di dalam prosesnya tidak akan melibatkan saya menginap di hotel prodeo seperti Arswendo. Dan jika penerbitnya mengaturkan pembelian early bird dengan bonus tanda tangan saya; saya akan berusaha sebisanya untuk tidak salah menuliskan nama pemesannya. 

Baik, cukup berandai-andainya! 

Kembali ke topik semula : puisi tidak harus rumit! Saya pernah membaca Gitanjali (buku kumpulan puisi yang ditulis oleh Rabindranath Tagore, yang konon memenangkan hadiah nobel sastra). Memang puisi-puisinya sangat puitis dan indah; tapi juga sangat melelahkan membacanya, karena bagi saya sukar untuk dicerna. Jadi, pada akhirnya, saya tetap lebih menghargai penyair negeri sendiri; sekalipun mereka tidak/belum menerima hadiah nobel sastra.

Tidak ada komentar: