Translate

Total Tayangan Halaman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Jumat, 09 Juni 2017

Dear Facebook #10

Dear Facebook,

Sebuah peribahasa berkata, "Malu bertanya, sesat di jalan." Peribahasa yang kalau diartikan dan dikerjakan secara harafiah, belum tentu hasilnya sesuai teori. Misalnya saja dengan menanyakan arah, kalau seturut peribahasa, seharusnya kita tidak akan tersesat di jalan. Nyatanya, kita bisa lebih tersesat dari sebelumnya dengan menanyakan arah pada orang yang salah. 

Ini pengalaman nyata. Ketika menemani teman saya mencari baterai original di sebuah mall; teman saya menanyakan letak sebuah counter. Dia bertanya pada security mall itu yang lalu mengarahkannya menuju ke beberapa lantai dari tempat kami pertama bertanya. Setibanya di lantai yang dimaksud (dengan menggunakan lift); karena putus asa sekali jika diikuti dengan menanyakan juga letak eskalator (berhubung mall-nya lumayan luas dan tidak terlihat sama sekali letak eskalatornya ada di mana), kami berputar-putar mengelilingi lantai itu, hanya untuk mendapati counter yang kami ingin tuju tidak ada di lantai itu. Jadi, kali ini teman saya bertanya pada cleaning service yang sedang mengepel lantai (dengan ditemani papan peringatan bertuliskan "Caution - Slippery when wet") yang lalu mengarahkan kami untuk naik beberapa lantai lagi.  

Masuk ke lift lagi, bertemu dengan petugas penjaga lift (yang itu-itu lagi), kami naik beberapa lantai lagi, berputar-putar lagi mencari counter yang dimaksud. Diselingi rehat ke toilet, bertanya kepada mbak penjaga toilet, lalu bertanya lagi (saya lupa kepada siapa lagi, mungkin security atau pegawai yang bertugas membagikan brosur), kami lalu turun dua lantai. Dan ya, menggunakan lift lagi. Dan ya, bertemu petugas lift yang itu-itu lagi. Dan tidak! Saya tidak mau tahu apa yang dipikirkan penjaga lift itu melihat wajah-wajah yang sama yang bolak-balik keluar-masuk lift untuk naik-turun lantai. 

Saya merasa malu, terganggu, dan dungu. Untunglah kali ini, counter sialan itu memang ternyata ada di lantai itu. Hanya untuk mendapati, counter itu hanya menjual smart phone, tapi tidak baterainya (saja). Setelah berputar-putar hanya untuk mendapati barang yang dicari ternyata tidak dijual di sana, saya mendadak ingin murka. 

Ya, untung saja tepat di seberangnya counter kedua yang ingin kami kunjungi, begitu saja terlihat oleh mata minus saya. Dari berburu baterai (yang tak jadi dibeli, karena tidak ada produknya), kami kini berburu baju dengan potongan harga hingga 70%. Mulanya merasa senang ikut mengaduk-aduk tumpukan baju di antara pengunjung lain yang berjejalan. Belakangan saya dan teman saya, sama-sama sakit kepala; lalu cepat-cepat membayar dan keluar.

Berburu baju (ternyata) tidak seberapa menghibur seperti berburu buku. Berputar-putar mencari counter smart phone tidak semenyenangkan berputar-putar di antara booth penerbit di saat pameran buku. Sebab di pameran buku, tersesat di antara booth yang satu dengan booth yang lain, tidak terasa seperti tersesat. Di antaranya, kami bisa mendapatkan pembatas buku gratis, pin, sticker, koran atau majalah bekas yang masih layak dibaca. Tidak menyebabkan depresi atau malu hati. Menyenangkan. Menyebabkan kecanduan.

Tidak ada komentar: