Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Kamis, 01 Juni 2017

Dear Facebook #1 (the sequel)

Dear Facebook, 

Mari kita berandai-andai sejenak.

Misalnya saja, suatu hari saya kehabisan uang, dan yang tersisa di dompet saya tidak lebih dari sebuah uang logam seribu rupiah. Saya meletakkan satu-satunya koin yang saya miliki itu di dalam dompet saya, yang lalu saya simpan di dalam tas. Tidak lama kemudian, saya meninggalkan ruangan tanpa membawa tas saya. Saya letakkan begitu saja tas milik saya itu di kursi yang tadinya saya duduki. Pada saat saya meninggalkan ruangan, tak seorang manusia pun yang terlihat berada di dalam ruangan itu. Ruangan itu kosong, hanya jajaran bangku yang disusun melingkar.

Selang beberapa waktu, saya masuk kembali ke dalam ruangan. Saya cukup terkejut karena ruangan yang tadinya kosong itu kini mendadak jadi penuh orang. Mereka semua sudah menempati kursi-kursi kosong yang ada. Satu-satunya kursi yang tersisa hanyalah bangku tempat saya meletakkan tas saya. Jadi saya pun kembali ke kursi yang sama yang tadi saya duduki.

Setelah duduk, saya bermaksud mengambil buku yang ada di dalam tas. Tapi, ada yang aneh. Dompet yang tadinya saya letakkan di bagian bawah, mengapa jadi tersembul keluar? Dengan spontan, saya memeriksa dompet saya. Satu-satunya uang logam yang saya miliki raib sudah. Siapa yang mencurinya?

Uang logam itu pasti dicuri, karena dompet saya tidak rusak. Jika tidak ada yang mengambilnya, tidak mungkin akan mendadak hilang. Merasa geram, saya dengan spontan berseru, "Terlalu! Satu-satunya uang logam yang saya miliki dicuri juga. Maling sialan!" 

Seruan gusar saya itu mengagetkan orang-orang yang duduk melingkar bersama saya di ruangan itu. Seorang di antara mereka balik berseru marah, "Kamu menuduh saya yang mencurinya?" Orang itu melotot ke arah saya, penuh kegusaran, meradang, membuat semua orang di ruangan itu melihat ke arah kami.

Saya tidak tahu bagaimana harus merespon. Tapi, saya punya beberapa teori mengapa orang itu menjadi murka karena seruan saya :

  1. Orang itu memang pencurinya, namun untuk menghilangkan kecurigaan, ia sengaja berakting marah.
  2. Orang itu memang pencurinya, dan ia merasa berhak mencuri apa pun dari siapa pun, dan seruan saya yang mengatakan bahwa perbuatannya itu keterlaluan, sudah membuatnya murka.
  3. Orang itu tidak mencuri uang saya, tapi mungkin sebelumnya dia pernah mencuri, dan karena khawatir dituduh sebagai pelakunya (meskipun kali ini dia tidak mencuri), maka ia mendadak menjadi berang.
  4. Orang itu tidak mencuri uang saya, mungkin juga tidak pernah mencuri apa pun dari siapa pun, namun dia dikenal sebagai orang yang serba kekurangan. Ia khawatir akan dicurigai sebagai pencuri, karena ia memiliki motif. Sebab itu, sebelum tuduhan pencurian itu diarahkan padanya, ia sudah lebih dulu bersikap defensif.

Namun, dari 4 teori di atas, ada yang dapat saya simpulkan; keempatnya jelas menyiratkan satu hal : perasaan tidak aman.

Seprinsip dengan itu, mungkin saja, secara tanpa sadar, saya mengungkit perasaan tidak aman orang lain ketika saya dengan tanpa memiliki maksud apa pun berkata bahwa saya benci orang-orang yang hanya bisa berjanji, tapi tidak memiliki cukup komitmen untuk menepati janji yang sudah mereka buat sendiri. Atau ketika saya tanpa sadar berujar bahwa seharusnya orang tidak melalaikan apa yang menjadi kewajiban mereka.

Mungkin, rasa tak aman itu sebelumnya tidak terdeteksi, tapi saya sudah menjadi pencetus rasa tidak aman itu muncul ke permukaan; maka saya pun mengundang kegeraman, karena dianggap telah menuduh, mengkritik, menghakimi, membenarkan diri sendiri, dan merendahkan orang lain; sebab rasa tidak aman yang tadinya rapi terkubur di dasar, tiba-tiba saja menyeruak bermunculan. 

Nah, berbicara tentang perasaan tidak aman, saya jadi teringat salah satu dialog dalam film American Beauty (1999) di mana tokoh bernama Angela Hayes berkata dengan nada jengkel, "I am so sick of people taking their insecurities out on me." yang terjemahan bebasnya kira-kira demikian, "Aku sangat muak dengan orang-orang yang melampiaskan ketidakamanan mereka kepadaku." Sejujurnya, tentu tidak ada orang yang akan suka jika dijadikan pelampiasan rasa tak aman orang lain.

Lagi pula, jika rasa tak aman itu bukan saya yang menciptakan, tapi sudah terbentuk dengan sendirinya di dalam orang yang sudah saya buat berang itu, bersalahkah saya? Jika saya sama sekali tidak berniat membuat rasa tak aman itu tiba-tiba meluap seperti air bah, tapi nyatanya keberadaan saya memicu timbulnya air bah itu, apakah itu membuat saya menjadi bersalah? Bukankah rasa tak aman itu bukan milik saya? Mengapa saya yang harus disalahkan dan dijadikan pelampiasan amarah? Mengapa tuduhan itu diarahkan kepada saya? 

Saya tidak tahu bagaimana persisnya mengatasi perasaan tidak aman. Tapi satu hal yang saya tahu, tidaklah dewasa menjadikan orang lain sasaran kemarahan dari perasaan tidak aman yang dialami. Semoga saja, lebih banyak orang mengenali perasaan tidak aman yang mereka miliki, mengatasinya, dan tidak mengkambinghitamkan orang lain untuk semua rasa tidak aman yang mencengkeram mereka.

Tidak ada komentar: