Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Senin, 29 Mei 2017

Review Novel "47 Ronin"

*Review novel ini kudedikasikan untuk Herny S. Yahya yang menghadiahi saya buku ini.

Novel yang ditulis oleh John Allyn ini bercerita tentang samurai bernama Lord Asano, satu-satunya samurai yang enggan memberikan uang suap kepada Kira karena dirasanya bertentangan dengan nilai-nilai shogun. Kira yang geram karena kekeraskepalaan Lord Asano, sengaja mempersulitnya dan bahkan sengaja memancing amarahnya sehingga menyerangnya. Akibat tindakan penyerangan itu, Lord Asano pun dijatuhi hukuman mati, melakukan seppuku (menusuk diri sendiri dengan pedang). Seluruh harta kekayaannya pun disita, termasuk kastil milik keluarganya. Isteri Lord Asano, Lady Asano diasingkan di rumah orang tuanya dan terpaksa hidup terpisah dari puterinya yang masih anak-anak. Seluruh samurai yang melayani Lord Asano pun menjadi ronin (samurai tak bertuan). Mereka terpaksa menyerahkan kastil untuk disita dengan damai karena tidak ingin makam tuan mereka dan leluhurnya dirusak jika mereka melawan penyitaan itu. Untuk bertahan hidup, mereka pun harus berganti pekerjaan dari samurai menjadi seperti rakyat biasa; ada yang menjadi pedagang, guru panahan, dan lain-lain.

Sementara itu, Kira yang cucunya diadopsi oleh klan Uesugi khawatir akan menjadi target pembalasan dendam para samurai Ako, pengikut Lord Asano, maka ia pun meminta perlindungan kepada Lord Uesugi. Maka gerak-gerik para samurai Ako pun tidak dapat bebas. Selalu ada mata-mata yang mengawasi mereka. Setelah berganti tahun terus diawasi, Oishi, pemimpin para samurai Ako berganti taktik. Ia bersikap seolah-olah telah melupakan nilai-nilai yang dijunjung oleh samurai. Ia sengaja bermabuk-mabukan dan mengunjungi rumah-rumah bordil. Sebelumnya, ia terpaksa menceraikan isterinya dan memulangkannya beserta anak-anaknya ke rumah mertuanya, agar kelak jika ia membalas dendam keluarganya tidak turut dikait-kaitkan dan turut dihukum mati. Sementara puteri Lord Asano dititipkan pada seorang kerabat.

Setelah berlalunya waktu, dari lebih dari seratus samurai, jumlah mereka berguguran dan niat membalas dendam untuk mendiang tuan mereka tidak lagi sekuat sebelumnya. Bahkan akibat taktiknya, Oishi pun disalahpahami oleh teman-teman seperjuangannya. Sampai akhirnya, taktik Oishi berhasil, dan mata-mata tak lagi mengawasi gerak-gerik mereka, karena mereka tidak lagi dianggap sebagai ancaman. Oishi pun menjelaskan pada teman-temannya bahwa itu hanyalah taktik belaka. Bersama putera remajanya, Chikara, Oishi dan para samurai Ako yang terus menyusut jumlahnya, menyusun strategi untuk membalas dendam. Akhirnya, hanya tersisa 47 samurai yang masih berniat membalaskan dendam tuan mereka. Oishi pun lalu menjemput puteri Lord Asano dari tempat ia dititipkan dan mengembalikannya kepada ibunya, sebelum melanjutkan rencana pembalasan dendam kepada Kira.

Setelah mencari informasi, tepat pada peringatan hari kematian tuan mereka, ke-47 ronin itu menyusup ke kediaman Kira dan melumpuhkan para penjaga Uesugi. Yang dapat mereka lumpuhkan tidak mereka bunuh. Mereka sebisa mungkin menghindari penumpahan darah. Dari ruangan demi ruangan di kastil besar itu, mereka berusaha menemukan Kira. Putus asa dan khawatir rencana mereka gagal, Oishi mengancam akan membakar kastil, memaksa Kira keluar dari persembunyian. Setelah pertempuran satu lawan satu, Oishi berhasil menebas kepala Kira dan membawanya ke makam Lord Asano untuk memastikan arwah tuan mereka bisa tenang dan puas oleh balas dendam yang mereka kerjakan.

Usai membalas dendam, Oshi dan teman-temannya hanya menunggu keputusan hukuman mati yang akan mereka terima, tanpa tahu kapan akan dilaksanakan. Dewan shogun pun memberikan kehormatan dengan membiarkan mereka melakukan seppuku, kematian terhormat karena mereka boleh menusuk diri mereka sendiri dan bukan dijatuhi hukuman oleh algojo.

Novel ini termasuk "ringan" dan tidak sulit dibaca, sekalipun bertema pembunuhan dan pembalasan dendam. Dari awal plotnya telah menjelaskan bahwa pembalasan dendam para ronin Lord Asano akan berujung pada kematian. Namun, mereka mengerjakannya karena kesetiaan mereka terhadap mendiang tuan mereka. Meski tak ada kejutan dalam plotnya, namun para pembaca akan dibuat terkesan oleh loyalitas dan kedisiplinan, serta pengorbanan yang diberikan oleh ke-47 ronin ini.

Berikut kutipan-kutipan yang menarik di buku ini :

Saat harus menyatukan dua pendapat kuat, tidak selalu mudah memilih pihak yang benar. (hlm 68)

Dengan sabar dan penuh pengendalian diri-dua cara itulah yang akan membuat kita mencapai tujuan. (hlm 131)

Mereka berdua tahu mereka tidak akan pernah bertemu lagi. (hlm 152)

"Di dunia ini, satu langkah ke depan gelap." (hlm 194)

"Tapi ada beberapa jenis dukacita yang tidak akan sembuh." (hlm 217)

"Ingat, dalam setiap jenis kehidupan, selalu ada pengorbanan. Bahkan orang yang memilih jalan damai pun harus mengorbankan gelora pertempuran. Yang penting, begitu kau tahu hal yang kauinginkan, kau harus siap mengorbankan apapun untuk meraihnya. Orang-orang yang mengetahui hal ini sangatlah beruntung. Orang-orang yang tahu jalan mereka dan mampu berusaha. Apa lagi yang kurang?" (hlm 247-248)

Tidak ada komentar: