Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Rabu, 31 Mei 2017

Dear Facebook #1

Dear Facebook, 

Karena kamu selalu penasaran dengan apa yang saya pikirkan dan selalu mengajukan pertanyaan, "Apa yang Anda pikirkan?" setiap kali saya login, baiklah saya akan memberitahukan apa yang saya pikirkan saat ini :

KONFIRMASI. Itu satu kata yang sedang saya pikirkan saat ini. Satu kata, yang menurut saya, seharusnya tidak hanya diketahui artinya, tapi sebaiknya dikerjakan juga. Dengan begitu, tidak ada lagi yang namanya gosip dan fitnah. Tidak akan ada pula orang-orang yang menghasut dan terhasut.

Sewaktu remaja dulu, di kelas sosiologi, saya belajar bahwa gosip adalah salah satu alat kontrol sosial. Masalahnya, buku teks yang "sok bijak" itu tidak menyediakan cukup simpati, apalagi empati kepada mereka yang menjadi korban.

Betul, korban gosip dan fitnah bisa saja mencoba menjelaskan. Tapi, apakah semua korbannya punya kesempatan untuk menjelaskan berita-berita miring hasil imajinasi liar yang tak berdasar itu? Saya rasa, korban gosip tidak bisa atau belum tentu bisa mengklarifikasi, jika dia bukan public figure. 

Mau mendamprat yang diam-diam atau pun terang-terangan ngrasani (menggosip), nanti imbasnya malah menimbulkan gosip baru. Belum lagi, jika tidak ada bukti-bukti yang menyertai, bukankah akan menimbulkan tudingan baru, seolah korbannya saja yang paranoid? Mau mendiamkan, bukankah itu sama saja dengan membiarkan diri sendiri terus menjadi korban pembunuhan karakter dan pencemaran nama baik? Bukankah serba salah? Dan yang lebih parah, jika tujuan orang yang menyebarkan gosip itu memang untuk menimbulkan kesalahpahaman dan kericuhan, bukankah pada akhirnya dia akan menghasut banyak orang untuk mempercayai "fiksi" buatannya sebagai fakta? Dan imbasnya, semua yang terhasut dan memakan mentah-mentah "fiksi" itu (sebagai fakta) akan ikut memusuhi sang korban? 

Tapi, andai saja (ini cuma berandai-andai saja; belum tentu akan terjadi. Seringnya ya memang tidak terjadi), ada dari orang-orang yang menjadi target penghasutan itu mau bertanya balik pada subyek yang disoroti secara negatif itu, "Benar tidak, kabar angin yang bilang ...?" Dengan konfirmasi, mungkin ada kesempatan bagi korbannya untuk menjelaskan.

Untuk orang yang cuek mungkin bisa saja menerapkan falsafah "Anjing menggonggong, kafilah berlalu." Tapi, memang ada ya secuek-cueknya manusia yang tidak menggubris sama sekali kalau dirinya digunjingkan? Mungkin kebanyakan orang akan memilih mendiamkan tanpa berusaha menjelaskan (tapi memaki dalam hati) orang-orang yang sudah menciptakan "fiksi" tanpa plot yang jelas itu. Satu sisi, korbannya mungkin merasa orang-orang yang terhasut itu pada dasarnya memang tidak layak menerima penjelasan. Di sisi lainnya, memangnya harus membuat rubrik FAQ (Frequently Asked Question) di blog pribadi untuk menjelaskan, mengklarifikasi semua pertanyaan soal "fiksi-fiksi" yang sudah telanjur beredar? Memangnya pula, di antara orang-orang yang terhasut itu ada yang bermental jurnalis, mau repot-repot mengklarifikasi atau mencaritahu kebenaran desas-desus "fiksi" tak bertanggung jawab itu? Hmmm ... rasanya sih tidak.

Jadi, saya pada akhirnya cuma bisa bilang: Bagi kalian yang suka menciptakan "fiksi" dan friksi, lebih baik kalian curahkan tenaga kalian jadi penulis saja sekalian, ketimbang imajinasi liar kalian dipergunakan untuk menggunjingkan orang. Dan bagi para korban "fiksi" liar, mungkin ada baiknya menerapkan falsafah "Anjing menggonggong, kafilah berlalu." Let the dogs barking. Asu-asu, jegog kono (Anjing-anjing, sana menggonggong)! 

Tidak ada komentar: