Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Selasa, 21 Maret 2017

Review Buku "Perempuan Lolipop"


Kumpulan cerita pendek karangan Bamby Cahyadi ini terdiri dari 19 cerita pendek dengan tema beragam, dari mulai ramalan kematian dalam "Credo Quia Absurdum", malaikat pencabut nyawa dalam "Malaikat Mungil dan Perempuan Lolipop", reinkarnasi dalam "Peniup Harmonika", hingga pembunuhan berencana dalam "Teh Manis Hangat".

Saya sangat menikmati membaca ke-19 cerita pendek dalam buku ini. Saya dapat berkata, ini adalah untuk pertama kalinya saya menyukai sebuah buku kumpulan cerpen. Biasanya, saya lebih menyukai sebuah novel ketimbang membaca kumpulan cerita pendek yang sekalipun terdiri dari cerita-cerita pendek yang lebih pendek dari novel, tapi justru membuat saya menghabiskan waktu yang lebih panjang untuk menyelesaikan membacanya, ditunda berkali-kali, hingga berhari-hari, dan lebih dari sekali, sampai benar-benar selesai dibaca. Namun, saya menyelesaikan membaca buku ini, hanya memakan waktu beberapa jam dari Jumat malam minggu lalu, Sabtu pagi, Sabtu siang, seperti biasa jeda di sana-sini sebelum selesai dibaca, diinterupsi oleh kegiatan ini dan itu. Toh, akhirnya selesai pula dibaca.

Saya menyukai diksi di buku ini dan menemukan kosa kata baru yang mungkin sebelumnya pernah saya baca di buku sastra lainnya, tapi tak terlalu saya perhatikan seperti : berlarat-larat, melindap, rengkah. Dan kosa kata seperti menerabas (saya lebih sering memakai kata menerobos) dan kesiur (ketimbang memakai kata semilir) yang saya sendiri tak pernah memakainya dalam tulisan saya. 

Saya menyukai humor gelap, sarkasme, kejujuran, ironi, dan kematian yang dibicarakan dengan tandas dan sarat makna. Tak ada cara lain untuk menjelaskan apa yang saya maksudkan selain dengan kutipan-kutipan yang bertebaran di buku ini :

Ada beberapa cara bunuh diri yang telah kurancang. Masih seperti yang dulu. Menjerat leherku dengan tali, lalu aku tercekik mati. Meminum racun serangga, sampai aku kelojotan dan mati. Menghadang kereta api yang sedang melaju kencang, seperti cara mati seorang kiper kesebelasan sepak bola. Terjun dari gedung bertingkat, seperti cara yang sedang tren saat ini. Memotong nadiku dengan silet. Semuanya bagai deja vu. Berulang-ulang muncul-tenggelam dalam benakku. Sekali lagi, aku takut menjalani rencana itu semua.

Setiap hari, setiap aku terbangun dari tidurku. Hanya satu yang kupikirkan, bagaimana cara mengakhiri hidupku. Aku ingin bunuh diri tanpa rasa sakit. (hlm 54)

Tentu banyak orang akan memilih mati ketimbang melanjutkan hidup yang menjengkelkan ini. (hlm 80)

Saat aku masih kecil, masih kanak-kanak, kalau tak salah ingat, di depan rumah kami ada sebuah kuburan. Kuburan orang yang telah mati tentunya. (hlm 87)

Aku ingin menangis. Kukira, bukan aku saja yang ingin menangis. Pohon, rumput, dan tanah pun ikut menangis setiap kali ia meniup harmonikanya. (hlm 90)

Mereka sangat takjub dan tercengang, bahkan ada yang sampai kena serangan jantung. (hlm 141)

Terkadang liburan dari rutinitas kerja bagiku menjadi hal yang membosankan. Padahal beristirahat dari pekerjaan yang bertubi-tubi dan penuh target yang mesti dicapai adalah sebuah anugerah. Tentu akan menjadi membosankan apabila aku tak punya agenda acara untuk mengisi liburan kerja itu. Begitulah yang terjadi di hari Selasa yang lalu. (hlm 143)

Pernah tidak Anda bermimpi? Kalau Anda merasa jarang bermimpi atau tak pernah bermimpi atau lupa akan mimpi-mimpi yang Anda alami saat tertidur, kasihan sekali hidup Anda. (hlm 144)

Sebenarnya kutipan-kutipan panjang lainnya di hlm 145, 150, 154, 157, 165, dan 185 tak kalah sarkastisnya, namun jujur dan lugas. Tapi, berhubung saya malas mengetiknya, tolong beli saja buku ini dan baca sendiri halaman-halaman di atas.

Tidak ada komentar: