Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Kamis, 05 Januari 2017

Review Novel The Secret Garden

Novel yang ditulis oleh Frances Hodgson Burnett ini berkisah tentang bocah perempuan berusia sepuluh tahun bernama Mary Lennox yang menjadi yatim piatu setelah kedua orang tuanya meninggal karena wabah kolera di India. Mary yang terbiasa dimanja selama hidupnya oleh para pelayannya di India, kini harus tinggal di rumah pamannya, Archibald Craven di Misselthwaite Manor di Inggris. Kini ia hidup hanya di bawah pengawasan Mrs Medlock, pengurus rumah yang dingin dan Martha Phoebe Sowerby, gadis pelayan yang ceria, namun ceroboh, yang terheran-heran dengan tingkah Mary yang berharap selalu dilayani dan sangat pemarah.

Bosan hampir selalu ditinggal bermain sendirian, tanpa mainan dan hiburan, Mary pun melanggar larangan untuk tetap tinggal di kamarnya dan mulai menjelajahi berbagai ruangan di rumah besar dan sunyi tempat ia kini tinggal. Ia bahkan berniat menemukan taman rahasia yang kuncinya telah dikubur oleh pamannya setelah kematian bibinya. Taman rahasia milik mendiang bibinya yang telah dibiarkan terbengkalai dan tak terawat selama sepuluh tahun, tanpa sengaja berhasil ia temukan kuncinya. Mary pun diam-diam menjelajah taman-taman di rumah pamannya untuk menemukan taman rahasia yang kini terlarang dan tak boleh dimasuki siapa pun. Hingga suatu hari angin meniup sulur-sulur tanaman yang menutupi pintu ke taman rahasia dan Mary akhirnya berhasil memasuki taman itu.

Sementara tinggal di Misselthwaite Manor, Mary telah beberapa kali mendengar suara tangisan dan berusaha mencari sumber suara tangis itu. Ia dimarahi dengan keras oleh Mrs Medlock ketika tertangkap basah sedang berkeliaran di tempat yang tidak seharusnya ia masuki saat mencoba menemukan sumber suara tangisan yang di dengarnya. Martha pun seperti berusaha menutup-nutupi rahasia suara tangisan itu. Sampai suatu malam, Mary akhirnya menemukan sepupunya, Colin yang ternyata adalah pemilik suara tangisan misterius yang selalu didengarnya.

Setelah kematian ibunya, selama hidupnya, Colin selalu berbaring seharian di kamarnya, terisolir dari siapa pun dan tidak ingin menemui siapa pun. Tumbuh dalam ketakutan bahwa ia bisa mati setiap saat dan diprediksi akan segera meninggal, serta terancam menjadi bungkuk, Colin tumbuh menjadi anak pemarah, mengingatkan Mary akan dirinya sendiri saat masih tinggal di India. Ia dikenal sebagai anak manja pemarah dengan wajah yang selalu masam, sampai akhirnya ia menemukan taman rahasia, berteman dengan burung robin berdada merah yang memberitahunya jalan ke taman rahasia, hingga berhasil menjalin pertemanan dengan Martha, Ben Witherstaff, si tukang kebun pemarah, dan Dickon, adik Mary yang membantunya menumbuhkan kembali taman rahasia yang hampir mati setelah sepuluh tahun tak terurus.

Dengan bantuan Mary dan Dickon, perlahan-lahan Colin memiliki harapan lagi untuk hidup bebas dari ketakutan akan kematian dan menjadi bungkuk. Melalui menghirup udara segar di taman rahasia dan bersama-sama merahasiakan kegiatan mereka untuk membangunkan kembali taman yang hampir mati itu, Colin pun belajar menapak di tanah, berjalan, dan berlari seperti anak normal lainnya. Nyatalah bahwa kematian dan ancaman menjadi bungkuk hanya berasal dari ketakutan Colin akibat ulah para pembantu dan dokternya yang telah menghembuskan desas-desus yang tak benar sejak ia dilahirkan.

Ketika Archibald, ayah Colin yang meninggalkan rumah tak lama sejak kedatangan Mary, akhirnya pulang, ia mendapat kejutan menggembirakan bahwa Colin ternyata telah menjadi sehat dan bahagia, dapat berlari seperti anak normal, tidak cacat dan bungkuk. Sementara taman rahasia yang selama ini terkunci selama sepuluh tahun, perlahan mulai hidup kembali berkat kerja keras Mary, Dickon, Colin, dan Ben Witherstaff yang diam-diam selalu mengurus taman rahasia sekali dalam setahun, kecuali dua tahun terakhir karena ia terserang rematik dan tak dapat memanjat tembok. Bagaimana pun, taman rahasia itu kini telah hidup kembali dan membawa kebahagiaan dengan keindahannya.

Buku yang sangat menyenangkan untuk dibaca dan cukup mengharukan di beberapa bagian ini memiliki deskripsi indah di sana-sini; namun demikian, berikut adalah beberapa kutipan yang saya sukai :

"Tunggu sampai musim semi tiba-tunggu sampai matahari bersinar di kala hujan dan hujan turun di kala matahari bersinar, dan saat itu kau akan tahu." (hlm 103)

"Hujan sama keras kepalanya seperti aku dulu." (hlm 135)

... Dan dia pikir aku hantu atau mimpi, dan kupikir mungkin dia hantu atau mimpi. (hlm 153)

Mungkin kalau mendapat cukup banyak udara segar dan mengenal Dickon dan si burung robin serta melihat tanaman tumbuh, dia tidak akan terlalu memikirkan kematian. (hlm 166)

"Aku pikir kau hantu atau mimpi." (hlm 167)

... ; matanya bagai potongan langit. (hlm 171)

Mereka yang tidak diinginkan sulit untuk bertahan. (hlm 176)

"... Tapi aku tak berani memberitahumu - aku tak berani karena aku takut tak bisa memercayaimu - dengan sungguh-sungguh!" (hlm 206)

Novel ini sungguh layak dibaca. Kisahnya mengalir indah dan ringan di setiap bab dan membuai; membuat pembacanya jadi berangan-angan bagaimana rasanya tinggal di sebuah rumah dengan ratusan ruangan mirip kastil, dengan taman-taman yang luas, dengan sulur-sulur mawar yang meliliti batang pohon mati di taman rahasia.

Tidak ada komentar: