Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Kamis, 05 Januari 2017

Review Novel Chocolat

Izinkan saya memulai menceritakan tentang isi novel yang ditulis oleh Joanne Harris ini, dengan membeberkan kutipan-kutipan indah dalam buku ini.
Berikut yang menurut saya paling indah dan berkesan :

Seni mengubah nasib jelek menjadi baik. (hlm 41)

Mimpi yang satu ini akan kupegang teguh. (hlm 63)

"Kadang-kadang bertahan hidup adalah pilihan yang paling buruk" (hlm 190)

Kebahagiaan. Sesederhana secangkir cokelat atau serumit hati manusia. Pahit. Manis. Hidup. (hlm 211)

Aku membiarkannya. Aku tak mengatakan kepadanya bahwa semua akan baik-baik saja. Aku tak berusaha membuatnya tenang. Kadang-kadang lebih baik membiarkan hal-hal berjalan apa adanya, membiarkan kesedihan mengalir begitu saja. (hlm 217)

Malam ini aku hanya ingin mengingat hal-hal yang indah, lucu, hal-hal yang menyenangkan. Sudah ada cukup banyak aura sedih di udara. (hlm 219-220)

Tidak, tempat-tempat tidak kehilangan identitasnya, betapapun jauhnya seseorang mengembara. Hatilah yang mulai terkikis setelah beberapa saat ... Kita tidak meninggalkan jejak saat kita pergi. Seperti hantu, kita tidak punya bayangan. (hlm 222)

"Hidup-lah yang kau rayakan. Semuanya. Bahkan akhir hidup itu sendiri." (hlm 254)

"Itulah yang dilakukan orang tua. Mereka meninggal. Itu kenyataan hidup. Terjadi terus-menerus." (hlm 261)

.... Seperti bunga, dia tumbuh menentang cahaya, tanpa memikirkan atau meneliti proses yang membuatnya seperti itu. Seandainya aku bisa melakukan hal yang sama. (hlm 283)

Aku merasa ringan, tanpa bobot seperti bunga rumput alang-alang. Siap untuk diterbangkan angin ke mana pun. (hlm 333)

"Hidup itu penuh kejutan" (hlm 338)

"Orang-orang selalu berpikir bahwa kesenangan harus berakhir ketika kau sudah tua. Itu tidak benar." (hlm 349)

Sampul buku berwarna merah ini, dihiasi dengan kalimat "Cokelat dipuja sebagai obat pahit kehidupan. Kegembiraan yang dibawanya dahsyat dan mengerikan." Kalimat yang memang cocok untuk menggambarkan isi buku ini yang memang berlatar sebuah toko cokelat bernama La Céleste Praline di Lansquenet-sous-Tannes. Toko yang disewa oleh Vianne Rocher, seorang wanita pengembara dengan anak perempuannya, Anouk dengan kelinci imaginer peliharaannya, Pantoufle, tadinya adalah bekas toko roti yang sudah terbengkalai. Dengan usaha keras memperbaiki dan membersihkan toko sekaligus tempat tinggal itu, maka terciptalah tempat ajaib dan fenomenal, di mana sesuai kalimat di sampul buku ini, penduduk di Lansquenet-sous-Tannes menemukan kebahagiaan kecil di antara kepedihan hidup mereka dengan membaui cokelat di udara dan menikmati manisnya penghiburan.

Pelanggan-pelanggan di toko cokelat milik Vianne memiliki masalah dan kesedihan mereka sendiri. Di antaranya ada Josephine Bonnet, seorang perempuan yang dulunya ingin menjadi penari dan sangat cerdas di sekolah, namun karena dinikahi pria kasar dan kejam yang kerap memukulinya, ia berubah menjadi perempuan pemurung yang suka mencuri barang-barang sebagai pelariannya. Ada pula Guillaume Duplessis, pria yang hidup selama 18 tahun hanya dengan seekor anjing bernama Charly yang tengah sekarat; anjing yang dibelinya ketika ayahnya meninggal. Masih ada Armande Voizin, wanita tua yang eksentrik, menderita diabetes dan hampir kehilangan penglihatannya, hidup terasing dari keluarganya yang hipokrit, hanya dengan kucingnya yang dia namai Lariflete. Satu-satunya yang masih ia pedulikan hanyalah Luc Clairmont, cucunya yang penggagap akibat pendidikan orang tuanya yang ketat, yang harus sembunyi-sembunyi menemui Armande. Masih ada Michel Roux, pria Indian berambut merah yang rumah perahunya dibakar Paul Marie Muscat, suami Josephine Bonnet yang akhirnya ditinggalkan oleh isterinya. Masih ada karakter-karakter lain di seputar toke cokelat milik Vianne, tapi mereka lah karakter-karakter utama yang menarik.

Sementara para pelanggan toko cokelat Vianne mendapat sedikit kehangatan di La Céleste Praline, ada pula yang membenci keberadaan Vianne dan toko cokelatnya, antara lain pastor setempat, Francis Reynaud dan anggota-anggota gerejanya, antara lain Caroline Clairmont, anak perempuan Armande Voizin dan Paul Marie Muscat. Mereka membenci Vianne dengan berbagai alasan. Reynaud membencinya karena Vianne tidak pergi ke gereja, tetap membuka tokonya pada hari Minggu, bahkan saat masa berpuasa. Caroline yang memang sok berkuasa menganggap Vianne meracuni ibunya yang diabetes dengan menjual cokelat, dan Paul Marie Muscat membenci Vianne karena dianggapnya telah mempengaruhi Josephine untuk meninggalkan dirinya.

Ada banyak detil dalam buku ini yang tidak semuanya ingin saya tuturkan. Saya juga tidak ingin memberitahu akhir kisah di novel ini yang berkaitan dengan angin. Tidak, membacanya sendiri dan mencari tahu bagaimana Vianne mengelola toko cokelatnya di tengah pro dan kontra akan lebih menarik daripada mencaritahu dari sinopsis dan review buku ini.

Akhirnya, saya hanya dapat berkata, bahwa buku ini sarat kutipan indah, bab-bab pendek yang ringan dan magis, dalam; dan seperti cokelat, kadang agak sukar dibaca karena plotnya tidak mengalir sangat cepat. Sukar dibaca, karena setelah beberapa bab, saya baru mengetahui bahwa Pantoufle itu ternyata kelinci imaginer peliharaan Anouk, dan detil-detil kecil lainnya yang bertebaran di sepanjang cerita.

Tentu, sebagai penghormatan terhadap buku ini, setidaknya Anda harus menikmatinya dengan sebatang cokelat.

Tidak ada komentar: