Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Jumat, 18 Maret 2016

Review Novel The Book of Tomorrow

Novel yang terdiri dari dua puluh enam bab dan ditulis oleh Cecilia Ahern ini terbit di Indonesia dengan judul Buku Esok Hari, mengisahkan tentang remaja bernama Tamara Goodwin, yang ayahnya baru saja meninggal karena bunuh diri, sebab tak dapat melunasi hutangnya dan bangkrut. Tamara dan ibunya, Jennifer terpaksa merelakan rumah mewah mereka disita bank dan mereka terpaksa menumpang tinggal pada kerabat mereka, Arthur dan Rosaleen. 

Berada di lingkungan yang baru, Tamara benar-benar merasa tidak kerasan. Apalagi tidak ada satu hal pun yang bisa ia kerjakan. Sekolah ditutup, ibunya juga sepertinya mengalami depresi karena kematian ayahnya dan tidak bisa diajak bicara. Ia hanya seharian tidur dan terus berujar bahwa segalanya akan baik-baik saja. 

Tak tahan dengan nasib buruknya, Tamara pun menjelajahi reruntuhan kastil di dekat ia terpaksa tinggal, dan tanpa sengaja berteman dengan seorang biarawati tua bernama Suster Ignatius dan sempat meminjam buku harian aneh yang dipinjamnya dari Marcus yang menjalankan perpustakaan keliling dengan bis. 

Tak dinyana, buku harian ajaib yang dipinjamnya itu dapat menuliskan masa depan satu hari ke depan. Hal ini membuat Tamara merasa bahwa Rosaleen yang selalu mengawasi gerak-geriknya dan Jennifer menyimpan rahasia yang mencurigakan. Dituntun oleh buku harian ajaib yang ia sembunyikan dari pengetahuan Rosaleen, Tamara pun berusaha menyibak rahasia yang melibatkan keluarganya, termasuk tanpa sengaja mendapati Rosaleen memasukkan obat tidur pada makanan ibunya. Juga tentang ibu Rosaleen yang menderita multiple sklerosis. Sayang kedekatannya dengan Marcus membuat pria itu nyaris mendekam di penjara karena tuduhan berpacaran dengan anak di bawah umur dan menerobos masuk ke rumah lama Tamara yang telah disita bank. Meski Marcus tidak jadi diajukan ke pengadilan, namun hubungan mereka telanjur rusak dan tak dapat diperbaiki. Tamara malahan berteman dengan Weseley yang membantunya menemukan rahasia keluarganya. 

Begitu rahasia itu tersingkap, Tamara tidak dapat tidak menjadi demikian terkejut. Ia menemukan bahwa ayahnya, George ternyata bukan ayah kandungnya. Malahan, Laurence yang ternyata adalah ayah kandungnya yang dikira Jennifer telah mati dalam kebakaran, ternyata masih hidup dan berpura-pura mati karena ia menderita luka bakar yang parah dan merasa tak lagi pantas untuk Jennifer. Juga karena kesalahpahaman yang ditimbulkan oleh Rosaleen yang sejak kanak-kanak telah menaruh hati pada Laurence. Kebakaran yang tak disengaja itu juga disebabkan oleh kelalaian Rosaleen yang berniat membakar surat yang tidak ditujukan kepadanya. Sejak awal, Rosaleen memang iri pada Jennifer yang mendapatkan cinta Laurence. Sementara itu, Rosaleen sendiri akhirnya menikahi Arthur, adik kandung Laurence yang sebenarnya tidak ia cintai. 

Sekilas, novel ini mengingatkan saya pada plot novel karangan Chiung Yao yang juga mengisahkan pria yang menderita luka bakar parah dan lalu berpura-pura mati. Edisi terjemahannya terbit dengan judul Misteri Perkawinan yang juga diterbitkan oleh Gramedia. 

Meski begitu, novel ini sarat kutipan indah dan filosofis; di antaranya : 

Kalau diingat-ingat, kusadari cara terbaik untuk membuatku menghargai sesuatu mungkin adalah dengan tidak memberiku segalanya. (hlm 16) 

Dia bukan orang yang nyaman dengan dirinya sendiri dan oleh karena itu tidak memiliki kenyamanan yang bisa ditawarkannya ke orang lain. Ini seperti nasihat; kau tidak bisa memberi kecuali kau memiliki. (hlm 44) 

Kupikir kebanyakan orang masuk ke toko buku tanpa gagasan sama sekali apa yang ingin mereka beli. Entah bagaimana, buku-buku itu duduk di sana, hampir secara ajaib menggerakkan orang untuk meraihnya. Orang yang tepat untuk buku yang tepat. Seakan-akan mereka sudah tahu mereka perlu menjadi bagian dari hidup siapa, bagaimana mereka bisa membuat perbedaan, bagaimana mereka dapat mengajari, menyunggingkan senyuman di sebuah wajah pada saat yang tepat. Aku memandang buku dengan sudut pandang yang sama sekali berbeda sekarang. (hlm 473-474)

Kutipan terakhir yang agak panjang di hlm 473-474 itu sangat mewakili apa yang saya pikirkan bahwa untuk memiliki sebuah buku tertentu, entah bagaimana itu ada kaitannya dengan takdir. Sebelumnya saya pernah menulisnya di postingan saya sebelumnya, yang mungkin malah terkesan aneh dan berlebihan, dan dapat dengan mudah salah dimengerti. Untunglah Ahern menjabarkannya dengan sederhana dan indah sehingga lebih mudah dimengerti dan masuk akal. 

Secara keseluruhan, seperti Thanks for The Memories (yang telah saya baca terlebih dulu), The Book of Tomorrow juga lebih kurang ingin berbicara tentang campur tangan takdir dengan caranya yang agak magis; meski saya tidak ingat, apakah di novel ini Ahern menggunakan kata "takdir" atau tidak. Saya rasa tidak. Kalau digunakan, saya pasti sudah menuliskannya juga sebagai salah satu kutipan yang paling mengesankan yang saya temukan di buku ini. 

Sebenarnya bagian terbaik dari novel ini (menurut saya) bukanlah plotnya, melainkan kutipan-kutipannya. Tiga di atas yang sudah saya tuliskan di atas adalah yang terbaik.

Tidak ada komentar: