Translate

Total Tayangan Halaman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Jumat, 01 Januari 2016

Review Novel Lelaki Tua dan Laut

Novel yang ditulis oleh Ernest Hemingway dan memenangkan Nobel Sastra pada tahun 1954 ini memiliki judul asli The Old Man and the Sea; bercerita tentang Santiago, nelayan tua yang selama 84 hari belum juga berhasil menangkap seekor ikan pun. Tadinya Santiago didampingi seorang anak lelaki bernama Manolin selama 40 hari pertama. Namun, tak juga berhasil menangkap ikan, ayah Manolin lalu memintanya untuk beralih ke nelayan lain yang lebih beruntung; sekalipun Manolin (yang karena pengalaman tahu bahwa dulu mereka pernah tak berhasil menangkap ikan seekor pun selama 87 hari, tapi kemudian setiap hari selama tiga minggu berturut-turut selalu berhasil menangkap ikan-ikan besar) lebih suka melaut bersama Santiago. 

Hari itu, Santiago pun melaut sendirian lagi. Setelah melaut semakin jauh, umpan yang ia pasang pada alat pancingnya akhirnya mengundang seekor ikan marlin untuk memakannya. Ikan besar itu terjerat tak bisa lepas, tapi karena terlalu besar Santiago juga tidak dapat menaikkan ikan itu ke perahunya. Ia malah terseret semakin jauh seturut gerakan ikan itu. 

Berlayar semakin jauh hingga beberapa hari dan tanpa perbekalan makanan, Santiago terpaksa memakan tuna kecil, lumba-lumba, ikan terbang, dan udang mungil mentah dari sisa umpan dan tangkapannya selama melaut sendirian tanpa teman. 

Ikan marlin yang terjerat di alat pancingnya mengundang hiu mako untuk memangsanya. Santiago memang berhasil membunuh hiu itu dengan seruit tapi ikan marlin tangkapannya sekarang cacat, tercabik setelah dua puluh kilo dagingnya dimakan hiu mako. Ancaman dari hiu-hiu lain yang bisa berdatangan jika mencium darah dan kehilangan seruit membuat perjalanan melaut Santiago kian berat. Terlebih kedua tangannya terluka selama menarik pancing untuk memastikan ikan marlin itu tidak terlepas. Punggung dan seluruh tubuhnya juga nyeri karena kelelahan. 

Kekhawatiran Santiago terbukti; dua ekor hiu berhidung sekop pun muncul dan memakan ikan marlinnya. Ia membunuh kedua ekor hiu itu dengan pisau. Tapi, kemudian datang seekor lagi ikan hiu berhidung sekop, dan dalam upaya menjaga ikan marlinnya agar tetap berharga untuk kelak dijual di pasar, mata pisau yang dipakai Santiago pun patah. Ia terpaksa mengusir dua hiu lain dengan tongkat pemukul dan hanya berhasil melukai tubuh hiu-hiu itu, sementara separuh tubuh ikan marlinnya sudah hancur. 

Ia pun menghalau hiu-hiu lain yang berdatangan menyerang ikan marlinnya dengan tongkat pemukul. Setelah kehilangan tongkat pemukulnya dalam pertarungan dengan sekelompok hiu, ia pun memakai senjata terakhirnya, tongkat kemudinya yang lalu patah. Sebagai usaha terakhir, di dalam kegelapan di tengah malam itu, Santiago menggunakan serpihan kayu yang tajam dari tongkat kemudinya yang patah untuk menusuk seekor ikan hiu yang mencaplok kepala ikan marlinnya. Sekalipun hiu yang terluka itu akhirnya berenang menjauh, namun ikan marlin tangkapannya kini sudah menjadi bangkai. Santiago yang merasa kalah pun akhirnya hanya bisa pasrah, saat hari telah memasuki larut malam, sekelompok hiu kembali berdatangan dan memakan bangkai ikan marlinnya. 

Saat angin dan laut akhirnya membawa perahunya mendekati daratan, Santiago harus menggunakan sisa-sisa tenaganya untuk menambatkan perahu dan berjalan ke gubuk tempatnya tinggal. Karena kelelahan, ia pun jatuh tertidur. Manolin yang setia menungguinya sampai ia bangun mendapatkan todak ikan marlinnya, sementara kepala ikan marlinnya ia berikan pada Pedrico untuk dicacah sebagai umpan karena sudah mengurus perahu dan tongkat kemudinya. Manolin pun memutuskan untuk membawakan kopi, makanan, dan koran untuk Santiago sampai sahabatnya, lelaki tua itu pulih kesehatannya, dan memutuskan akan kembali melaut bersama Santiago setelah pulih, tak peduli bagaimana orang tuanya menyuruhnya melaut bersama nelayan lain. Cerita ditutup dengan Santiago yang kembali jatuh tertidur, sementara Manolin setia menungguinya. 

Jujur saja, novel yang terdiri dari sebuah bab ini (ya, betul, Anda tidak salah membaca; novel ini memang hanya terdiri dari satu bab saja) adalah sebuah bacaan yang bagi saya sukar untuk dibaca. Sekalipun bahasanya cukup puitis dan tidak berbunga-bunga, sehingga sebenarnya mudah dibaca; tapi karena temanya yang tentang melaut dan menangkap ikan, saya harus berjuang mengatasi kebosanan untuk dapat menyelesaikan membaca buku ini. Jujur, topik menangkap ikan atau pun memancing bukanlah topik yang saya bayangkan akan saya temukan akan ada dalam novel sastera. Apalagi jika ini adalah setting dan tema utamanya. Sepanjang buku ini, dari halaman pertama hingga halaman terakhir, ceritanya memang tentang Santiago dan laut. Tak heran, buku ini berjudul "Lelaki Tua dan Laut". Seperti kebosanan Santiago melaut sendirian tanpa kawan, saya juga memerlukan berhari-hari untuk akhirnya menyelesaikan membaca buku ini. Membaca beberapa halaman, berhenti berhari-hari, lalu melanjutkan membaca lagi, berhenti berhari-hari lagi, hingga akhirnya pada hari ini saya berhasil menyelesaikan membaca novel ini. Jujur, saya heran apa sebenarnya yang membuat novel ini bisa memenangkan penghargaan Nobel. Apa karena unik (hanya terdiri dari satu bab saja, bicara tentang menangkap ikan marlin raksasa yang adalah pengalaman Hemingway sendiri, meski dalam pengalaman Hemingway ikan marlin tangkapannya masih utuh, tidak dicabik-cabik dagingnya oleh rombongan hiu) atau memang bernilai sastera tinggi (yang karena kebodohan saya) tidak berhasil saya ketahui? Saya benar-benar tidak tahu jawabannya. Yang saya tahu, mulanya saya berpikir buku ini akan dapat selesai saya baca dalam waktu beberapa jam saja karena tipisnya. Nyatanya, saya butuh berhari-hari untuk menyelesaikannya. Yang jelas buku ini membuat saya depresi: pertama karena bosan, kedua karena endingnya (buat saya yang notabene adalah penyuka ending bahagia) mengenaskan. Setelah 84 hari, Santiago berhasil menangkap ikan marlin. Setelah beberapa hari melaut dan berusaha mengusir rombongan hiu, ikan marlinnya hanya menyisakan kepala ikan, todak, dan rangka ikan sesampainya di darat. Saya saja masih bingung, sebenarnya pesan moral dari buku ini mau bicara tentang apa? Tekad yang kuat? Tapi mengapa akhirnya memprihatinkan??? 

Ya, setidaknya saya masih bisa memahami dan mengagumi beberapa kutipan indah berikut : 

"Awalnya kau meminjam, kemudian kau akan meminta-minta" (nasihat finansial ala Hemingway di hlm 12) 

"Usia adalah penanda waktuku," kata lelaki tua itu. "Kenapa seorang lelaki tua bangun tidur begitu pagi? Apakah agar dapat memiliki satu hari yang lebih panjang?" (hlm 18) 

Dia merasa kasihan pada burung-burung, terutama burung laut yang kecil dan lembut berwarna gelap yang selalu mencari makanan dan hampir tidak pernah mendapatkannya. Dan dia berpikir burung-burung itu mempunyai kehidupan yang lebih keras daripada manusia, kecuali burung-burung perampok dan burung-burung yang kuat dan kasar. (hlm 25) 

Tidur akan menyenangkan. Terasa enteng saat kau dikalahkan. Sebelumnya aku tak tahu betapa enteng rasanya. Dan apa yang mengalahkanmu, pikirnya. (hlm 123)

1 komentar:

Dian Pribadi Perkasa Ibrahim mengatakan...

Aku suka novel ini, kubaca thn 2012. Katanya, tulisan penulis ini seperti gunung es. Konon katanya seperti itu. Mungkin karena aku suka laut, atau karena tak lagi muda, atau keduanya, bagian gunung es yang tenggelam bisa terasa. Sedikit, hehe. Tapi sangat berkesan. Lelaki tua itu sungguh luar biasa.