Translate

Total Tayangan Halaman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Sabtu, 05 September 2015

Review Novel Therese Raquin

Novel yang ditulis oleh Emile Zola ini terdiri 32 bab dengan sebuah pendahuluan yang lumayan panjang (untuk edisi kedua) yang ditulis Zola pada 15 April 1868. Saat membaca pendahuluan panjang yang agak membosankan dan terbaca sebagai pembelaan diri itu, saya jadi berasumsi bahwa novel yang bab pertamanya akan segera saya baca itu akan banyak menampilkan hal-hal yang vulgar; saya nyatanya malah dibuat heran mengapa Zola repot-repot membuat pembelaan diri panjang yang membosankan itu jika ternyata bab pertamanya hanya berisi deskripsi berbunga-bunga tentang sebuah toko (berhubung saya bukan penggemar fanatik akan deskripsi berbunga-bunga, jujur saja bab pertamanya ini juga membuat saya bosan setengah mati, meski harus saya akui setiap kalimat yang dituangkan Zola memang luar biasa puitis, dramatis, dan sebenarnya menyenangkan untuk dibaca). Tebakan saya, masyarakat yang menjadi pembaca Zola di masanya mungkin sedemikian puritan atau entah bagaimana, menganggap karyanya terlalu lancang. Setidaknya, begitulah yang saya tangkap, dan itu pula sebabnya Zola harus merepotkan dirinya dengan pendahuluan panjang "pembelaan dirinya" atas Therese Raquin.

Tanpa bermaksud banyak mengeluh, mari kita langsung beralih ke bab keduanya di mana cerita pun mulai bergulir. Adalah Therese Raquin, seorang gadis yatim piatu yang dititipkan ayahnya, Kapten Degans (sebelum terbunuh di Afrika) kepada bibinya, Mme Raquin, seorang janda beranak satu. Anak laki-laki Mme Raquin yang penyakitan, manja, dan egois bernama Camille. Sama egoisnya dengan anaknya, Mme Raquin "memaksa" Therese kecil hidup dalam kesunyian; dia tidak diizinkan untuk membuat suara sekecil apa pun agar tidak mengganggu dirinya dan Camille yang sakit-sakitan. Bahkan Mme Raquin juga "memaksa" Therese untuk ikut meminum obat Camille karena anak laki-lakinya tidak mau meminum obatnya, jika Therese tidak mau minum juga.

Setelah dewasa, demi mengikuti keegoisannya Mme Raquin pun menikahkan Camille dengan Therese meski keduanya tidak saling mencintai. Hanya karena tidak memiliki pilihan lain, semenjak kecil Therese pun terpaksa mengikuti kemauan bibinya, meski ia mengharapkan kebebasan dan kehidupan yang lebih menggairahkan daripada sekadar menjadi teman bermain Camille dan kini perawatnya yang kini juga dibarengi dengan status isteri.

Setelah pindah dari Vernon ke Paris, Camille akhinya mendapat pekerjaan pertamanya dan merasa senang dapat terbebas dari ibu dan isterinya meski hanya untuk setengah hari. Satu-satunya selingan dari kehidupan mereka yang monoton, sekali dalam seminggu, Mme Raquin mengundang teman lamanya (yang kebetulan bertemu kembali dengan mereka di Paris), Komisaris Polisi Michaud dengan anak lelaki dan menantunya, Olivier dan Suzanne untuk bermain kartu sembari makan malam di rumahnya, sementara Camille mengundang teman sekantornya, Grivet. Therese sendiri sebenarnya membenci kegiatan itu, tetapi sejak dulu ia memang tidak pernah punya pilihan. Kehidupan Therese berubah setelah Camille bertemu kembali dengan teman lamanya, Laurent.

Camille mengundang Laurent untuk ikut serta dalam acara makan malam dan bermain kartu yang diadakannya setiap Kamis malam. Tanpa diketahui semua orang kecuali yang bersangkutan sendiri, Therese dan Laurent saling tertarik. Therese yang untuk pertama kalinya menemukan pria yang jauh lebih sehat dan lebih menarik ketimbang Camille tak bisa menepis ketertarikannya pada Laurent; sementara Laurent yang pada dasarnya senang hidup nyaman menikmati kesempatan untuk mendapatkan makanan secara gratis dari Mme Raquin, sekaligus kesempatan untuk memanfaatkan Therese. Keduanya pun terlibat perselingkuhan.

Therese pun terpaksa berpura-pura sakit demi menemui Laurent yang menyelinap dari pintu belakang untuk menemui dirinya. Sementara Mme Raquin menjaga toko di bawah dan prihatin terhadap kesehatan keponakan sekaligus menantunya, Therese dan Laurent memadu kasih di kamar Therese.

Setelah tak memungkinkan lagi bagi Therese untuk terus berpura-pura sakit dan bagi Laurent untuk meninggalkan kantor saat jam kerja, maka keduanya pun merasa terhalangi untuk terus bertemu secara teratur. Di kesempatan terakhir mereka bersama, Therese berpura-pura menagih hutang pada pelanggan toko mereka untuk menemui Laurent di tempat pria itu tinggal. Hal ini pun menimbulkan gagasan bagi Laurent untuk membunuh Camille dan membuatnya terlihat seperti kecelakaan.

Pada akhirnya Laurent benar-benar mengerjakan rencananya. Ketiganya pergi berperahu bersama. Setelah jauh dari pandangan orang yang bisa menjadi saksi mata, Laurent menceburkan Camille yang tak dapat berenang hingga tenggelam dan menghilang terbawa air. Sebelum meninggal Camille sempat menggigit lehernya demi membebaskan diri dari usaha pembunuhnya mencabut nyawanya. Laurent lalu berpura-pura seolah ia menyelamatkan nyawa Therese saat perahu mereka terbalik; sedangkan Camille tak sempat ia selamatkan.

Therese yang ketakutan berpura-pura jatuh sakit dan berduka dan membiarkan dirinya tetap berada di penginapan. Laurent lalu sengaja memberitahu Michaud dan Grivet, sehingga kedua orang itu yang menyampaikan kabar kematian Camille pada Mme Raquin. Suzanne bahkan berbaik hati merawat Therese.

Ketika tiba waktunya bagi Therese untuk kembali ke tempat tinggalnya, Therese terus merasa ketakutan bahwa perbuatan mereka akan diketahui. Laurent yang juga sama takutnya akhirnya sengaja menjaga jarak dengan Therese. Sementara Therese berperan sebagai janda yang berduka, Laurent terus datang berkunjung dan berperan sebagai sahabat setia. Acara makan malam dan bermain kartu mereka pun terus dilanjutkan meskipun kini tanpa kehadiran Camille. Perasaan bersalah dan ketakutan terus menghantui Laurent dan Therese. Terlebih Laurent, yang setiap kali ditemukan mayat orang tenggelam harus datang ke kamar jenazah dan mengidentifikasi mayat itu apakah Camille atau bukan. Lima belas bulan kemudian, ketika akhirnya mayat Camille benar-benar ditemukan dan diterbitkan surat kematian, Laurent telanjur dibuat ketakutan setengah mati. Ia berharap bisa segera menikahi Therese agar tak harus melewati rasa takutnya seorang diri.

Perlahan-lahan tanpa kentara Laurent memberikan gagasan kepada Michaud, seolah-olah gagasan itu datang dari Michaud sendiri bahwa Laurent dan Therese harus dinikahkan. Mme Raquin yang berharap ada yang dapat mengurusnya di usia tua setuju dengan gagasan Michaud. Setelah keduanya menikah, perasaan ketakutan dan keberadaan Camille yang menghantui mereka terus terasa. Keduanya tidak lagi dapat saling menyentuh tanpa merasakan mayat Camille menyelinap di antara mereka.

Tak sanggup mengatasi rasa takut dan rasa bersalah di dalam diri mereka, keduanya pun mulai saling menyalahkan dan terus bertengkar. Bahkan di tengah kemarahannya, Laurent menampar, memukuli, dan menendang Therese hingga keguguran. Therese memang sengaja membiarkan dirinya dihajar oleh suaminya demi mengurangi rasa bersalahnya. Ia bahkan menyembunyikan kehamilannya karena tak ingin melahirkan anak yang dalam pikirannya akan berbentuk seperti mayat Camille.

Sejak pembunuhan Camille, tak sehari pun mereka lewati tanpa rasa takut akan bayang- bayang Camille yang terus menghantui mereka. Ketika Mme Raquin terserang penyakit dan akhirnya lumpuh serta tak dapat bicara, ia akhirnya mengetahui kenyataan tentang anaknya yang dibunuh. Setiap hari Laurent dan Therese terus bertengkar dan saling berteriak, sehingga Mme Raquin pun mengetahui tentang perselingkuhan Therese dan Laurent, serta pembunuhan Camille. Satu-satunya kepuasan Mme Raquin hanyalah saat Laurent memukuli Therese.

Setelah Therese berusaha bertobat dengan mengakui dosanya pada Mme Raquin tak juga dapat menghilangkan rasa bersalah dan ketakutan yang mencekamnya, Therese pun berusaha mengenyahkannya dengan berselingkuh dengan pria lain. Setelah Laurent yang membuntuti Therese mengetahui hal itu, ia pun mencoba berselingkuh juga. Namun, usaha Therese dan Laurent tidak juga membuat hidup mereka jadi lebih bahagia. Sebaliknya, mereka semakin merana. Keduanya pun memutuskan untuk menghabisi nyawa pasangannya. Laurent dengan racun dan Therese dengan pisau yang ia sembunyikan. Saat mencoba melakukan niat mereka, keduanya saling memergoki. Sadar hidup mereka telanjur rusak dan tak dapat diperbaiki, mereka menangis bersama dan meneguk racun bersama, mereka pun seketika meninggal, disaksikan oleh Mme Raquin.

Sejujurnya, dalam hal pemilihan kata, novel ini menarik untuk dibaca dan tidak membosankan, meskipun bahasanya terkesan agak berbunga-bunga. Sementara dari plot dan temanya, novel ini membuat depresi pembacanya. Setidaknya, bagi saya yang lebih menyukai tema yang idealis, latar belakang perselingkuhan dan rasa bersalah terasa muram dan suram, semuram dan sesuram deskripsi Zola akan toko bobrok Mme Raquin dan kehidupan monoton Therese yang digambarkan di hlm 38 seperti berikut ini :

Therese, yang tinggal di tempat gelap, lembap, suram, dan hening ini merasa bahwa masa depan yang terbentang di hadapannya sungguh hampa. Setiap malam yang menunggunya hanyalah tempat tidur dingin yang sama, dan setiap pagi sebuah hari yang monoton.

Sementara deskripsi rasa bersalah dan ketakutan Laurent dan Therese sebenarnya cukup dramatis :

Masing-masing sedang mengakui, dalam kengerian, bahwa hasrat mereka telah padam, bahwa mereka telah membunuh kegairahan mereka terhadap satu sama lain ketika mereka membunuh Camille. (hlm 207)

Therese ternyata bukan seorang janda: Laurent mendapati dirinya menikah dengan seorang istri yang telah memiliki seorang pria yang tenggelam sebagai suaminya. (hlm 224)

Saya bahkan menemukan istilah "nervous erethism" di novel ini yang digunakan Zola untuk menggambarkan penyakit mental yang dialami Laurent dan Therese akibat rasa bersalah dan ketakutan mereka setelah membunuh Camille.

Jadi, kecuali Anda tidak keberatan dengan tema yang "suram" di novel ini, karya Zola ini lumayan menghibur.

Tidak ada komentar: