Translate

Total Tayangan Halaman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Sabtu, 12 September 2015

Review Novel Haji Murad

Novel yang terdiri dari 25 bab dan berjudul asli Hadji Murat ini diinspirasi dari kisah nyata. Penulisnya, Leo Tolstoy berusaha menuliskannya seotentik mungkin sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya, dengan memakai surat asli dan wawancara yang dilakukannya dengan narasumber, berusaha menuturkan kisah Haji Murad, pejuang muslim Chechnya ini agar tidak melenceng dari kenyataan sebenarnya. Tentu saja, karena ia sendiri bukan saksi mata dari tokoh yang dituliskannya ini, sisanya ia tuliskan dengan polesan imajinasi dan kecerdasannya.

Di bagian awal (sebelum bab 1), Tolstoy seolah secara random menuturkan kekejaman manusia merusak alam demi membajak tanah mengorbankan bunga widuri yang berduri namun tumbuh indah di tempatnya. Tebakan saya mungkin pemandangan ini, yang entah bagaimana memberi ide pada Tolstoy untuk menuliskan novel ini. Kalimat terakhir di novel ini adalah "KEMATIAN ini diingatkan kepadaku oleh serpihan bunga widuri di tengah ladang yang baru dibajak."

Di bagian awalnya di halaman 6 hingga 7, Tolstoy menulis demikian untuk menggambarkan bunga widuri yang bertahan dengan duri-durinya dari perusakan yang dilakukan terhadapnya :

"Tetapi kekuatan dan semangat hidupnya sungguh luar biasa."

"Betapa gigih dia mempertahankan diri dan sedemikian sayang dia pada kehidupannya."

"Manusia sungguh kejam dan merusak, berapa banyak makhluk hidup dan tanaman yang dibantainya untuk menopang kehidupannya sendiri."


Bab pertama novel ini lalu dibuka dengan kunjungan Haji Murad ke aoul di mana Sado dengan mempertaruhkan nyawanya menerima Haji Murad dan menjamunya dengan para muridnya. Bata, anak Sado mendapat tugas menemani Eldar, murid Haji Murad untuk mengantar surat yang ditujukan kepada Vorontsov yang merupakan perwakilan pihak Rusia. Haji Murad bermaksud membelot ke pihak Rusia karena Shamil sebenarnya adalah musuh keluarganya, dan selama ini Haji Murad terpaksa mengabdi kepada Shamil karena tidak memiliki pilihan.

Setelah melewati proses yang agak panjang, akhirnya Haji Murad dan para muridnya : Khan Mahoma, Tavlin Hanefi, Eldar, dan Gamzalo bertemu dengan Poltoratsky dan Vorontsov di lapangan Shalinskoe. Oleh Vorontsov muda, ia diperlakukan dengan baik. Tetapi Jenderal Meller-Zakomelsky, komandan pasukan di Vozdvizhenskoe yang tidak diberitahu oleh Vorontsov muda soal Haji Murad hendak membelot menjadi berang. Beruntung isteri Vorontsov muda, Marya Vassilievna dengan kecantikan dan kecerdasannya berhasil mengakhiri kemarahan Meller. Maka, untuk sementara waktu Haji Murad berada di bawah penanganan Meller.

Sesudah itu, Haji Murad dibawa bertemu Vorontsov tua (ayah dari Vorontsov muda). Melalui bawahannya, Loris-Melikov, Haji Murad diminta menuliskan kisahnya dari awal untuk disampaikan kepada tsar. Laporan pun dikirimkan Vorontsov tua kepada Nicholas yang lalu menginstruksikan serangan ke Chechnya. Serangan ini menyebabkan aoul tempat tinggal Sado dihancurkan oleh Butler dan pasukannya. Bahkan anaknya meninggal ditusuk bayonet. Seluruh aoul dirusak, dibakar dan dihancurkan. Para tetua pun memutuskan meminta bantuan pada Shamil.

Sementara Haji Murad diaturkan menemui Ivan Matveevich dan tinggal di rumahnya selama seminggu, bersama Eldar dan Hanefi, ibu Haji Murad, kedua isteri, dan anak-anaknya ditawan Shamil di aoul Vedeno. Yusuf, anak laki-laki kesayangan Haji Murad yang baru berusia delapan tahun dipenjarakan oleh anak buah Shamil.

Perjalanan Haji Murad untuk membebaskan keluarganya dari Shamil masih panjang. Bahkan ketika akan meninggalkan rumah Ivan Matveevich, Arslan Khan, musuhnya berusaha membunuhnya. Setelah kembali ke Tiflis, Haji Murad meminta pada Vorontsov untuk tinggal di Nukha untuk mencari informasi tentang keluarganya. Dia selalu menerima kabar buruk. Orang-orang gunung yang masih setia pada Haji Murad takut pada Shamil dan menolak mencoba membebaskan keluarganya meskipun dengan imbalan uang berapa pun. Belum lagi sempat merespon bagaimana menangani situasi itu, Haji Murad sudah diminta kembali ke Tiflis untuk menemui Argutinsky. Hal ini pun memaksa Haji Murad untuk melarikan diri dari pihak Rusia yang tidak segera memberikan bantuan untuk membebaskan keluarganya dari tawanan Shamil. Pihak Rusia sendiri memang sengaja mengulur waktu karena mencurigai pembelotan Haji Murad hanya taktiknya untuk mengetahui kelemahan pihak Rusia untuk kemudian mengkhianati mereka.

Kabar mengejutkan kemudian datang dari Kamenev. Ia datang untuk menemui Ivan Matveevich dengan membawa kepala Haji Murad yang dipenggal saat berusaha melarikan diri dari Rusia untuk menyelamatkan keluarganya. Para cossack yang diperintahkan mengawal Haji Murad dan para muridnya saat mereka diizinkan berkuda di area terbatas dibunuh oleh Haji Murad dan para muridnya dalam usaha mereka melarikan diri. Pihak Rusia lalu memerintahkan pengejaran besar-besaran. Dikepung di semak-semak oleh pihak Rusia dan milisinya, Haji Murad dan para muridnya bertempur habis-habisan hingga akhirnya terbunuh karena kalah jumlah. Ia mati dipenggal oleh Ghadji Aga yang telah terlebih dulu membelot ke pihak Rusia.

Untuk sebuah karya sastra klasik, novel ini sebenarnya tidak "berat" untuk dibaca. Bagi saya, yang mengganggu justru penjelasan dalam catatan kaki di novel ini dan nama-nama karakternya yang sulit dilafalkan lidah dan tentu saja lebih sulit lagi mengingat ejaan namanya. Saya yang tidak familiar dengan nama-nama Rusia dan ejaan namanya harus terlebih dulu memastikan saya menuliskan dengan benar nama setiap karakter di novel ini.

Ini adalah untuk pertama kalinya saya membaca tulisan Tolstoy dan entah bagaimana, dari deskripsi Tolstoy akan bunga widuri (yang ditulis sebelum bab pertama) membuat saya langsung menyadari kecerdasan penulisnya, menyukai dan mengagumi gaya menulisnya. Terlebih novel ini ditulis berdasarkan kisah nyata dari Haji Murad sendiri. Imajinasi Tolstoy yang brilian membuat karakter Haji Murad di novel ini seolah hidup kembali, sebelum akhirnya terbunuh di halaman terakhir, dengan kegigihan yang diumpamakan Tolstoy dengan kegigihan bunga widuri yang mempertahankan hidupnya dengan duri-durinya.

2 komentar:

Jessie Monika mengatakan...

Kamu baca buku ini yang English version atau terjemahan?
Aku sering salah mengingat Leo Tolstoy dengan Nikolay Gogol. Mungkin karena mereka sama-sama Russian yah. Tolstoy masih lebih 'pop' daripada Gogol, bener ngga?

Selvia Lusman mengatakan...

@Jessie: Versi terjemahan. Hehe... saya malah belum pernah baca karya Gogol.