Translate

Total Tayangan Halaman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Sabtu, 12 September 2015

Membeli Buku : Antara Keberuntungan dan Takdir

Ditulis pada hari Minggu, 6 September 2015. Baru sempat diposting pada Sabtu, 12 September 2015.

Saya dedikasikan tulisan ini untuk Neni dan Herny. Terima kasih telah menemani saya ke pameran buku hari ini.

Hari ini saya dengan dua orang teman dan adik saya mengunjungi pameran buku. Lucunya pula, tidak seperti kebiasaan saya dan teman saya, kali ini kami hanya mengitari stand demi stand sampai tumit dan telapak kaki rasanya sangat pegal, tapi tidak membawa pulang sebuah buku pun.

Teman saya memang sudah bertekad untuk menahan diri dari hasrat berbelanja bukunya yang gila-gilaan. Terakhir kali kami ke pameran buku (sebelum hari ini) kami sudah memborong buku melewati budget yang telah ditentukan bersama. Lucunya pula, budget itu kami habiskan hanya dengan mengunjungi satu booth penerbit saja. Menurut istilah teman saya, telanjur kalap. Berhubung anggaran telanjur membengkak, terpaksalah lekas pulang tanpa sempat lirik sana lirik sini ke booth lainnya.

Saya sendiri, telanjur terbiasa dengan keberuntungan mendapatkan buku-buku bagus dengan harga miring, jadi tidak tergiur sama sekali dengan iming-iming diskon 20 %. Telanjur terbiasa dengan buku-buku dengan harga terbanting minimum 40 %. Mungkin juga digerakkan oleh sejenis kerakusan, sehingga hanya ingin mendapatkan banyak buku dengan budget yang ditekan selimit mungkin. Mata langsung rajin mengamati booth dengan diskon dari 50 % hingga 70 %. Kalau hanya sekadar diskon 20 % jadi malas mendekat. Tidak keberatan pula dengan broken book atau used book; yang penting murah, meskipun cover agak sedikit lusuh atau bekas tertekuk. Telanjur terbiasa mendapatkan buku yang lumayan dengan harga lima ribu hingga sepuluh ribu rupiah.

Kalau ditanya apakah saya menyesal hari ini mengelilingi booth demi booth tanpa membeli sebuah buku pun (untuk diri sendiri), saya akan jawab tidak. Setidaknya untuk saya yang seringkali malas berolahraga, ini jadi kesempatan untuk bergerak sedikit. Selain itu, melihat teman saya yang seorang lagi bergembira mendapatkan buku murah yang sesuai seleranya, saya juga ikut senang.

Tapi lebih dari itu, hari ini saya mendapatkan sebuah pembelajaran. Ada kalanya antara keinginan dan kebutuhan meskipun untuk buku sekalipun (yang bagi saya dan sahabat saya yang hari ini juga tidak membeli buku sebuah pun, sama dengan saya) jaraknya nyaris tak berjarak, tetap ada sebuah perbedaan. Terkadang keinginan yang dipenuhi dengan mudah dengan cepat bisa menciptakan kerakusan. Namun terkadang pula, kebutuhan yang tidak terpenuhi tidak melulu menciptakan kepahitan. Hanya sebuah kesadaran; kali ini sambil mengingatkan diri sendiri dengan sebuah kalimat yang sering saya ucapkan kepada sahabat saya jika ia merasa telah melewatkan kesempatan untuk mendapatkan buku bagus, "Mungkin buku itu memang tidak ditakdirkan untuk kamu miliki."

Hari ini saya melewatkan kesempatan untuk membeli tiga buah buku yang saya inginkan (karena harganya dijual tidak dengan harga diskon yang sangat terbanting). Untuk seorang kutu buku, rasanya aneh pergi ke pameran buku tanpa membeli buku sebuah pun. Tapi saya tahu kenapa saya tidak membeli ketiga buku yang saya inginkan itu. Tak lain karena buku itu memang tidak ditakdirkan untuk saya miliki.

Di sebuah hari yang lampau, teman saya melewatkan membeli sebuah buku. Lalu ketika datang kembali di lain kesempatan, ternyata buku itu belum lagi terjual. Setelah melewatkan beberapa kali (hanya mengitari saja raknya) buku yang tadinya masih ragu-ragu ingin dibeli, terjatuh beberapa kali dari raknya, seolah minta dibeli. Merasa itu mungkin pertanda, teman saya akhirnya jadi membeli buku itu. Dan saya dengan ringan berkata padanya, bahwa buku itu memang telah ditakdirkan untuk dia miliki.

Saya tidak selalu percaya pada apa yang dinamakan keberuntungan. Tapi sisi sok puitis dan sok romantis dari diri saya, entah bagaimana selalu mempercayai takdir. Sekalipun untuk hal kecil seperti membeli buku sekalipun. Bahkan termasuk buku-buku yang ternyata menurut kami jelek isinya atau tidak sesuai selera kami.

Jadi... hingga takdir berikutnya...

Terima kasih untuk momen yang sempurna di antara keputusan-keputusan yang tak sempurna.

Tidak ada komentar: