Translate

Total Tayangan Halaman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Senin, 03 Agustus 2015

Review Novel Wuthering Heights

Memenuhi tantangan Herny S. Yahya untuk menulis bersama review sebuah buku, saya dedikasikan review novel ini untuknya, yang sebelumnya sudah ia baca dan tulis lebih dulu resensinya.

Novel klasik yang ditulis oleh Emily Brontë ini mengambil alur mundur, berkisah tentang Tuan Lockwood yang menyewa "Wuthering Heights" milik Heathcliff Earnshaw. Karena keingintahuannya terhadap si pemilik rumah, Tuan Lockwood mengorek keterangan dari pelayannya, Nona Nelly Dean yang dulu pernah bekerja untuk keluarga Earnshaw dan Linton.

Adalah Tuan Earnshaw yang membawa pulang Heathcliff, anak gelandangan yang ia temukan dalam perjalanannya dan menjadikannya anak adopsinya. Hal ini menimbulkan kecemburuan anak kandungnya, Hindley, sementara adiknya, Catherine (biasa disapa Cathy), justru berteman baik dengan Heathcliff.

Setelah kematian ibu, lalu menyusul ayahnya, Hindley pun menguasai rumah peninggalan orang tuanya dan menuntaskan dendam yang sudah ia pupuk sejak kecil; Hindley memperlakukan Heathcliff dengan buruk, layaknya terhadap pelayan. Sementara Cathy yang beranjak remaja kebingungan membagi waktu antara persahabatannya dengan Heathcliff dan teman-teman barunya, Edgar dan Isabella Linton. Cathy sendiri sebenarnya mencintai Heathcliff, sama halnya seperti perasaan Heathcliff terhadap Cathy. Namun, menyadari tentangan dari kakaknya, Cathy memilih menerima pinangan Edgar, karena ia tak ingin Heathcliff kembali dicambuk dan dihukum berat setiap kali dianggap membuat kesalahan.

Mendengar rencana Cathy menikahi Edgar, Heathcliff pun minggat dari rumah, meninggalkan Cathy yang patah hati terserang delirium. Tiga tahun kemudian Heathcliff kembali ke Wuthering Heights dengan rencana balas dendam yang rapi. Ia berhasil menemui Cathy dan menyadari cinta mereka berdua tak pernah padam. Edgar yang cemburu bertengkar dengan Cathy. Ditambah lagi, Heathcliff membawa lari Isabella, adik Edgar yang jatuh cinta pada Heathcliff.

Tak kuasa menanggung kesedihan, sakit Cathy kambuh dan akhirnya meninggal setelah melahirkan anak perempuan yang dinamai Catherine. Sementara Isabella akhirnya menyadari bahwa Heathcliff tak mencintainya dan hanya memperalatnya untuk membalas dendam; ia pun melarikan diri dari Wuthering Heights dalam keadaan hamil. Kelak ia melahirkan anaknya dan menamainya Linton Heathcliff.

Setelah Isabella meninggal, Heathcliff merebut hak asuh Linton dari Edgar. Ia pun menghasut Hareton, anak kandung Hindley untuk membenci ayahnya, menjadikan pemuda itu berwatak buruk dan tak mengecap pendidikan. Sedang Hindley sendiri (sepeninggal isterinya yang terlebih dulu meninggal) mengatasi kesedihannya dengan bermabuk-mabukan.

Setelah Hindley meninggal dalam keadaan bangkrut dan Heathcliff berhasil menguasai harta keluarga Earnshaw; berikutnya ia mengincar kekayaan keluarga Linton. Heathcliff mengumpankan anaknya yang sekarat, Linton agar menikahi Catherine. Ia bahkan tak segan menyekap dan memukul Catherine dan pelayannya, Nelly di Wuthering Heights tanpa sedikit pun mengindahkan perasaan Catherine yang mencemaskan kesehatan ayahnya yang di ambang kematian; demi memastikan Linton menikahi Catherine agar kekayaan keluarga Linton dapat ia keruk setelah Edgar dan Linton (tak lama lagi) meninggal.

Setelah terpaksa menikahi Linton dan ayahnya, Edgar meninggal, Catherine dipaksa oleh Heathcliff untuk tinggal di Wuthering Heights seperti pelayan dan menerima pukulan jika menolak perintahnya atau perintah Hareton. Seakan penderitaannya belum cukup; Heathcliff lalu bersekongkol dengan Tuan Green (pengacara Linton yang berkhianat), maka harta Catherine yang diwarisi dari ayahnya jatuh ke tangan Linton. Dalam keadaan sekarat dan di bawah tekanan ayahnya yang kejam, Linton pun mewariskan semua harta Catherine dan hartanya sendiri untuk Heathcliff. Tak lama, Linton pun meninggal.

Catherine harus hidup terpisah dari Nelly, pelayannya yang setia, tanpa teman dan tanpa buku-bukunya, berkat kekejaman Heathcliff yang menyita semua miliknya. Heathcliff memerintahkan Nelly untuk tetap tinggal di Thrushcross Grange, rumah Catherine yang sudah direbut Heathcliff dan kini disewakan kepada Tuan Lockwood.

Setelah Zillah, pelayan Heathcliff berhenti dari pekerjaannya dan Tuan Lockwood meninggalkan Thrushcross Grange, Nelly pun bekerja sebagai pelayan di Wuthering Heights dan bisa berkumpul lagi dengan Catherine. Melalui waktu, Hareton dan Catherine pun berbaikan dan akhirnya saling mencintai dan berencana akan menikah saat tahun baru; sementara Heathcliff tiba-tiba meninggal secara misterius, menurut penuturan Heathcliff yang samar-samar pada Nelly, selama ini dia terus dihantui oleh arwah Cathy, ibu Catherine, sekaligus kekasih Heathcliff. Hal ini diketahui Tuan Lockwood dari Nelly saat ia datang kembali ke Wuthering Heights untuk melunasi sisa hutangnya saat menyewa Thrushcross Grange.

Satu hal yang terasa menyenangkan saat membaca novel ini adalah bahasanya yang tidak berbunga-bunga. Mulanya saya mengira semua jenis karya klasik pastinya memakai deskripsi dan bahasa berbunga-bunga yang terkesan terlalu puitis dan berlebihan, tetapi Emily Brontë dengan Wuthering Heights mematahkan dugaan saya. Meski plotnya tidak sangat cepat, tapi cukup pendek dan ringkas, sehingga sepanjang 34 bab dari novel ini, pembaca tidak akan dibuat bosan. Sementara itu, transformasi dari Heathcliff kecil (yang notabene adalah korban yang menimbulkan rasa iba) menuju Heathcliff yang bagai jelmaan setan (setelah Cathy meninggal) prosesnya kurang terasakan hanya dengan sebentuk penjelasan bahwa Heathcliff minggat dan baru kembali tiga tahun kemudian dengan rencana balas dendamnya. Pembaca pun dibuat gusar oleh kekejaman Heathcliff terhadap Isabella dan Catherine dengan menampar hingga berdarah. Begitu pun saat Hareton dengan ringan menampar Catherine hingga mulutnya berdarah, tapi kemudian Brontë bisa dengan ringan "menjodohkan" Catherine dengan Hareton. Terasa seperti ending yang ambigu dan dipaksakan. Jika novel ini ditulis oleh saya, maka saya pasti akan menempatkan Tuan Lockwood sebagai pahlawan yang menyelamatkan Catherine dari penjaranya di Wuthering Heights. Tapi Jika begitu, novel ini pastinya tidak akan selesai dalam 34 bab. Secara keseluruhan, novel ini tidak membosankan untuk dibaca, bahasanya yang tidak berbunga-bunga adalah sebuah kelebihan yang patut diakui. Meski plotnya tidak sangat cepat, tapi juga tidak bisa dikatakan lambat, cukup pendek dalam setiap babnya, dan diceritakan dengan lancar. Selain itu, review ini tidak ditulis dalam kapasitas seorang penikmat karya sastra klasik, lebih ke seorang pembaca yang menuliskan kesan-kesannya setelah membaca sebuah novel, tanpa memperhitungkan bahwa novel ini adalah sebuah karya klasik penting dalam kesusasteraan Inggris.

2 komentar:

~ jessie ~ mengatakan...

Wuthering Heights ini selalu mengingatkanku dengan komik Topeng Kaca. Dimana Maya Kitajima berperan sebagai Catherine. :D

Selvia Lusman mengatakan...

@Jessie: Hahaha... ya, temanku kecele dengan imajinasinya tentang Heathcliff. Pas baca bukunya, malah jadi ilfil sama tokoh Heathcliff-nya.