Translate

Total Tayangan Halaman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Kamis, 16 April 2015

Review Novel THANKS FOR THE MEMORIES

*Review ini saya dedikasikan untuk Herny yang menghadiahi saya novel ini.

Novel yang ditulis oleh Cecelia Ahern ini bercerita tentang seorang wanita muda bernama Joyce Conway yang baru saja kehilangan janinnya setelah terjatuh dari tangga saat dengan tergesa-gesa menuruninya untuk mengangkat telepon yang berdering. Joyce yang setelah sekian lama terbiasa menjalani hari-harinya tanpa suaminya, conor yang bekerja di kota yang berbeda dengan tempatnya tinggal memutuskan bercerai dengan sang suami, setelah menyadari usahanya memiliki anak sebagai satu-satunya usaha terakhir untuk merekatkan hubungan mereka kandas, sesudah bakal bayi mereka yang tadinya ingin dinamai Sean keburu meninggal sebelum sempat dilahirkan.

Sementara itu, adalah Justin Hitchcock, seorang duda yang baru saja diceraikan oleh mantan isterinya, Jennifer yang telah memiliki hubungan baru dengan pria bernama Laurence, memutuskan untuk memberanikan diri menyumbangkan darahnya demi mendapatkan kencan dengan Sarah, wanita cantik dan pintar yang ditemuinya saat menjadi dosen tamu di Dublin. Justin yang kini terpaksa hidup sendiri tanpa isteri dan anak perempuannya, Bea yang tinggal dengan ibunya, terpaksa membiarkan adik lelakinya, Al dan isteri Al, Doris turut campur membenahi apartemen barunya agar lebih layak ditinggali.

Hal-hal aneh mulai terjadi saat darah yang didonorkan Justin diterima oleh Joyce yang sempat dirawat di rumah sakit akibat keguguran kandungan. Beberapa kali Justin dan Joyce tanpa sengaja saling bertemu dan mulai terhubung. Joyce yang tadinya vegetarian dan tak menyukai seni mendadak menyukai daging dan memiliki pengetahuan yang luas mengenai seni arsitektur, hal yang dia dapatkan dari ingatan Justin. Termasuk pula ingatan akan ayah Justin yang meninggal karena mereguk racun, hal yang hanya diketahui oleh Justin dan ibunya, serta kenangan akan Bea kecil yang menari balet. Meski berusaha mengingkarinya, Justin juga mewarisi ingatan Joyce.

Menghadapi keanehan-keanehan yang terjadi, Justin dan Joyce sama-sama meyakini bahwa hal ini berkaitan dengan darah yang didonorkan Justin dan diterima Joyce. Saat tanpa sengaja berpapasan beberapa kali terciptalah ikatan erat antara Justin-Joyce dan keduanya pun saling jatuh cinta. Namun demikian, percintaan mereka yang dimulai dengan cara tak lazim membuat keduanya tak mudah untuk memulai hubungan.

Novel yang sangat lucu dan mengharukan ini sarat dialog lucu, manis, dalam, dan menyentuh. Kepiawaian penulisnya mampu menyatukan bagian yang lucu dan mengharukan pada beberapa paragraf yang saling berkaitan, membuat pembaca dipaksa tertawa berderai untuk kemudian menitikkan air mata. Misalnya saja, saat Henry, ayah Joice yang takut naik pesawat membuat keributan di bandara, lalu juga saat sudah berada di dalam pesawat dengan berkomentar dan menanyakan banyak hal, bagian yang membuat para pembaca bisa tertawa hingga terpingkal-pingkal, tapi pada beberapa paragraf berikutnya, pembaca dibawa hanyut oleh haru, saat Henry menatap awan melalui jendela pesawat dengan foto mendiang isterinya diletakkan di meja dan dihadapkan ke jendela pula, seolah Henry ingin memenuhi keinginan ibu Joyce yang sewaktu hidup tak sempat ia penuhi keinginannya untuk bepergian ke luar negeri.

Beberapa kutipan yang dalam dan menyentuh di novel ini antara lain:
  • Kadang-kadang kita membutuhkan seluruh lem yang kita butuhkan, hanya untuk merekatkan diri kita.
  • Sebenarnya, kita semua hanya menyibukkan diri, mengisi waktu yang kita miliki, tapi kita suka membuat diri kita merasa lebih hebat dengan menyusun daftar kepentingan.
  • Tapi lebih seringnya, keputusan-keputusan mudah adalah keputusan-keputusan yang keliru, dan kadang-kadang kita merasa berjalan mundur padahal sebenarnya bergerak maju.
  • Aku berhenti di luar rumah lama kami dan mendongak menatap batu bata merahnya, pintu yang kami perdebatkan akan dicat dengan warna apa, bunga-bunga yang kami pikirkan masak-masak sebelum menanamnya. Bukan milikku lagi, tapi kenangannya masih; kenangan tidak bisa dijual.
Setidaknya, saya menangis empat kali saat membaca novel ini:
  1. di halaman 121 saat Joyce menyadari kebiasaan ayahnya membeli biskuit kesukaan ibu Joyce dan memandanginya, dan berbagai detil lainnya untuk mengenang mendiang isterinya.
  2. di halaman 211 saat ayah Joyce berpura-pura membersihkan kotoran di foto mendiang isterinya padahal ia tengah membayangkan membelai wajah isterinya yang telah meninggal.
  3. di halaman 228 saat ayah Joyce yang ditahan petugas bandara karena dianggap membuat keributan merelakan barang-barangnya disita petugas asal dapat mendampingi anak perempuannya pergi ke London.
  4. di halaman 234 saat ayah Joyce dan foto mendiang isterinya bersama-sama memandangi awan dari jendela pesawat.
Eh, sepertinya lima kali saya menangis (atau lebih?). Seingat saya, saya juga menitikkan air mata saat Joyce tanpa sengaja salah menyebut anak Kate dengan Sean (nama yang akan dia berikan untuk anaknya yang tak pernah terlahir). Bagian yang ini saya lupa mencatatnya ada di halaman berapa. Saat itu saya sedang sibuk mencari tisu untuk mengeringkan mata saya yang berlinangan air mata.

Dan tidak sempat menghitung berapa kali saya tersenyum, tertawa, atau terbahak-bahak saat membaca keseluruhan novel ini. Secara keseluruhan novel ini sangat menghibur dan sangat saya rekomendasikan untuk dibaca semua orang. 

2 komentar:

~ jessie ~ mengatakan...

Jadi tertarik baca ini...tapi kepengen baca yang english version aja, soalnya kadang-kadang terjemahan bikin kedalaman dialog atau tulisannya jadi berkurang. :D

Selvia Lusman mengatakan...

@Jessie: Hehe... Bahasa asli memang ngga mungkin salah tafsir ya? Sudah pernah baca karya Cecelia Ahern sebelumnya?