Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Jumat, 12 September 2014

Review Novel Dewi Kawi

Novel pendek yang ditulis oleh Arswendo Atmowiloto ini bercerita tentang Eling, yang kini di usia senja telah menjadi juragan. Berasal dari keluarga miskin, Eling dan adiknya, Waspodo sampai terpaksa mengais kol busuk di pasar untuk menyambung hidup, termasuk juga mengumpulkan air kelapa yang oleh pedagang di pasar dibuang begitu saja karena tidak terpakai, mengumpulkan biji srikaya, sirsak dan kedondong yang diolah menjadi makanan ringan dan malah menelurkan ide usaha. Sewaktu usianya masih dua puluh satu tahun lebih beberapa bulan, Eling pernah jatuh cinta pada seorang pelacur dengan nama Dewi Kawi. Percintaan mereka berlangsung beberapa saat. Eling menjadi pelanggan tetap Kawi. Meskipun Eling tidak dapat membayar lebih seperti pelanggan yang lain, Kawi tetap meladeni, malah menghadiahinya gunting kuku, kaus, dan sarung. Keduanya jatuh cinta dan berniat menikah. Namun, setalah usaha Eling mulai menanjak, termasuk menciptakan produk belut yang lembut yang inspirasinya berasal dari Kawi, perlahan-lahan Eling menjauh dan akhirnya tak pernah menemui Kawi lagi. Ketika Eling akhirnya telah sukses, ia meminta adiknya, Waspodo untuk mencari Kawi, ingin berterima kasih padanya karena dulu telah mencintainya dan memberinya dorongan untuk meraih kesuksesan. Sayangnya pencarian Waspodo terbentur kepada dua belas orang bekas pelacur yang semuanya bernama Kawi. Terakhir, Waspodo merasa Bu Kidul lah yang paling mendekati gambaran yang diceritakan Eling, namun sebelum mengetahui kebenarannya apakah Bu Kidul memang benar Kawi, Waspodo telah keburu meninggal. Bu Kidul sendiri tidak ingat banyak tentang masa lalunya. Pada akhirnya, Eling sendiri merasa ragu untuk menemui Bu Kidul dan mencaritahu apakah ia benar adalah Kawi yang pernah ia cintai dahulu. Ia khawatir kedatangannya malah akan membuat Kawi (jika ia benar Kawi) merasa rendah kalau diingatkan akan masa lalunya sebagai bekas pelacur. Cerita berakhir dengan gambaran keraguan Eling dan tak tersedia akhir yang jelas.

Di sepanjang cerita, Arswendo memang terus menekankan bahwa ingatan adalah sebuah rekonstruksi ulang, bisa didramatisir sedemikian rupa sehingga tidak akurat, seperti juga halnya cinta dan mimpi, seperti sebuah dusta, namun sebaiknya tidak dianggap dosa, sebab ketidak-akuratannya hanyalah karena diromantisasi, bukan karena maksud yang lain. Sebagai sebuah kisah cinta, novel ini tentu saja berbeda, bukan saja karena kedua tokohnya "tidak sempurna" karena bukan melulu menceritakan tentang seorang pria dan wanita, tapi tentang pelacur dan pelanggannya yang saling jatuh cinta. Endingnya juga tidak sesempurna seperti Pretty Woman, di mana Richard Gere jatuh cinta pada Julia Roberts yang berperan sebagai pelacur di film itu. Namun, endingnya yang "tak sempurna" itu justru merupakan akhir yang membumi. Novel ini pun ditulis dengan ringan dan mengalir, tak ada kesan pahit, meski Kawi digambarkan sebagai seorang anak perempuan yang dinikahkan pada usia dua belas tahun, sampai akhirnya nasib membawanya tinggal di lokalisasi dan mencari nafkah di situ. Penuturan di dalam novel ini sangat blak-blakan dan apa adanya, meski di beberapa bagian juga sangat dalam, puitis, dan indah, seperti beberapa kutipan di bawah ini:

"Kematian perlu upacara, mengenang yang tiada."

"Dalam keadaan jatuh cinta, kita menangkap senyuman sebagai perhatian, kita menemukan realitas lain dari sebatang cokelat sebagai sesuatu yang istimewa. Mereka yang tengah jatuh cinta sebenarnya sedang mendustai dalam pengertian mengubah realitas yang ada."

"Cinta adalah dramatisasi, rekonstruksi ulang segala kejadian yang dialami - atau tak dialami secara langsung. Ketika kita larut di dalamnya, dan tak mampu membedakan mana peristiwa yang sesungguhnya dan mana yang olahan, sempurnalah sudah libatan emosi itu."


Secara keseluruhan, novel ini mudah dibaca. Meski termasuk bacaan sastera, membacanya tidak akan sampai membuat kening berkerut, karena pemilihan kalimat dan konstruksi tata bahasanya yang lugas.

Tidak ada komentar: