Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Senin, 08 September 2014

10 Hal yang Saya Cinta

Beberapa waktu yang lalu, saya dan sahabat saya, Herny Yahya memutuskan untuk membuat permainan kecil dengan menyebutkan sepuluh hal yang kami cintai secara random, dan mencaritahu apakah kami memiliki persamaan. Dari kesepuluh hal yang saya cintai, ternyata ada tiga persamaan antara saya dengan sahabat saya, yaitu kami sama-sama mencintai buku, puisi, dan hujan. 

Berikut list dari ke-10 hal yang saya cintai: 
  1. Buku 
  2. Puisi 
  3. Hujan 
  4. Bunga 
  5. Kopi 
  6. Kutipan 
  7. Kejujuran 
  8. Kebulatan tekad 
  9. Loyalitas 
  10. Akhir bahagia 
Mengapa kami harus repot-repot membuat permainan kecil ini? Buat saya sendiri, ini bermula dari rasa prihatin saya dengan banyaknya status yang saya baca yang bernada negatif dan menggunakan emoticon yang juga negatif, dari yang ringan seperti emoticon sedih, hingga emoticon marah. Dengan membuat permainan kecil (yang tak digubris banyak orang ini), kami hanya ingin membuat orang-orang di sekeliling kami mulai memikirkan hal-hal yang lebih menyenangkan ketimbang semua perasaan dan pemikiran negatif tersebut. Meski tampaknya tidak berhasil, tapi buat saya sendiri, hal ini mengilhami saya untuk menulis lagi postingan untuk label "Silly Me" yang telah lama vakum, dan berikut adalah uraian dari ke-10 hal yang saya cintai itu: 

Buku adalah teman yang menyenangkan dan selalu dapat diandalkan, tidak melulu untuk membunuh waktu ketika menunggu atau melewatkan waktu luang, tapi nyaris menjadi kebutuhan primer serupa dengan makan. Saya sendiri tidak bisa membayangkan melewatkan satu hari tanpa membaca. Bahkan saya sendiri baru menyadari bahwa koleksi buku saya jauh lebih banyak daripada koleksi pakaian saya, padahal pakaian sebenarnya termasuk kebutuhan primer. 

Saya mencintai puisi semenjak saya mendapat tugas membuat puisi saat pelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar dulu. Pada saat saya selesai membuatnya, saya baru mengetahui bahwa saya ternyata memang cukup pandai membuatnya. Meski mungkin tidak sebagus karya penyair sungguhan, setidaknya saya tidak perlu memeras otak seperti teman-teman saya saat menyelesaikan tugas membuat puisi. Hingga kini, puisi menjadi sebuah hal yang terasa wajar dan normal untuk menjadi bagian dari kehidupan saya. Saya jadi teringat, saat reuni SMP setahun lalu, mendiang kepala sekolah saya sempat bertanya, "Apa kamu masih suka membaca puisi?" Dan saya sambil tersenyum mengiyakan pertanyaannya. Puisi bisa menjadi sebuah persembunyian. Saya bisa saja menulis buku harian dalam bentuk puisi dan jika dibaca orang, saya bisa tetap merasa aman, karena belum tentu yang membacanya akan memahaminya. 

Entah mengapa, saya selalu suka hujan. Jangan salah: saya bilang saya suka hujan, bukan kehujanan, bukan pula kebanjiran. Hanya hujannya saja. Ada yang magis dari hujan, ada sisi yang ritmis, romantis, bahkan juga mistis. Saat hujan turun tiba-tiba di siang yang terik, orang bisa terheran-heran, bagaimana cuaca bisa berubah demikian drastis dan tak sesuai perkiraan; bukankah magis? Rintik hujan yang memukuli jendela dan atap; bukankah ritmis? Berjalan di bawah payung menyusuri jalanan yang basah; bukankah romantis? Konon, hujan pun memiliki pawang, supaya tidak turun jika tidak dikehendaki; bukankah mistis?

Saya mencintai bunga, meski tidak semua jenis bunga. Saya menyukai harum lavender, kecantikan mawar, putihnya melati, cerianya krisan, bahkan lembutnya anggrek. Bukankah tanpa bunga, sebuah perhelatan terasa kurang semarak? Bukankah tanpa bunga sebuah prosesi pemakaman akan terasa terlalu beku? Bukankah tanpa bunga, sebuah nisan akan terasa sendirian? Bukankah tanpa bunga, sebuah taman akan terasa kurang indah dipandang? 

Kopi sudah pasti sebuah kebutuhan, juga gaya hidup; dapat diandalkan untuk mengusir kantuk, dapat menjadi inspirasi untuk menulis (setidaknya saya pernah menulis satu atau dua puisi yang berkaitan dengan kopi), dan manfaatnya bagi kesehatan. Hari ini saya membaca sebuah artikel yang menyebutkan bahwa berdasarkan studi terbaru, gejala glaukoma dapat membaik dengan minum kopi. Antioksidan yang terdapat pada kopi dapat mencegah terjadinya degenerasi retina. Sudah pasti pula, kopi lebih enak untuk diminum, ketimbang diperbincangkan. 

Saya menyukai kutipan, baik dari lagu, film, puisi, artikel, buku atau bahkan dari sosok idola yang menurut saya menarik dan inspiratif. Saya mengutipnya di mana saja, di pembatas buku buatan sendiri, disisipkan di antara tulisan saya, pokoknya sesuka saya mau menempatkannya di mana. 

Konon, kejujuran bisa saja menyakitkan. Itu sebabnya ada saja orang yang lebih suka menyembunyikannya atau tidak mengungkapkan seluruhnya. Hanya saja, saya telanjur mencintai kejujuran, dan menganggapnya sebagai hal yang harus dipertahankan. Mungkin itu sebabnya, jika saya mengendus sedikit ketidakjujuran, kepercayaan saya jadi gampang luntur. 

Bagi saya, kebulatan tekad adalah sebuah hal yang harus dipelajari, karena kualitas ini tidak dimiliki semua orang. Saya mempelajarinya dari orang-orang yang saya kagumi. Dari Kimi Raikkonen, pebalap Formula One yang saya kagumi yang butuh waktu tujuh tahun sebelum meraih gelar juara dunianya pada tahun 2007; dari Elizabeth Kostova yang membutuhkan waktu sepuluh tahun untuk menyelesaikan menulis novel The Historian, dan secara umum, dari semua orang yang tak jera dengan kegagalan, terus berusaha untuk berkarya tanpa menyerah dengan kesulitan. 

Seperti halnya kebulatan tekad, loyalitas pun perlu dipelajari untuk dapat dikerjakan. Sama halnya dengan kejujuran, loyalitas perlu dipertahankan dan diusahakan, bukan dipertanyakan. 

Saya selalu suka yang namanya akhir bahagia. Tidak peduli sebagus apa pun sebuah film, seperti misalnya Gone with the Wind, tetap saja miris ketika Scarlett ditinggalkan Rhett, atau saat Rose ditinggal mati oleh Jack dalam Titanic. Maafkanlah, saya tetap saja sebal saat Nicholas Sparks "membunuh" tokoh utama pria-nya di Message in A Bottle dan saat Erich Segal "membunuh" tokoh utama wanita-nya dalam Love Story. Saya suka akhir bahagia. Itu saja. Akhirnya, semoga lebih banyak akhir bahagia di bab kehidupan semua orang yang membaca postingan ini.

Tidak ada komentar: