Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Selasa, 12 Agustus 2014

Review Novel A Study in Scarlett

Novel yang ditulis oleh Sir Arthur Conan Doyle ini merupakan buku pertama dari serangkaian buku yang mengisahkan tentang petualangan detektif konsultan bernama Sherlock Holmes yang terkenal itu. Dalam buku ini dikisahkan awal pertemanan antara Sherlock Holmes dengan Dr. Watson. Buku ini yang cara bertuturnya dengan menggunakan catatan harian Dr. Watson sebagai sang penutur diawali dengan Dr. Watson yang setelah bertugas dalam peperangan di Afghanistan dikembalikan ke London karena kondisi kesehatannya yang memburuk setelah tertembak dan sempat menderita tifus. Karena kesulitan keuangan, Dr. Watson dengan gembira menyambut informasi dari temannya bahwa ada seorang eksentrik bernama Sherlock Holmes yang ingin mencari teman untuk berbagi sewa apartemen. Setelah menemui Holmes dan puas dengan kesepakatan yang mereka buat, jadilah Dr. Watson dan Sherlock Holmes tinggal dalam sebuah apartemen sewaan di Baker Street. Butuh waktu beberapa lama bagi Dr. Watson untuk mengetahui bahwa profesi Holmes adalah sebagai seorang detektif konsultan. 

Suatu ketika, dua orang detektif polisi dari Scotland Yard, Mr. Lestrade dan Mr. Gregson yang saling bersaing meminta bantuan Holmes atas kasus terbunuhnya seorang pria bernama Enoch J. Drebber di sebuah rumah kosong di Lauriston Gardens. Holmes pun mengajak Dr. Watson untuk mendatangi tempat kejadian perkara. Pria yang terbunuh tanpa ada jejak luka membuat Holmes menyimpulkan bahwa pria itu mati diracun. Sementara di dinding tertulis kata RACHE. Mulanya Lestrade mengira kasus itu ada hubungannya dengan seorang wanita bernama Rachel karena tulisan di dinding tersebut dan ditemukan sebuah cincin di rumah itu, namun penjelasan Holmes bahwa RACHE adalah kata bahasa Jerman untuk pembalasan langsung membungkam koleganya dari kepongahan mereka yang merasa sebagai detektif ulung. 

Lewat penyelidikan lebih lanjut dan iklan jebakan yang dipasang Holmes mengenai cincin yang ditemukan di tempat kejadian perkara, Holmes pun mencoba melacak sang pelaku pembunuhan. Saat diketahui bahwa Joseph Stangerson, sekretaris Drebber juga terbunuh, Holmes pun mengerahkan sendiri pasukannya berupa anak-anak jalanan untuk membantu menyelidiki. Akhirnya di apartemennya di Baker Street, Holmes berhasil menjebak Jefferson Hope, sang pelaku pembunuhan. 

Ternyata motif pembunuhan Hope adalah karena dendam. Dua puluh tahun sebelumnya, Hope hampir menikahi Lucy Ferrier, anak angkat dari John Ferrier setelah keduanya menjadi yang tersisa dari rombongan mereka yang tewas karena kehausan dan kelaparan di Sierra Blanco. Keduanya kebetulan bertemu dengan rombongan pengelana dari agama Mormon. John Ferrier pun bersedia menjadi pengikut Mormon demi memperoleh kesempatan hidup. Setelah mendapat makanan dan minuman, John pun bersama Lucy yang waktu itu masih kecil akhirnya membuka lahan di Salt Lake City dan dalam beberapa tahun berkat kerja kerasnya menjadi kaya. Saat Lucy tumbuh dewasa dan menjadi gadis tercantik di Utah, Drebber yang telah memiliki tujuh isteri dan Stangerson yang telah memiliki empat isteri memperebutkan Lucy untuk dijadikan isteri mereka berikutnya. Lucy sendiri yang jatuh cinta pada Hope tidak berdaya karena sebagai penganut Mormon ia dilarang menikahi pria yang tidak memiliki kepercayaan yang sama dengannya. Apalagi siapa pun yang menentang ajaran mereka bisa tiba-tiba menghilang tanpa diketahui siapa yang melakukan pembalasan atas ketidakpatuhan mereka terhadap ajaran Mormon. Hope yang dikabari oleh John, lalu mempertaruhkan nyawanya untuk membawa John dan Lucy melarikan diri. Sayangnya, saat ia meninggalkan John dan Lucy untuk berburu binatang saat pasokan makanan mereka habis, ia kembali hanya untuk mendapati bahwa John telah dibunuh dan dimakamkan seadanya di ceruk tempat persembunyian mereka selama dalam pelarian. Lucy telah dibawa paksa kembali ke dalam komunitas Mormon dan dipaksa menikahi Drabber. Lucy yang berduka akhirnya meninggal sebulan kemudian. Sejak itu, Hope pun berniat menuntut balas atas kematian Lucy dan John. Karena kondisi kesehatan dan keuangan Hope, baru dua puluh tahun kemudian ia berhasil melacak jejak Drabber dan Stangerson yang terus berpindah-pindah untuk menghindari Hope dan berhasil membalaskan dendamnya atas kematian John dan Lucy Ferrier. Saat Hope ditangkap, malamnya ia meninggal karena kondisi jantungnya. Hope menderita aneurisme aorta akibat terlalu lama berada di udara terbuka dan kekurangan makan saat berada di pegunungan Salt Lake. 

Seperti perkiraan Holmes, meski ia yang berhasil menguak misteri pembunuhan dan menangkap John Hope, tetap saja Lestrade dan Gregson yang mendapat publikasi dan pujian. 

Satu hal yang langsung terasakan dari novel ini adalah kepiawaian Doyle dalam menuturkan kisahnya. Dengan plot yang rapi dan mengalir lancar, pembaca seolah dibawa membaca sebuah novel misteri modern. Meski Doyle sendiri meninggal pada tahun 1930, namun tulisannya seolah ditulis oleh penulis modern, bukan oleh penulis yang terlahir di tahun 1859. Tidak ada deskrpsi berbunga-bunga, pun tak ada hiperbola saat karakter Holmes yang cerdas dituturkan. Lagi pula, Doyle begitu pandai memicu rasa keingintahuan pembacanya. Sebelum membaca buku ini, saya bahkan tidak tahu dan tidak tertarik untuk mencari tahu perbedaan antara biola Cremona, Stradivarius, dan Amati jika di halaman 42 Doyle tidak mengisahkan tentang Holmes yang berceloteh tentang hal itu pada Dr. Watson sementara mereka menuju Brixton Road dengan kereta kuda untuk memulai penyelidikan kasus mereka. Dan siapa pula yang akan mengetahui arti kalimat Romawi 'Populus me sibilat, at mihi plaudo Ipse domi simul ac nummos contemplar in arca.' jika Doyle tidak membuat Dr. Watson mengucapkannya di akhir cerita? Karena kemahiran Doyle dalam menggugah rasa ingin tahu pembacanya, maka kini tahulah saya bahwa kalimat tersebut kira-kira berarti sebagai berikut: 'Publik mendesis padaku, tapi aku menghibur diri ketika di rumahku sendiri aku merenungkan koin-koin di dalam kotakku yang kuat.'

Tidak ada komentar: