Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Selasa, 12 Agustus 2014

Review Buku Gitanjali

Buku kumpulan puisi karya Rabindranath Tagore, penyair sekaligus novelis, musisi, dan dramawan yang memenangkan penghargaan novel sastra pada tahun 1913 ini diberi judul Gitanjali yang berarti "Sebuah Lagu Persembahan". Di bagian depan buku ini ada sebuah kata pengantar, entah ditulis oleh siapa. Kata pengantar yang cukup panjang yang ditulis (atau diterbitkan ?) pada September 1912. 

Sejujurnya, membaca Gitanjali, saya tidak begitu memahami keseluruhan puisi di dalamnya. Meskipun tak bisa disangkal bahwa semua puisi dalam buku ini sangat indah, namun buat selera saya sukar dipahami maknanya, tidak lugas seperti puisi-puisi Khalil Gibran dan Chairil Anwar yang notabene memang merupakan penyair kesukaan saya. Mungkin karena kesubyektifan itulah maka saya merasa buku kumpulan puisi ini sukar dicerna. Mungkin karena terasa dipaparkan secara simbolis, atau temanya yang sepertinya mau membicarakan tentang kehidupan dan kematian secara religius, maka entah mengapa puisi-puisi di buku ini tak ada satu pun yang saya sukai atau terasa inspiratif buat saya. Atau mungkin juga karena sejatinya saya memang tidak memahami maknanya. Membaca kata pengantarnya pun cukup membuat kening saya berkerut, karena buat saya tidak membuat isi puisi-puisinya makin jelas, justru terasa makin samar, sesamar pemahaman saya akan kata pengantarnya yang rasanya berat untuk dicerna. Sekali lagi, mungkin karena keterbatasan pemahaman saya saja. Hanya rasanya, buat apa repot-repot menulis karya sastra, apa pun bentuknya, jika pesannya tidak tersampaikan karena maknanya terlalu rumit bagi yang membacanya? 

Selain itu, entah mengapa, temanya yang terasa berat terasa melankolis dan pesimis, dengan banyaknya kata yang membahas tentang kesedihan, air mata, juga kematian. Rasanya juga membicarakan tentang Tuhan. Jika penafsiran saya tidak keliru kata "Raja" di buku ini mungkin adalah simbolisasi dari Tuhan. Secara keseluruhan, saya cuma menangkap Gitanjali adalah sebuah buku kumpulan puisi yang sangat indah, sekaligus sangat njelimet (rumit) dan bikin mumet (pusing).

Tidak ada komentar: