Translate

Total Tayangan Halaman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Jumat, 20 Juni 2014

Review Novel The Face Thief

The Face Thief yang terdiri dari 40 bab dan ditulis oleh Eli Gottlieb dengan alur maju-mundur berkisah tentang Margot Lassiter, seorang gadis muda yang menggunakan kecantikannya dan kemampuannya untuk memanipulasi untuk menipu dan menguras kekayaan korban-korbannya yang semuanya pria. Meski modus operandinya tidak selalu dengan tidur dengan korban-korbannya, Margot hampir tidak pernah gagal memperdayai korban-korbannya. 

Bermula dari masa kecilnya yang keras, Margot melihat sendiri bagaimana ibunya yang menderita multiple sclerosis terpaksa terbaring di ranjang dirundung oleh penyakitnya, sementara ayah Margot yang pemabuk justru berselingkuh, dan akhirnya membuat keluarga mereka mengalami kebangkrutan dan kesulitan ekonomi. Margot pun jadi terbiasa mencuri sejak usia dua belas tahun, dan memakai seks sebagai senjata sejak usia enam belas tahun. Mulanya ia hanya ingin memanfaatkan lelaki yang dekat dengannya, seperti Randy Patterson, kekasihnya saat remaja, lalu dosen bahasa Inggrisnya, Neil Walsh, kemudian berlanjut dengan pencurian dan penipuan. Di antara korban-korban Margot adalah Clive Pemberthy, lalu ada pula John Potash (saat menipu John, Margot memakai nama samaran Janelle Styles) yang kehilangan uangnya saat Margot mengiming-iminginya investasi dengan penggandaan uang, dan ada pula Lawrence Billings, seorang ahli membaca wajah. Margot belum lagi berhasil mengeruk uang dari Lawrence saat pria itu mendorongnya dari tangga hingga jatuh dan cidera yang membuat ingatannya menjadi hilang sebagian. Margot yang mengirim surat pada Lawrence telah menyebabkan Glynis, isteri Lawrence yang telah jemu dengan perselingkuhan Lawrence di masa lalu meninggalkan rumah, padahal kali ini Lawrence tidak berselingkuh.

Saat berada di pusat rehabilitasi, adalah Dan France, polisi yang bertugas menjaga Margot sampai ingatannya pulih. Ketika ingatan Margot mulai menunjukkan kemajuan, France pun membawa Margot ke rumah persembunyian. Sepeninggal France yang mengunci dirinya di dalam rumah berangkat bertugas, Margot pun melarikan diri setelah berhasil menemukan kunci yang disembunyikan France. Pelariannya terhambat saat Josh yang sebelumnya telah menyewa detektif dan berhasil melacaknya mendesaknya untuk mengembalikan uangnya. Margot berhasil menipu Josh dengan mengajaknya masuk ke rumah untuk memeriksa rekening tabungan mereka dengan laptop. Saat Josh lengah karena mendapat telepon dari ibunya, Margot pun melarikan diri. Ia berhasil meloloskan diri setelah membuang baterai ponselnya ke toilet bandara agar keberadaannya tidak terlacak. Di atas pesawat, Margot telah bersiap untuk menjerat korban berikutnya. Sedangkan Lawrence sendiri akhirnya ditangkap untuk kejahatannya mencoba membunuh Margot dengan mendorongnya dari tangga.

Novel berplot random ini mudah dibaca karena setiap babnya ditulis pendek dan minim deskripsi, sehingga terhindar dari kesan berbelit-belit. Meski Margot digambarkan sebagai dewi cantik pembawa bencana, kesan dramatis itu tidak tergambar sempurna, karena tulisan Gottlieb yang datar saja penuturannya. Hanya pembaca dibawa sedikit bersimpati pada Margot saat di bagian awal dia jatuh dari tangga, juga caranya menipu korban-korbannya yang bermuara dari ketakutannya akan memiliki nasib yang sama seperti ibunya. 

Novel ini mengingatkan saya pada If Tommorow Comes-nya Sidney Sheldon, dengan tokoh utama Tracy Whitney yang mana lebih saya sukai, karena Tracy murni menipu tapi tidak pernah tidur dengan korban-korbannya dan ia melakukannya dengan kecerdikan. Tracy juga memiliki alasan yang lebih masuk akal karena ia sendiri pernah dijebak untuk kejahatan yang tak pernah ia lakukan. Sementara Margot terkesan "murahan" meski kesan semacam itu berusaha dibuang oleh Gottlieb yang menggambarkan Margot sebagai "korban masa kecil yang tidak bahagia", meski deskripsi yang samar-samar dengan plot random yang sama samarnya, pada akhirnya seperti membingungkan penulisnya sendiri, di mana di bab ke-35 John salah memanggil Janelle dengan Margot padahal tak ada indikasi di bab-bab sebelumnya bahwa John mengetahui nama asli Janelle adalah Margot. 

Deskripsi yang samar mungkin tidak selamanya sebuah kelemahan, karena menyebabkan setiap bab di novel ini pendek saja. Inilah kelebihan Gottlieb yang membuat novel ini mudah dibaca, namun plot-nya yang mungkin terbilang happy ending karena Margot berhasil meloloskan diri dari hukuman penjara yang menantinya karena kasus penipuan tidaklah semanis happy ending yang disodorkan Sidney Sheldon (di If Tomorrow Comes) saat Tracy Whitney yang akhirnya mendapatkan tambatan hatinya, Jeff Stevens juga tergoda untuk kembali menipu setelah memutuskan untuk pensiun dari kejahatannya menipu. Secara keseluruhan, novel ini mudah dibaca, tapi menurut selera saya sendiri, tidak memiliki happy ending yang ideal. 

Meski begitu, novel ini menyusupkan beberapa kutipan yang agak menarik sebagai berikut:

Bagaimana mungkin kau bisa hidup tanpa keraguan? Hidup dipenuhi olehnya. (hlm 31)

Semua orang memiliki tempat yang harus dituju di dunia ini; setengah kehidupan sedang mengarah ke sana secepat mungkin. (hlm 249)

Seorang guru yang jahat, kehidupan itu. Dan dia terus mengulangi pelajaran yang sama hingga kau menyerah kalah. (hlm 278)

Hidup adalah proses tak berakhir dari mengelupaskan kulit, dan dia adalah seekor kobra yang sedang berjemur di atas batu. (hlm 291)

Tidak ada komentar: