Translate

Total Tayangan Halaman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Kamis, 26 Juni 2014

Review Novel Canting

Novel Canting yang ditulis oleh Arswendo Atmowiloto dan telah berulangkali dicetak ulang ini bercerita tentang keluarga Ngabehi Sestrokusuman, khususnya Raden Ngabehi Daryono yang eksentrik karena berani berbeda sendiri dengan mengawini buruh pabriknya yang di pandangan keluarganya berbeda derajat jauh sekali. Adalah Tuginem yang setelah disunting oleh Den Bei Daryono atau Pak Bei akhirnya berhasil menaikkan derajatnya menjadi isteri priyayi dan dikenal sebagai Bu Bei. Ia melahirkan lima orang anak bagi suaminya: Wahyu Dewabrata, Lintang Dewanti, Bayu Dewasunu, Ismaya Dewakusuma, Wening Dewamurti. Masalah timbul saat suaminya mencurigai kehamilan anaknya yang keenam yang mungkin bukan berasal dari benihnya, tapi hasil perselingkuhan Bu Bei dengan Mijin, buruh batik yang bekerja untuk mereka. Meski demikian, Pak Bei pun menganggap anak keenam yang dilahirkan isterinya dan diberi nama Ni sebagai anak kandungnya sendiri. Karena Pak Bei pun bukannya tanpa cacat. Ia sendiri dan teman-temannya sesama priyayi setiap Jumat Kliwon mengadakan pertemuan di Njurug dengan dalih membicarakan kebudayaan Jawa, namun pada akhirnya berakhir dengan mabuk oleh minuman keras dan mrau (menuju perahu)  untuk bersetubuh dengan penyanyi keroncong yang disewa untuk memeriahkan acara pertemuan; sekalipun hal itu dianggap lumrah di kalangan priyayi.

Usaha batik cap Canting yang dimiliki oleh Bu Bei dengan 112 buruh yang bekerja untuknya semakin lama semakin terdesak oleh batik printing yang lebih laku dan murah ketimbang batik tradisional yang dikerjakan oleh tangan. Namun meski tidak digaji secara memadai, ke-112 buruh batik itu tetap setia kepada majikan mereka. Hal itu adalah balas budi yang mereka tunjukkan karena saat banjir besar melanda dan Pak Bei yang kehilangan banyak harta menunjukkan kebaikan hatinya dengan memberikan makanan dan memelihara mereka.

Adalah Ni yang merasa terpanggil untuk menyelamatkan usaha batik keluarganya. Hal ini memukul Bu Bei hingga jatuh sakit dan akhirnya meninggal. Ketertarikan Ni akan batik seperti mengingatkan kembali Bu Bei bahwa Ni bukanlah anak kandung Pak Bei; namun Pak Bei yang justru paling menyayangi Ni justru terhibur dan seolah meyakinkan dirinya bahwa Ni memang benar anaknya, karena jiwa Ni dan jiwanya sama-sama berani "tidak Jawa". Meski disalahkan oleh saudara-saudara seibunya dan ipar-iparnya karena kematian ibunya, Ni tetap bersikukuh untuk mempertahankan usaha batik keluarganya. Keinginannya mendapat restu dari Pak Bei dan didukung oleh Himawan, tunangan Ni; namun tuduhan dari iparnya bahwa ia ingin menikmati sendiri usaha keluarganya dengan serakah, juga kedatangan Laksmi, sepupunya yang semasa ibunya masih hidup terbiasa menerima uang dari Bu Bei, serta pengucilan yang dilakukan saudara-saudara sekandungnya tak urung membuat Ni patah semangat dan jatuh sakit. Ia baru pulih setelah Pak Bei datang menengok.

Setelah menikah dengan Himawan dan melahirkan anak pertamanya, Ni tetap melanjutkan usaha batik keluarganya, namun tidak lagi mempertahankan cap Canting.

Kemahiran Arswendo sebagai seorang penulis jelas terasakan dari caranya bercerita yang ringan dan mudah dipahami, menjauhkan pandangan sebagian orang bahwa sastera adalah bacaan berat yang membuat kening berkerut. Dengan lugas, namun dalam Arswendo seolah ingin menyampaikan bahwa manusia memang ada sisi baik, juga sisi buruknya. Seperti Pak Bei, yang sekilas sepertinya bukan suami yang baik, tapi toh sebenarnya bijaksana. Ia tetap mempertahankan keutuhan rumah tangganya dengan menganggap Ni anak kandungnya sendiri. Juga saat Wahyu menghamili Genduk Wagimi, salah seorang buruh batik dan Pak Bei tidak memaksa anaknya untuk bertanggung jawab. Ni mulanya marah, tapi setelah mengetahui pertimbangan Pak Bei bahwa Wahyu berjiwa kerdil dan hanya akan makin menyengsarakan Genduk jika dipaksa menikah dengannya, Ni pun baru memahami kebijakan pemikiran ayahnya.

Hal itu hanyalah sebagian dari kebijaksanaan Pak Bei. Dari tokoh-tokoh lainnya di novel ini, kita pun dihadapkan pada sifat baik dan sifat buruk manusia, semua dipaparkan apa adanya. Semuanya ditulis dengan sederhana, namun indah. Ditulis dengan lugas, namun di beberapa bagian tetap puitis dan berima, seperti selayaknya sebuah karya sastra. Kemanusiaan pun diceritakan dengan manis, sekaligus miris.

Berikut adalah beberapa kutipan yang menarik di buku ini:

Kehidupan justru terasakan dalam menunggu. Makin bisa menikmati cara menunggu, makin tenang dalam hati. (hlm 72)

Ini adalah semacam permainan perasaan, bagaimana menangkap keinginan yang diwujudkan dengan diam. (hlm 204)

Aku tak suka memaksa. Karena pasrah itu bukan memaksa untuk pasrah. Itu salah. (hlm 235)

Dalam pasrah tak ada keterpaksaan. Dalam pasrah tidak ada penyalahan kepada lingkungan, pada orang lain, juga pada diri sendiri. (hlm 259)

Kerukunan, keharmonisan itu penting. Itu bagus. Tapi bukan satu-satunya. Kalau memang tak bisa dibuat rukun, ditampilkan secara rukun, ya tahan sementara saja. (hlm 357)

Beberapa kutipan yang puitis dan berima antara lain:

Matahari seperti tergesa menyiapkan senja. (hlm 154)

Perahu motor bergoyang-goyang. Langit juga bergoyang-goyang. (hlm 187).

Pengungkapan yang cerdas juga tersirat dalam kutipan berikut:

Keluargaku tak akan bertanya. Mereka akan bertanya-tanya dalam hati. (hlm 192)

Bagaimana bisa tahu kalau tak ada yang mengatakan? Bagaimana bisa harus kalau tak ada ketentuan? (hlm 206)

Budaya seperti inilah sesungguhnya budaya Jawa. Kamu bisa melakukan kalau mau, dan tak usah melakukan kalau malu. (hlm 247)

Sedang kemanusiaan tergurat dalam kutipan di bawah ini:

Benar, pasti yang ditanyakan kapan kawinnya.
Seakan belum lengkap dan sempurna kalau belum menikah. (hlm 21)

"... Buruh-buruh itu membuat kami sekeluarga berhasil, tapi kami tak memberikan apa-apa pada mereka." (hlm 185)

Fakta bahwa novel ini terus dicetak ulang rasanya sudah menjelaskan dengan sendirinya mengapa novel ini layak dibaca.

Tidak ada komentar: