Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Minggu, 25 Mei 2014

Review Novel The Footprints of God

Novel yang ditulis oleh Greg Iles ini berawal dari Dr David Tennant yang meninggalkan rekaman dirinya membuat pengakuan setelah rekannya, Andrew Fielding dibunuh. David, Andrew dan dua orang lainnya, Peter Godin dan Ravi Nara masing-masing menjalani super MRI untuk menciptakan neuromodel mereka demi menciptakan super komputer yang dinamai Trinity. Masih ada John Skow, wakil direktur NSA yang juga sekaligus direktur proyek Trinity, Jenderal Horst Bauer dan anak perempuannya, Geli Bauer yang menjadi musuh David dalam pelariannya. Inisiatif untuk membunuh Andrew dan David datang dari rekannya sendiri, Peter Godin yang menginginkan Trinity terwujud apa pun resikonya. Sementara Andrew dan David tiba pada kesimpulan yang sama bahwa Trinity justru akan menjadi mesin diktator yang membahayakan keselamatan umat manusia. Dengan Rachel Weiss, psikiaternya yang belakangan terlibat hubungan asmara dengannya sebagai satu-satunya sekutu, David mengalami perjalanan panjang dan berbahaya untuk lari dari kejaran orang-orang yang ingin membunuhnya. David hanya dapat mengandalkan nalurinya untuk bertahan hidup dan mimpi-mimpinya yang berasal dari narkolepsi yang diidapnya sebagai efek samping dari super MRI yang dijalaninya. Bukan hanya David, Lu Li, isteri Andrew pun tak luput dari incaran pembunuhan. Tapi perempuan itu lebih beruntung dalam melarikan diri. 

Sementara David tadinya menggantungkan harapan pada presiden Bill Matthews yang adalah sahabat mendiang kakaknya, James Tennant yang dibunuh oleh Geli untuk mendapatkan jaminan keselamatan, harapan itu makin pudar saat John Skow menyampaikan pada Ewan McCaskell yang bekerja pada presiden bahwa David telah terganggu kejiwaannya setelah dipindai oleh super MRI dan berniat membunuh presiden. Reputasi David makin buruk saat ia terpaksa membela diri dengan membunuh lelaki yang dikirim Geli untuk menghabisinya. Ia juga terpaksa mencuri mobil tetangganya dan sebuah truk untuk bisa lolos dari kejaran. 

Diarahkan oleh mimpi-mimpinya, David dan Rachel pun terbang ke Israel. Ia merasakan bahwa jawaban dari serangan narkolepsi dan mimpi-mimpinya ada di Yerusalem. Rachel sendiri sebenarnya mencurigai David mengidap skizofrenia karena David merasa bahwa dirinya adalah yang dipilih Tuhan untuk menghentikan Trinity, dan merasa bahwa dirinya adalah Yesus di kehidupan sebelumnya. 

Setelah super komputer Trinity benar-benar berhasil diselesaikan dan mencapai keadaan Trinity dengan memakai neuromodel Peter Godin, seperti yang dikhawatirkan Andrew dan David, dunia pun menghadapi ancaman. Trinity mendikte negara-negara untuk mengikuti kemauannya. Setelah Jerman menolak, melalui jaringan internet yang terhubung dengannya, Trinity pun menghukum dengan membuka bendungan sehingga separuh kota yang berpemukiman padat penduduk dilanda banjir. Trinity pun membuat Jepang kelimpungan dengan memicu perdagangan sehingga yen turun hingga lima belas persen. 

Saat Amerika bereaksi ingin menyerang Trinity sebagai bentuk perlawanan, Trinity pun mengaktifkan misil-misil untuk menghancurkan negara-negara bagian. David pun dengan bantuan dari Mossad akhirnya dengan terang-terangan memilih berhadapan langsung dengan musuh-musuhnya. Ia menuju ke White Sands, tempat rahasia di mana Trinity terletak. Ia pun berusaha meyakinkan musuh-musuh dan rekannya bahwa jika ia diijinkan untuk bicara pada Trinity, ia mungkin akan berhasil meyakinkan mesin itu untuk mematikan dirinya sendiri. Tentu saja hal ini tidak mudah, karena Jenderal Bauer yang berwenang di White Sands cenderung ingin melawan Trinity dengan serangan EMP. 

Untunglah pada saat-saat terakhir David berhasil meyakinkan Trinity untuk menghentikan misil-misil yang terarah ke Virginia, White House, dan White Sands sendiri. Sebagai imbalannya, David memenuhi permintaan Trinity untuk memindai dirinya dan Rachel sebagai neuromodel baru untuk menggantikan neuromodel Peter Godin, dan menjadikan neuromodel dirinya dan Rachel sebagai satu kesatuan. Meski Trinity menolak untuk menarik dirinya dari jaringan internet, setidaknya kini Trinity tidak lagi membahayakan. Trinity kedua pun dibuat dengan memasukkan Andrew Fielding sebagai neuromodel, dan Lu Li bahkan diijinkan untuk berbicara dengan Trinity kedua.

Sepintas, novel yang diklaim sebagai The New York Times Bestseller ini memang memiliki plot yang cepat dan deskripsi yang tidak rumit untuk dibaca. Bahkan saya agak mengagumi Iles karena dia memakai dua sudut pandang untuk tulisannya ini. Saat mendeskripsikan karakter David Tennant ia memakai sudut pandang orang pertama, dan saat mendeskripsikan karakter-karakter sisanya, ia memakai sudut pandang serba tahu. Namun, sepanjang pertengahan hingga ke bab-bab terakhir, sulit untuk tidak merasa terganggu dengan mimpi-mimpi dan perbincangan antara Trinity dan karakter David yang merasa dirinya adalah reinkarnasi Yesus. Meski kata "reinkarnasi" tidak dipakai di novel ini, tapi yang tersirat adalah demikian. Sekalipun di akhir cerita, neuromodel Andrew mengungkapkan (secara samar) pada David bahwa keyakinan dirinya sebagai reinkarnasi Yesus adalah salah, tetap saja jika Anda adalah seorang Kristen dan sepanjang membaca buku ini Anda harus berurusan dengan pemikiran David bahwa dirinya adalah reinkarnasi Yesus, sulit untuk tidak berpikir bahwa novel ini adalah bidah. Mungkin Iles sendiri menyadari hal ini, karena di bagian ucapan terima kasihnya untuk buku ini ia menulis, "Aku percaya kalian akan menjadikan buku ini sebagai sebuah aktivitas pikiran, dan juga tidak menghakimi dengan terlalu tajam." Ringkasnya, buku ini tidaklah terlalu menghibur untuk dibaca dan saya sukar untuk menahan diri untuk tidak berpikir bahwa "agak murahan" bagi seorang penulis sekaliber Iles untuk dengan sengaja menulis secara kontroversial demi mendongkrak penjualan bukunya. Tentu saja Iles bukannya tak menyadari hal ini, karena ia sendiri berkata, "Menulis tentang sains dan filsafat dalam sebuah novel komersial adalah problematis." 

Setidaknya, saya masih bisa menemukan beberapa kutipan yang saya sukai dari buku ini, seperti: "Jangan mencoba menyimpulkan takdir." (hlm 221), "Aku tahu itu terdengar kekanak-kanakan, tapi aku merasa aku ditakdirkan menemukanmu." (hlm 222).

Tidak ada komentar: