Translate

Total Tayangan Halaman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Selasa, 11 Maret 2014

Review Novel The Girl Who Loved Tom Gordon

Novel yang ditulis oleh Stephen King ini bercerita tentang Trisha McFarland yang setelah perceraian orang tuanya, Larry dan Quilla harus pindah dengan ibu dan kakak lelakinya, Pete yang berusia empat belas tahun dari Boston ke Maine. Trisha sendiri baru berusia sembilan tahun, menjelang sepuluh, saat di hari Sabtu itu, ia, Pete, dan ibunya berjalan-jalan di hutan. Karena Pete dan ibunya terus bertengkar dan sama sekali tidak menghiraukan dirinya, Trisha pun memisahkan diri dari mereka untuk buang air kecil. Sayangnya, Trisha berjalan terlalu jauh masuk ke dalam hutan dan meninggalkan jalan setapak. Ia mengira bisa menemukan kembali jalan setapak, namun ia malah tersesat makin dalam. Trisha pun terpaksa bermalam di dalam hutan dan berusaha bertahan hidup dengan bekal makan siangnya. 

Hari pun berganti. Trisha harus melewati kehujanan, nyaris terjatuh dari tebing, kulit lecet dan berdarah karena tergores cabang pohon, disengat lebah, digigiti oleh kawanan nyamuk, berjalan berhari-hari mengarungi sungai dan rawa, menembus hutan, terserang demam dan diare, namun tetap mencoba bertahan hidup dengan memakan fiddlehead, buah dan daun checkerberry, beechnut, ikan trout mentah, dan air sungai. Belum lagi ia merasa diawasi oleh makhluk misterius yang jejak cakarnya terlihat di kulit pepohonan yang terkelupas. Satu-satunya yang membuat Trisha belum ingin menyerah adalah pertandingan Red Sox yang didengarnya dari radio di walkman-nya dengan atlet baseball kesukaan Trisha, Tom Gordon yang setiap berhasil menciptakan save selalu menunjuk ke langit. 

Dengan keyakinan akan sifat Tuhan yang muncul di dasar inning kesembilan, hal yang dipelajarinya dari Tom Gordon (yang muncul dari halusinasinya), di hari Minggu, seminggu kemudian, Trisha yang telah tersesat sangat jauh, akhirnya berhasil menemukan jalan raya di Route 96 New Hampshire. Dalam keadaan lelah dan muntah darah akibat infeksi di tenggorokannya, Trisha akhirnya menghadapi makhluk misterius yang selama ini mengawasinya, seekor beruang, sendirian, dengan pertahanan hanya dari walkman yang dijadikannya senjata. 

Beruang yang kehilangan keseimbangan setelah dipukul Trisha dengan walkman-nya sembari meniru Tom Gordon, akhirnya berlari pergi setelah Travis Herrick, pemburu rusa liar tanpa sengaja melihat Trisha dan menembakkan senapannya ke telinga beruang itu. 

Setelah siuman di rumah sakit, masih dalam kondisi lemah karena radang paru-paru, Trisha berusaha memberitahu ayahnya dengan gerakan tangannya yang lemah bahwa ia telah berhasil menciptakan save seperti juga Tom Gordon. 

Ini adalah kali pertama saya membaca novel karangan Stephen King. Selama ini saya lebih familiar dengan film-film yang diadaptasi dari novel karangan King; meski begitu, tak pelak saya langsung menyukai tulisannya. Karakter Patricia McFarland, gadis berusia sembilan tahun yang menggemari Tom Gordon tergambarkan begitu tangguh, tabah, dan cerdas. Meski di beberapa bagian Trisha menangis ketakutan, namun dengan kecerdikannya ia melumuri kulitnya dengan lumpur untuk mengurangi rasa sakit dan gatal akibat sengatan lebah dan nyamuk. Trisha juga memaksakan diri memakan ikan trout mentah agar bisa tetap hidup. 

Di satu sisi, saya merasa karakter Trisha terlalu luar biasa, hingga tidak masuk akal untuk ukuran gadis berusia sembilan tahun untuk bisa bertahan hidup di dalam hutan selama seminggu lebih tanpa perbekalan dan penjagaan orang dewasa; di sisi lain saya merasa King agak terlalu "kejam" pada karakter Trisha dengan membuatnya jatuh terguling hingga tanpa sengaja menabrak sarang lebah dan disengat. Belum lagi di bagian akhir Trisha terbatuk-batuk hingga muntah darah, menghadapi beruang pula. Tapi, saya adalah penyuka happy ending, jadi biar sajalah, masuk akal atau tidak, setidaknya Trisha akhirnya berhasil selamat dan berkumpul kembali dengan orang tuanya yang telah berbaikan dan kakaknya, Pete. 

Lagipula, konflik yang dialami Trisha pasca perceraian orang tuanya tergambar sederhana, namun dalam; seperti saat ia mencoba terdengar gembira dan bersemangat terhadap ide jalan-jalan ibunya yang berlangsung setiap Sabtu untuk mengimbangi sikap Pete yang selalu bertengkar dengan ibunya. Di halaman 15 King menggambarkan konflik yang dialami Trisha sebagai berikut: "Dan bagaimana perasaannya terhadap dirinya sendiri akhir-akhir ini? Seperti lem yang berusaha merekatkan dua potong pecahan sebuah benda. Lem yang lemah." Juga ada sedikit humor di halaman 24, "Tolong Tuhan, kirimkan sesuatu. Rusa atau dinosaurus atau UFO. Karena kalau tidak, mereka akan kembali bertengkar." Dan kemarahan di halaman 26, "Gadis Tidak Kasat Mata, itulah aku." Dan sebuah kesimpulan, yang hebatnya sudah diletakkan di kalimat pertama novel ini, "Dunia ini bergigi dan bisa menggigitmu kapan saja ia menginginkannya."

Tidak ada komentar: