Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Selasa, 25 Februari 2014

Kopi dan Sunyi

Saya menangisi secangkir kopi yang tak tersedia saat saya sangat membutuhkannya. 
 
Saya menangisi kesendirian karena tak seperti di film, kita terkoneksi dengan orang lain hanya dengan memikirkannya. Seperti saat saya sangat menginginkan kopi enak, di kulkas hanya ada kopi bubuk yang rasanya tak semeriah kemasannya, yang untuk membuatnya saja sudah membuat semangat terbang. Dibuat hanya untuk dikutuki rasanya setelah meminumnya. 
 
Tak seperti di film, tak serta-merta seseorang menelepon saya dan menawari untuk mentraktir saya cappuccino atau vanilla latte kesukaan saya. Jadi saya merasa sendiri. Tapi, saya bersikeras ini bukan soal sepi. 
 
Saya tidak mempermasalahkan sunyi. Terkadang, terlalu banyak suara di sekeliling bisa menekan perasaan. Jadi, saya tidak keberatan dengan sunyi. Saya hanya jengkel setengah mati karena tidak ada kopi. Kurang tidur dan tidak ada kopi enak, entah bagaimana membuat emosi saya jadi tidak stabil. 
 
Saya menangisi kopi seolah ada yang mati.

1 komentar:

~ jessie ~ mengatakan...

Kopi memang bisa bikin hati terbiru-biru, Sel.. T_T