Translate

Total Tayangan Halaman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Selasa, 25 Februari 2014

Fiksi Tiga Paragraf

Aku menangis tiga kali hari ini. Pertama di kegelapan pagi yang berharap samar pada lampu-lampu aneka warna di kejauhan dan lampu temaram yang terpasang di teras rumah para tetanggaku, serta lampu jalan yang berjajar rapi di sepanjang jalan tol, lagi-lagi di kejauhan untuk sedikit memberikan cahaya. Sinar kuning temaram berpadu dengan lampu merah, kuning, biru yang agak benderang, menjadi saksi bisu ketika kutumpahkan air mataku dengan terisak-isak. Kataku kepada pagi: "Aku tidak bisa hidup tanpa harapan. Aku tidak bisa menjalani hari tanpa makna. Aku tidak sudi menjadi pesakitan, dan aku tidak bisa hidup tanpa keberartian." Tangisku hanya disambut suara tokek yang menodai kesunyian, bersahutan dengan suara burung malam, mendendangkan lagu kesendirian.

Tangisku yang kedua tumpah beberapa puluh menit yang lalu, kala kubaca tulisan seorang temanku tentang ibunya yang meninggal setahun yang silam. Betapa dia mengenang ibunya: sederhana, jujur, manis-asam, namun indah. Aku menangis bersama tulisannya. Kali ini saksi bisuku adalah layar monitor di depanku yang tegak di meja, bergeming tanpa simpati terhadap air mata dan tulisan yang kubaca itu.

Tangisku yang ketiga tumpah beberapa belas menit yang silam saat kudengarkan Carrie Underwood menyanyikan Jesus, Take the Wheel. Air mataku lagi-lagi luruh: pelan, manis, manja dari pelupuk mataku, mengusap sedikit kegusaran dan matinya asa-asaku karena harapan yang kurasa musnah, raib, lenyap, binasa, hancur berkeping tanpa sejumput keyakinan bisa kembali direkatkan. Pahit dengan manis yang tersamar, terselubung dan tersembunyi, mirip dark chocolate yang tak kusukai itu. Begitulah perasaanku saat ini.

Tidak ada komentar: